Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raydita-Yuda (nggak jelas)


__ADS_3

Apa kabar teman-teman? Semoga baik ya.


Mohon maaf lama tidak up🙏


Happy reading ....


*


Lain Raka, lain pula Raydita. Jika Raka tak acuh akan berita terkait kedekatan dirinya dengan sang Adik, Raydita justru kesulitan menutup telinga dari gunjingan beberapa mahasiswi di kampusnya.


Tidak hanya berita kedekatannya dengan Raka, beberapa juga masih mengungkit perihal Raydita yang hanya anak angkat Adisurya, bahkan berita mengenai penculikan yang sudah sangat lama berlalu pun masih ada yang membicarakannya.


"Huft. Mereka sudah seperti ibu-ibu komplek yang sedang ghibah," gumam Raydita sembari menyandarkan punggungnya di salah satu kursi yang ada di koridor kampus.


Sekilas, Raydita menatap jengah pada mereka yang melirik sambil berbisik. Tak terkecuali pada Yuda yang melangkah mendekatinya. Yuda mengerutkan kening sembari memperhatikan sekitar dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia merasa heran melihat sikap para mahasiswi itu.


"Hebat lo, Dit. Baru berapa hari di kampus udah jadi seleb aja," seloroh Yuda.


"Gue gitu lho," sahut Raydita sekenanya.


Yuda terduduk di samping Raydita dengan seringaian tipis di wajahnya. "Kenapa lo? Lagi PMS? Bad mood gitu," tanya Yuda.


"Gue kesel. Ini kampus atau apaan sih, rame pada ghibah," gerutu Raydita.


"Ya kali kuburan, sepi," ucap Yuda. Raydita mendelik pada Yuda yang seenaknya menyandarkan bahu padanya.


Yuda menatap ke sekitar. Ia menyadari lirikan para penghuni kampus yang melewati mereka. Entah sengaja atau sekedar iseng, Yuda perlahan menggerakkan tangannya ke atas dan didaratkan tepat di belakang pundak Raydita.


"Ish. Apaan sih Lo? Jauh-jauh dari gue," ujar Raydita kesal sembari mendorong Yuda. Bagaimana Raydita tidak kesal, jika Yuda justru terkekeh diperlakukan seperti itu.


"Kalau dilihat-lihat, lo cantik juga," selorohnya.


"Maksud lo, selama gue nggak cantik gitu?" tanya Raydita dengan kedua manik yang membulat.


"Cantik laah, namanya juga cewek," sahut Yuda sekenanya sambil kembali bersandar pada Raydita, namun dengan sigap ditahan oleh kedua tangan Raydita.


"Pergi nggak lo, heh?"


"Enggak. Gue nggak ada kelas, nggak ada teman juga. Jadi ya, mendingan gue sama lo," sahutnya.

__ADS_1


Raydita mendorong Yuda, kemudian menjauhkan tangannya dari Yuda yang spontan kembali berniat bersandar pada Raydita. Tapi karena Raydita sudah berdiri, Yuda terbaring di kursi sambil meringis merasakan sakit pada bagian kepala yang terkantuk pada dudukan kursi.


"Tega lo, Dit. Bilang dong kalau mau berdiri. Sssttt, aww!" ringisnya.


"Rasain, Lo. Lagian nempel-nempel, udah kaya perangko aja," delik Raydita yang kemudian berlalu menjauhi Yuda.


"Eh-eh, mau kemana? Gue ikut, Dit!" pekiknya pelan. Yuda berlari menyusul Raydita yang terlihat kesal dengan kehadirannya.


"Apa, Lo?" hardik Raydita pada seorang mahasiswi yang memberinya seringaian jijik. Raydita mengarahkan dua jari yang membentuk huruf 'V' pada matanya, lalu mata mahasiswi itu. Mahasiswi itu mempercepat langkahnya menghindari Raydita.


"Galak amat," celetuk Yuda sambil menatap langkah mahasiswi tadi.


"Bodo ah. Siapa suruh ngelihatin gue begitu. Gue juga bayar kali di sini," gerutunya.


