
Happy reading ....
Keputusan telah diambil seiring hujan yang tak kunjung reda. Sebuah kamar kosong juga telah mereka sewa. Satu dari kamar empat kamar yang berjejer rapi di belakang rumah itu.
“Ada kamar kosong yang lainnya nggak, Pak? Kami belum menikah, masa iya tidurnya satu kamar,” ujar Raka dengan raut bingung.
“Nggak ada. Tinggal satu yang kosong. Satu kamar juga nggak pa-pa laah. Jangan lupa dikunci dari dalam ya,” pesan pemilik kedai kopi tersebut.
Belum sempat Raka menyahut, pria paruh baya itu berlalu meninggalkan mereka yang sepertinya tak punya pilihan lain selain menginap di sana.
Kamar itu tidak terlalu luas. Hanya ada sebuah ranjang super single size, sebuah nakas, dan kamar mandi.
“Kamu lapar nggak?” tanya Raka sambil meletakkan kunci motor di atas nakas.
“Nggak terlalu sih, Kak. Kak Raka belum makan ya?” Yuli balik bertanya. “Bisa pesan mie rebus nggak ke bapak tadi?” imbuhnya bertanya.
“Aku coba tanya dulu.” Raka keluar rumah itu dan hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk sampai di kedai.
“Ada apa, Mas?” tanya pemilik kedai.
“Bisa pesan mie rebus nggak, Pak?” tanya Raka.
“Bisa.”
“Mie rebus, dua. Sama teh tawar hangatnya ya, Pak.”
“Iya, Mas.”
Raka kembali lagi ke kamar, dan tatapannya langsung tertuju ke kamar mandi ketika tak menemukan Yuli di dalam kamar itu. Tak berselang lama, Yuli keluar dari kamar mandi. Bersamaan dengan itu, Raka melihat seorang wanita muda mengantarkan pesanannya.
“Pesanannya, Mas.”
“Terima kasih.”
“Mangkuk sama gelasnya kalau udah ditaruh di luar aja.”
“Oh, oke.”
Wanita itu tersenyum malu-malu saat hendak berlalu, dan cukup membuat Yuli yang melihatnya merasa cemburu.
Raka membawa nampan berisi dua mangkuk mie rebus dengan toping telor ceplok, dan dua gelas teh panas di dalam mug ke dalam kamar. Satu kakinya digerakkan untuk menutup pintu kamar itu.
“Kak, pintunya nggak dibuka dikit?” tanya Yuli. Sepertinya Yuli tak ingin ada yang berprasangka buruk tentang mereka.
Setelah meletakkan nampan di lantai, Raka membuka kembali pintu kamar itu. Di saat yang bersamaan, ponsel Yuli berdering. Yuli terlihat bingung setelah melihat siapa yang menelpon. Jari telunjuknya refleks diletakkan di tengah bibir ketika Raka hendak bertanya tentang siapa yang menelpon.
“Halo, Nis.”
“Assalamu’alaikum ….”
“Wa’alaikumsalam. Ada apa, Nis?” Yuli terlihat mencoba untuk tak gugup dan bersiap dengan alasannya.
“Yul. Kamu sekarang di mana? Kecegat hujan nggak? Kak Raka jemput pakai mobil ‘kan? Kalau jemputnya pakai motor sherlock ya, aku jemput.” Dari nada suaranya, Annisa sepertinya sedang mengkhawatirkan Yuli.
__ADS_1
Yuli terlihat ragu untuk menjawab. Sesaat ia menatap Raka yang juga sedang menatap padanya. Kemudian memperhatikan ke sekeliling kamar yang sudah dibayar sewanya untuk satu malam.
“Yul.”
“I-iya, Nisa. Ke-kenapa?”
“Loh, kok kenapa? Aku nanya, kamu di mana? Kehujanan nggak?” ulang Annisa.
“Oh itu, maaf aku nggak fokus. Nggak usah, Nis. Aku masih di rumah. Tadi langit udah gelap, jadi kuminta Kak Raka jemputnya besok aja,” ucap Yuli berdusta.
