
Happy reading ....
*
Detak jam dinding di ruang tamu Ghaisan terdengar menggema dalam kesunyian. Annisa menatap raut wajah Ghaisan yang tenang dalam kelelapan. Meski rasa pegal mulai menjalar, Annisa tidak tega jika harus menurunkan kepala Ghaisan dari pangkuannya. Jika didengar dari dengkuran halusnya, pria itu benar-benar kelelahan.
'Nisa, mari kita menikah. Kita akan menjalani kehidupan di New York. Kamu kuliah, dan aku akan kuliah sambil bekerja.' Ajakan Ghaisan beberapa saat yang lalu menggema di benak Annisa.
Annisa menghela nafasnya berkali-kali. Mungkin saat ini Ghaisan benar-benar rapuh, sedikit perhatian sedikit saja bisa terasa sangat berharga. Tapi menikah muda? Annisa belum terpikir sampai ke sana. Masih panjang daftar keinginan yang ingin diraihnya.
Annisa membuang perlahan nafasnya. Diusapnya lembut rahang Ghaisan. Pria itu tidak terganggu meski ia sedikit menggerakkan kakinya.
"Ayah lama juga ya. Katanya sebentar," gumam Annisa.
Annisa meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Adisurya. Tak berapa lama kemudian, Adisurya membalas pesannya. Annisa terperanjat. Rupanya sedari tadi ayahnya sudah menunggu di luar rumah. Cepat-cepat Annisa menelepon Adisurya.
"Assalamu'alaikum, Yah. Tu-tunggu sebentar ya, Yah. Sebentar kok, wassalamu'alaikum." Annisa menutup panggilannya.
Annisa celingukan mencari seseorang, tapi tak ada siapapun di sana. Ia mengambil bantal sofa untuk mengganjal kepala Ghaisan. Ketika beranjak dari sofa, Annisa merasa tidak tega melihat Ghaisan yang meringkuk seperti kedinginan.
"Mmm di kamar itu, ada selimut nggak ya?" gumam Annisa sambil menatap bingung antara kamar dan juga Ghaisan. Annisa pun memberanikan diri berjalan ke kamar yang merupakan kamar tamu. Saat membuka pintu kamar dan melihat selimut yang terlipat di atas kasur. Annisa tersenyum lebar dan langsung mengambilnya.
Setelah menyelimuti Ghaisan, Annisa berpamitan dengan suara yang sangat pelan. "Kak, Nisa pulang dulu ya. Mimpi indah," ujarnya sambil mengusap kepala Ghaisan dan mencium keningnya.
Annisa bergegas ke luar rumah. Ia menghampiri pintu mobil ayahnya yang sudah dibuka dari dalam. Annisa terlihat malu dan salah tingkah. Adisurya hanya tersenyum tipis dan berpamitan pada security rumah tersebut.
"Yah, maaf sudah membuat ayah menunggu lama," ucap Annisa pelan sambil tertunduk malu.
"Nggak apa-apa, Sayang. Ayah malahan baru sadar loh kalau itu udah lebih dari satu jam. Tadi ayah dibuatkan kopi sama security yang tadi. Terus ngobrol deh, jadi nggak terasa. By the way, tadi ngapain aja? Agas nggak nganter kamu ke luar?"
"Kak Agas ... ketiduran," sahut Annisa pelan.
"Ooh," ucap Adisurya singkat.
Annisa menoleh pada Adisurya dengan tatapan bingung. "Ayah nggak marah?" tanya Annisa heran.
"Kenapa harus marah?" Adisurya balik bertanya.
Annisa tersenyum kikuk sambil menggigit bibir bawahnya dan melengoskan wajah. Sementara Adisurya mengulumkan senyuman menyadari tingkah putrinya.
Di kediaman Adisurya .... Rianti menunggu kepulangan Adisurya dan Annisa dengan gelisah di ruang keluarga.
"Papa kemana dulu sih? Tadi katanya udah mau pulang," gerutu Rianti.
Rianti mendelik pada Raydita yang menuruni tangga. Raydita yang menyadari cara Rianti melihatnya merasa kikuk. Namun tak ayal, Raydita bertanya mengenai papanya dan Annisa.
"Nisa sama papa belum pulang, Ma?"
Rianti terdiam tidak mengacuhkannya. Raydita tak 'patah arang', ia mendekati Rianti dan duduk disampingnya. Rianti menggeser duduknya, dan Raydita juga melakukan hal yang sama. Rianti hendak beranjak dari kursi, tapi Raydita dengan gerakan cepat memegang tangannya. "Ma ...," ucapnya lembut.
__ADS_1
"Ma, Dita minta maaf. Mama jangan marah lagi sama Dita ya. Dita jadi sedih," lirih Raydita dengan raut wajah memelas.
Rianti menoleh pada Raydita, lalu kembali duduk di tempatnya semula.
"Ma ...."
Rianti berdehem sambil melengoskan wajah. "Ma, i swear, itu hanya salah paham. Dita tidak bermaksud membela Tante Rika," ujar Dita.
Rianti menatap lekat pada Raydita, seakan mencari kesungguhan dari kata-katanya. Rianti mengangkat tangannya yang kemudian diletakkan di pipi Raydita. "Maafkan mama juga," ujarnya.
"Mama udah nggak marah?" tanya Raydita senang.
Rianti mengangguk pelan, dan langsung tersenyum lebar saat Raydita memeluknya sangat erat. "Thank you, Ma. I love you so much," ujar Raydita haru.
