
Happy reading ....
Menjelang pukul lima, Raka dan Ghaisan pun berpamitan. Mereka meninggalkan kediaman Adisurya dengan mengendarai motor masing-masing.
Motor yang dikendarai Ghaisan memasuki rumahnya. Mendengar suara motor putranya, Rika yang juga baru tiba dari klinik, membalikkan badan untuk menyambut di teras.
"Kok baru pulang, Sayang? Dari mana?"
"Dari rumah Om Adi, Ma. Mama baru pulang?" Rika mengangguk.
Baru saja mereka akan masuk ke dalam rumah, sebuah taksi berhenti di depan rumah. Rida datang sambil menarik kopernya.
"Hai, Sayang! Jam segini kamu masih pakai seragam? Baru pulang?" Tanyanya.
"Iya, Tante. Agas ke dalam dulu ya."
"Oke. Mbak juga baru pulang?"
"Tumben kamu ke luar kota cuma sehari. Sepertinya nggak happy gitu. Mbak penasaran, kamu sama siapa sih kalau pergi-pergi?"
"Sama teman-teman dong, Mbak. Teman arisan, teman bisnis, ya pokoknya teman deh." Dustanya.
"Teman bisnis, bisnis apa?" delik Rika.
"Bisnis investasi dong. Jadi nggak usah capek kerja, dapat hasilnya. Pinter kan?" sahut Rida dengan raut yang kesal.
"Bi! Bawakan koper saya ke atas!" Pekiknya. Rida dan Rika berjalan iringan meniti tangga menuju lantai dua rumah itu. Ponsel Rida berbunyi, namun diabaikan pemiliknya.
"Angkat telponnya," ucap Rika yang berjalan di belakang Rida.
"Nanti aja lah, palingan juga nggak penting."
Ponsel itu kembali berbunyi. Mau tak mau Rida merogoh ponselnya dan berdecih saat melihat nama yang tertera.
"Sandy, apa yang kamu inginkan? Untuk apa kamu meneleponku?" Tanyanya ketus sembari melangkah ke balkon.
__ADS_1
"Sudah sampai, Sayang?" tanya Sandy di ujung ponselnya.
"Bukan urusan kamu. Dengar ya, urusan kita sudah selesai. Jangan lagi menghubungiku." Tegasnya.
"Oke, kalau kamu tidak mau aku menelepon. Aku akan datang sendiri ke rumah kakakmu. Mmm Dokter Rika kan?"
"Apa maksud kamu, heh? Jangan membuatku marah," geram Rida dengan tangan yang mengepal.
"Hoo, aku justru suka melihatmu marah. Kau menggemaskan saat marah, Rida. By the way, apa kabar anak itu? Pasti sudah besar ya. Boleh dong sekali-kali aku bertemu anak yang pernah kau akui sebagai anakku. Siapa tahu dia benar anakku. Kalau perlu kita tes DNA untuk memastikannya."
"Heh, apa yang kamu pikirkan setelah kamu menolak mengakuinya? Apa menurutmu aku akan dengan senang hati membesarkannya? Tidak. Aku menggugurkannya, dengar itu laki-laki br*ngsek! Jangan pernah menghubungiku lagi, atau aku akan menghancurkan keluargamu." Desisnya, lalu memutus panggilan.
Rida mengepal erat ponselnya. Ia merutuki diri karena telah memberikan nomernya pada Sandy. Dasar pria licik, dia sengaja mengancam akan membuat Raksa mengetahui semuanya hanya untuk mendapatkan nomer ponselnya.
Anak? Heh. Rida bersyukur anak itu meninggal beberapa menit setelah dilahirkan. Itulah yang dikatakan Rika-kakaknya saat ia tersadar. Jika tidak, Rida tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya saat ini.
Tapi ... Rida menundukkan kepala sambil memejamkan matanya. Mencoba menahan perasaan yang ia pendam selama ini.
Sementara itu, Rika menutup pelan pintu kamarnya. Langkahnya terhenti saat mendengar nama Sandy.
Dulu ....
Sandy, pria beristri yang telah memiliki satu orang anak. Hanya nama itu yang ia tahu. Rika tidak pernah bertemu langsung dengan pria br*ngsek itu. Sejak saat itu, Rika selalu berburuk sangka pada setiap pria yang bernama Sandy.
Lalu, apa ini? Rida kembali berhubungan dengan pria itu? Dan apa maksudnya tadi, apa pria itu menanyakan anaknya?
"Kau pernah tidak mengakui anak itu. Jangan mimpi akan bisa bertemu dengan dia. Sampai kapanpun, aku akan merahasiakan keberadaannya darimu, ah tidak. Bukan hanya darimu, tapi dari kalian. Aku tidak rela, Dita punya ayah b*jingan sepertimu," geram Rika.