“Oh, ya udah kalau gitu. Kukira kamu di perjalanan. Besok langsung ke rumahku ya.”
“Oke, siap.” Setelah saling berbalas salam, panggilan pun diakhiri.
Yuli tersenyum masam pada Raka yang menahan kekehan. Pria itu menepuk tempat kosong di sampingnya sambil berkata, “Makanlah dulu. Nanti mie-nya nggak enak.”
Yuli duduk bersila di dekat Raka. Ia sangat malu karena Raka mengetahui kebohongannya pada Annisa.
Cuaca dingin memang cocok jika disandingkan dengan mie kuah dan teh yang hangat. Semilir angin yang masuk melalui celah pintu menambah dinginnya lantai yang mereka duduki.
“Nisa bilang apa?”
“Katanya besok langsung ke rumahnya,” sahut Yuli yang kemudian terkekeh melihat tingkah Raka. “Kak Raka lapar banget ya? Nih punya aku masih ada,” ujarnya sambil menahan tawa melihat Raka nyeruput sisa kuah langsung dari bibir mangkuk.
“Nggak juga. Sayang aja kalau dibuang,” sahut Raka asal.
“Beneran nggak mau?”
“Enggak, Sayang. Aku mau ngerokok.”
Raka tersenyum tipis, kemudian merogoh saku jaketnya untuk mengambil bungkus rokok dan juga pemantik. Disulutnya rokok itu dan seketika asap mengepul di hadapannya wajah Raka.
Di sisi lain, diam-diam Yuli memperhatikan Raka. Wajah pria itu memang tak setampan Rayhan dan Ghaisan, tapi kepriabadiannya yang mudah bergaul dan menyenangkan jadi nilai tambah tersendiri selain dari segi materi.
“Dor! Apa sih ayang? Senyum-senyum sendiri sambil merhatiin aku. Cinta ya? Udah dari dulu kali ah,” seloroh Raka sambil mencolek dagu Yuli.
“Siapa yang cintanya dari dulu?”
“Aku. Emangnya kamu enggak dari dulu? Terus dari kapan?” Raka balik bertanya.
“Dari Kapan ya? Udah lupa, hehe ….”
“Kalau udah lupa, jangan diingat-ingat. Ntar yang ada bukannya ingat kapan mulai cinta sama aku, eh malam ingat mantan. Kacau ‘kan ya?”
“Siapa juga yang punya mantan. Bapak orangnya tegas, Kak. Aku nggak berani pacaran.” Yuli membereskan bekas makan mereka, kemudian diletakkan di luar kamar. Setelahnya ia naik ke ranjang dan menyelimuti kakinya yang sudah memucat.
“Hiii dingin,” gumamnya sembari menggosok telapak kaki dengan selimut.
“Nggak dingin, Kak?”
“Ya dingin laah, Sayang.”
“Kak. Kita tidur dempetan gini?” tanya Yuli sambil memperhatikan luas kasur yang diperuntukkan hanya untuk satu orang.
__ADS_1
“Ya mau gimana lagi? Emang kamu tega kalau aku tidur di lantai?” tanya Raka yang ditanggapi gelengan pelan oleh Yuli.
Raka pun berdiri untuk membuang puntung rokoknya, kemudian menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Seperti halnya Yuli, tempat selanjutnya yang dituju adalah ranjang.
Yuli refleks bergeser untuk memberi ruang pada Raka. Ia juga menyelimuti ujung kaki Raka yang mana telapaknya juga memucat seperti telapak kakinya, Yuli pun kemudian berbaring sambil berkata, “Aku tidur duluan ya, Kak.”
Raka mengangguk pelan, dan membiarkan Yuli meringkuk membelakanginya. Pria itu merapikan posisi selimut untuk memastikan kekasihnya tidak kedinginan.
“Jaketku pakai ya,” tawarnya.
“Aku juga ‘kan pakai jaket, Kak. Nanti Kak Raka bisa masuk angin loh kalau nggak pakai jaket.”