Yuda terkekeh melihat kekesalan Raydita yang sepertinya sudah sampai di ubun-ubun. Benar saja, menyadari orang-orang yang dilewatinya sebagian besar melirik padanya, Raydita berucap dengan lantang seakan menantang siapa saja yang membicarakan dirinya.


"Lo, lo, dan lo, atau siapapun juga, jangan cuma berani ngomongin gue di belakang. Jijik gue lihat kalian bisik-bisik begitu. Kalau emang ada yang mau ditanyain, sini tanya langsung sama gue. Jangan bisanya ghibah doang," ujarnya lantang.


Yuda menatap heran sekaligus kagum pada keberanian Raydita. Gadis itu seakan tidak perduli jika nantinya akan berbuntut masalah untuk dirinya sendiri. Karena sebagian besar yang menggunjing itu adalah senior mereka di kampus.


"Cakep. Gue suka gaya lo," ucap Yuda dengan kedua ibu jari yang diacungkan. Sedangkan Raydita tak acuh dan mengedarkan tatapannya pada mereka yang mulai berlalu untuk menghindari tatapannya.


"Udah, yuk! Nggak usah baper deh. Anggap aja mereka itu netizen julid yang maha benar," ujar Yuda.


"Makanya lo punya pacar dong," sarannya.


"Ogah," timpal Raydita cepat.


"Yaa ... penonton kecewa," seloroh Yuda.


"Apaan sih? Nggak jelas banget. Ini lagi, tangan lo ngapain di sini?" Raydita menjauhkan tangan Yuda dengan kasar. Bukannya marah, Yuda justru terkekeh pelan, dan membuat Raydita menatapnya heran.


"Sekarang lo mau kemana?" tanya Yuda.


"Balik laah ke rumah. Mama nggak ada temannya," sahut Raydita.


"Katanya Raka nggak pulang ya weekend ini," ujar Yuda.


"Dia lagi PDKT sama temannya Nisa," sahut Raydita sembari mengarahkan langkah menuju tempat parkir mobil.

__ADS_1


"Hmm tinggal gue dong yang jomlo," celetuknya.


"Lo lupa, apa amnesia? Gue juga jomlo," delik Raydita.


"Oh iya, ya. Gue mendadak amnesia. Kalau gitu sesama jomlo, ayo kita nge-date," selorohnya.


"Lo nggak gila, 'kan?" cibir Raydita.


"Sepertinya jomlo ini membuatku sedikit gila," sahut Yuda seperti sedang bermonolog.


"Gila aja sendiri, nggak usah ngajak gue," decih Raydita yang kini sedang membuka pintu mobilnya.


"Hehe nggak asik dong, yang ada gue gila beneran. Eh, Dit. Gue nebeng ya," ujar Yuda sambil berjalan memutar ke bagian depan mobil Raydita.


"Lo nggak bawa motor?"


"Enggak. Motor gue dibawa Bang Yopi belanja di luar kota," sahut Yuda.


"Belanja apaan?"


"Belanja buat keperluan kafe. Katanya lebih miring kalau beli langsung di pengepulnya."


"Beli apa emangnya?" tanya Raydita yang mulai menyalakan mesin mobil.


"Biji kopi. Dia udah ada partner-nya di sana," jelas Yuda.


"Ooh. Jadi dari tadi lo nemplokin gue cuma pengen nebeng pulang," delik Raydita.


"Hehe. Boleh, 'kan sekalian ikut ke rumah Agas?"


"Mau ngapain?"


"Ya mau ketemu nyokap lo."


"Mau ngapain ketemu mama?" tanya Raydita heran.


"Mau caper sama camer," selorohnya.


"Idih. Lo kenapa sih? Nggak jelas banget," gerutu Raydita.

__ADS_1


"Hmm namanya juga usaha," gumam Yuda sembari menatap ke sekitar jalan yang mereka lalui. Raydita menyeringai dengan delikan tajam pada pria di sampingnya yang sedang cengar-cengir sendiri.


_bersambung_


__ADS_2