"I love you too, Sayang. Rianti mengusap-usap punggung Raydita sambil menajamkan pendengarannya. "Sepertinya, papa sama Nisa datang," bisiknya. Raydita mengangguk dan melepaskan pelukannya.
Tak lama terdengar suara Annisa mengucapkan salam. Annisa terlihat bahagia mendengar Rianti dan Raydita menjawab salam bersama-sama.
"Kalian kok lama?" tanya Rianti sambil menatap Annisa yang mendudukkan bokongnya di sofa.
"Nungguin big baby tidur dulu, Ma," sahut Adisurya setengah menyindir Annisa.
"Big baby?" gumam Rianti sambil menoleh bingung pada Raydita, kemudian pada Annisa.
"Kak Agas maksud papa?" celetuk Raydita.
Rianti mengulumkan senyum, kemudan bertanya, "Bagaimana keadaan Agas, Nisa?"
"Baik, Bu," sahut Annisa pelan.
"Ayah salut loh sama Agas. Belum sehari di sini udah bisa menyelesaikan masalah," ujar Adisurya.
"Maksud papa, masalah Rika selesai?" tanya Rianti bingung.
"Ya nggak selesai semuanya sih, tapi setidaknya anak itu mengakui kalau dia sendiri yang membujuk Rika untuk menggugurkan kandungannya. Sayangnya mau tidak mau Rika tetap harus diproses karena kasusnya sudah ditangani pihak kepolisian dan termasuk tindak pidana," tutur Adisurya.
"Hmm ya sudahlah. Mungkin ini akan menjadi pelajaran berharga bagi Rika. Lalu, yang kasus kita gimana?" tanya Rianti.
Adisurya menatap pada Raydita yang menundukkan kepala. Rianti dan Annisa juga menoleh pada Raydita, lalu kembali menoleh pada Adisurya.
"Maafkan papa, Dita. Besok, kita tes DNA ya," ujar Adisurya.
"Iya, Pa," angguk Raydita.
Rianti menatap sendu pada Raydita yang terlihat sedih. "Apa nggak bisa 'dibungkam' aja, Pa? Atau biarkan kasusnya menguap. Lama-lama juga orang di luar sana akan lupa." Rianti jadi tidak tega jika Raydita nantinya mendapat cemoohan teman-temannya di sekolah.
"Nggak apa-apa, Ma. Dita udah siap kok. Dita juga kan anak mama, jadi pantang menundukkan kepala sama mereka yang nggak tahu apa-apa," ujar Raydita.
"Kamu yakin, Dita?" tanya Rianti sambil mengusap rambut Raydita.
__ADS_1
"Yakin, Ma," angguk Raydita.
Rianti merasa cukup lega melihat raut wajah Raydita yang kembali ceria. Raydita dan Annisa bahkan berebut ingin tidur di kamar siapa.
"Lo tidur di kamar gue," ujar Raydita.
"Kamu aja yang tidur di kamar aku," timpal Annisa tak mau kalah.
"Udah, udah. Kalian tidur di kamar papa sama ayah," ucap Adisurya sambil beranjak dari kursi dengan gerakan tangan mengajak kedua putrinya.
"Papa sama ayah? Mas gimana sih?" protes Rianti.
"Ya terus apa dong, Sayang? Papa sama ibu, atau ayah sama mama?" seloroh Adisurya.
Rianti yang baru menyadarinya pun terkekeh pelan. Adisurya merengkuh pundak Annisa, sedangkan Rianti menggandeng tangan Raydita. Mereka berjalan beriringan menaiki tangga sambil bercanda.
"Nis, tadi ngapain aja sama Kak Agas?" tanya Raydita.
"Nggak ngapa-ngapain," sahut Annisa dengan raut wajah merona.
"Ah, bohong. Kissing ya?" todong Raydita.
Annisa sontak menoleh pada Raydita sambil membulatkan mata.
"Berarti benar, kan?" tebak Raydita.
"Enggak," geleng Annisa pelan dan langsung berbalik saat menyadari Raydita sengaja menggodanya.
"Huu, belajar bohong ya sekarang," imbuh Raydita sambil menahan tawa melihat Annisa salah tingkah.
"Sstt, udah ah. Maklumin aja ya, Nisa. Biasa ... kalau jomlo itu emang selalu kepo," seloroh Rianti.
"Iih mama gitu deh," protes Raydita manja.
"Memang benar, kan? Makanya punya pacar, biar nggak kepo," ujar Rianti.
"Iya, iya. Nanti Dita cari pacar. Terus, Dita kenalin sama mama. Sekalian, bawa hantaran nikahan. Puas?" tanya Raydita dengan penekanan pada kata yang diucapkannya.
"Yee ya jangan langsung nikah, Dita. Enggak ah, nanti aja nikahnya. Mama nggak mau. Nggak kamu, nggak Nisa. Nggak ada yang boleh nikah muda. Puas-puasin dulu masa remaja kalian. Pendidikan, hangout, atau apa aja deh. Kalau perlu keliling dunia," protes Rianti.
"Kak Ehan gimana? Bukannya dia mau nikah muda sama Isti?" tanya Raydita.
"Ehan kecuali deh. Mama juga takut mereka kebablasan kalau udah begitu," sahut Rianti.
"Hmm ... nggak adil. Iya kan, Nis?"
Adisurya mengulumkan senyum mendengar obrolan Rianti dan Raydita. Adisurya mendekatkan kepala Annisa, lalu menciumnya. Annisa memaksakan senyum pada Adisurya setelah apa yang baru saja didengarnya.
_bersambung_
__ADS_1