“Ya nggak pa-pa. Asalkan jangan kamu aja yang masuk angin,” sahut Raka dan berhasil menghadirkan rona merah di wajah Yuli.
“Nggak ah.”
Menit demi menit pun berlalu, dan Raka mulai bosan hanya bertemankan suara hujan yang sesekali diselingi gemuruh yang menggelegar. Ia pun meletakkan ponsel yang sebelumnya dimainkan di atas nakas, kemudian berbaring sambil sesekali melirik pada Yuli.
Lima menit, sepuluh menit, sampai tiga puluh menit, rasa kantuk itu tak kunjung datang. Malam yang semakin dingin justru menghadirkan rasa lain dalam imajinasinya yang mulai liar.
Raka melingkarkan tangannya di pinggang Yuli. Reaksi Yuli yang terkejut menandakan wanita itu masih terjaga.
“Kau belum tidur?” tanya Raka.
Yuli beringsut dan menelentangkan badannya. Sambil melirik Raka, Yuli menyahut, “Dingin begini mana bisa tidur, Kak. Mana selimutnya tipis.”
“Kalau gitu sini, peluk aku. Siapa tahu bisa saling menghangatkan,” seloroh Raka.
Yuli tersenyum malu. Namun rasa dingin membuatnya memberanikan diri memeluk Raka dalam posisi seperti itu. Akan tetapi, pelukan itu justru mendatangkan desiran yang tak biasa.
Yuli merasa dadanya berdebar tak karuan. Ia juga mulai merasa gelisah, apalagi saat Raka memiringkan badan dan menghadapkan wajah. Hembusan napas yang menyapu wajah, seperti sebuah aroma yang menggugah.
Perlahan jemari Raka mengusap wajah Yuli. Meski itu hal biasa, dalam suasana berbeda rasanyanya pun jadi tak biasa. Sorot mata Raka yang mulai sayu, berbanding lurus dengan napasnya yang mulai menggebu.
Raka mengarahkan bibirnya pada bibir Yuli. Pria itu meraup bibir kekasihnya dengan bernafsu. Semakin lama, pagutan bibir mereka semakin dalam. Dan perlahan rasa dingin itupun mulai samar seiring gerakan tangan Raka yang liar.
Dua insan yang sudah terbalut gairah itupun mengikuti napsu. Perlahan tapi pasti keduanya saling menanggalkan pakaian, dan pada akhirnya membuat Yuli ‘menanggalkan’ kehormatannya.
Sesal terlihat hanya diawal pergumulan, karena lagi-lagi napsu yang menguasai ranjang. Saat rint*han kenikmatan mulai terlepas dari bibir yang semula bungkam, permainan pun tak lagi sebatas kekhilafan, tapi kini jadi sebuah ambisi untuk saling memuaskan.
Dan di akhir ‘permainan’ …, keduanya terdiam.
Permintaan maaf tak lagi dibutuhkan, karena nyatanya mereka saling menginginkan.
“Yul. Aku akan bertanggung jawab. Kita akan menikah secepatnya,” ucap Raka lirih sembari menatap wajah Yuli yang kehilangan gairahnya.
Yuli membisu, dan mendorong tubuh Raka agar melepaskan ia dari kungkungan pria itu. Setelahnya, ia kembali ke posisi semula, meringkuk sambil membelakangi Raka.
Yuli mencoba untuk terpejam, namun seketika wajah orang tuanya melintas dalam ingatan. Cepat-cepat ia membuka mata yang seketika berkaca-kaca. Yuli tak berani dengan sengaja memejamkan mata. Ia belum siap mendapatkan amukan dari ayahnya bahkan jika itu sekedar bayangan.
“Pak. Maafkan Yuli. Bu … maaf, Yuli khilaf,” sesalnya dalam hati . Yuli membiarkan cairan bening keluar dari ujung matanya yang masih terbuka. Menyesal pun percuma, karena semua terjadi dalam kesadaran sepenuhnya.
_bersambung_
__ADS_1