***
Malam kian hening, hanya sesekali terdengar deru mesin motor di kejauhan. Annisa terbangun dari tidurnya. Entah mengapa malam ini ia tak bisa tidur dengan nyenyak.
Ada yang berbeda dari Bu Rianti. Sikapnya siang tadi membuat hati Annisa merasa nyaman, meskipun wanita itu lebih banyak diam.
Tak ada hardikan, mungkin karena Ayah Adi ada di sana. Juga kedua teman Rayhan. Tidak mungkin Bu Rianti memarahinya di depan mereka.
__ADS_1
Namun ada yang mengusik hati Annisa.
"Jika benar aku anak Ayah Adi dan Bu Rianti, lalu Raydita anak siapa? Tidak mungkin kami kembar. Dilihat dari segi manapun, kami jelas berbeda." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Annisa kembali memiringkan badannya dan memeluk bantal guling. Terlalu banyak tanya dalam benaknya dan membuat ia kesulitan untuk kembali terlelap.
"Lalu, almarhumah ibu siapa? Bagaimana bisa aku tinggal dengan ibu? Apa aku dibuang, seperti di sinetron-sinetron itu? Ya, mungkin saja. Ibu menemukanku, lalu membesarkanku. Bu, seandainya ibu masih ada, apakah jalan hidup Nisa akan tetap seperti ini? Kalaupun iya, setidaknya ada ibu yang bisa menjawab semua pertanyaan itu."
Nisa menghela nafasnya, dan terduduk sambil memeluk gulingnya.
"Apa yang akan terjadi nanti jika mereka tahu aku putri keluarga ini. Bagaimana dengan Raydita? Dan, Bu Dokter ... kenapa tidak ingin Bu Rianti mengetahui kebenarannya? Apa mungkin ayah selingkuh, dan Dita itu anak ayah dengan Bu Dokter? Aah, aku jadi suudzon." Annisa mengacak kasar rambutnya, lalu turun dari tempat tidur.
Di kamar lain, hal serupa dirasakan Rianti. Ibunda Rayhan itu terbangun dari mimpi. Dalam mimpinya, ia mendapati Raydita menangis di sudut kamar, sesaat setelah melihat tawa bahagia dua anaknya yang bercanda dengan Adisurya.
Rianti merasakan dilema. Hatinya tidak bisa memilih diantara dua. Jangankan untuk memilih, ia bahkan tidak ingin kebenaran itu terungkap.
"Dita, jadi dia putrinya Rida. Keponakan Rika, dan sepupunya Agas. Lalu siapa ayahnya? Setahuku, Rida belum pernah menikah sampai saat ini," gumam Rianti dalam hatinya.
"Nisa ... ah, kenyataan apa ini? Anak itu ...."
Rianti mengusap kasar wajahnya. Bayangan sosok Annisa yang lusuh melintas dalam benaknya.
"Selama ini dia hidup menderita, dan aku telah menambah penderitaan sejak datang ke rumah ini. Oh My God! Apa yang telah kulakukan. Secara tidak langsung aku sudah menolak kehadirannya lagi. Aku harus bagaimana?"
Rianti mengacak kasar rambutnya dan turun dari tempat tidur. Ia merasa penat dengan pikirannya sendiri. Ditatapnya Adisurya yang terlelap. Haruskah ia merasa lega karena suaminya kini bisa tidur dengan nyaman?
Sebelumnya, Ia sering mendapati Adisurya terhenyak dari mimpi. Namun pria itu tidak pernah mengatakan perihal mimpi yang mengganggu tidurnya.
Rianti menghela nafas dan berjalan ke pintu balkon. Sebentar saja, ia ingin menikmati udara dini hari dan berharap bisa menghilangkan penat di kepalanya.
Rianti tertegun melihat kamar Annisa yang berada di bangunan samping menyala.
"Apa anak itu belum tidur?" pikir Rianti.
Rianti terkesiap melihat jendela kamar itu ada yang membukanya. Terbuka sedikit, dan diantara sela gorden itu, ia melihat wajah Annisa yang menopang dagu.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan malam-malam begini? Atau, dia sering melakukannya? Apa dia sedang merindukan ibunya? Ibunya? Bukankah itu aku. Tapi, tidak mungkin. Bagi anak itu, ibunya sudah tiada. Kalau dia tahu aku ini ibunya, apa dia akan membenciku? Lalu, kalau dia membenciku, aku harus bagaimana? Bagaimana dengan Dita, bisa saja dia juga membenciku. OMG, aku harus bagaimana? Tidak, tidak. Tunggu, sebentar saja. Jangan tutup dulu jendelanya."
_bersambung_