Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
makan siang yang tertunda


__ADS_3

Happy reading...


🌿


Matahari kian meninggi, namun mereka belum juga kembali. Annisa yang baru saja selesai melaksanakan salat dzuhur, mengusap-usap perutnya yang mulai terasa perih. Pagi tadi ia hanya memakan sepotong roti, itupun setelah Rayhan dan teman-temannya pergi.


"Mereka pulang jam berapa? Hmm, aku lupa tidak membawa uang. Ada mie instan juga kalau nggak ada api mau bagaimana memasaknya?" gumam Nisa.


Percuma merutuki diri jika sudah terlanjur terjadi. Ditatapnya nanar dua mie instan berwadahkan styrofoam yang diselipkan Bi Marni ke dalam ranselnya.


Tidak ada korek untuk menyalakan api. Alhasil, Annisa mencoba untuk bersabar sebentar lagi.


"Semoga mereka cepat pulang," gumamnya.


Waktu terus berlalu, dan Nisa masih menunggu. Annisa yang saat ini sedang menjalankan salat ashar, semakin merasakan perutnya yang lapar.


"Assalamu'alaikum warahmatullah ..."


Setelah salam terakhir dalam salatnya, Nisa menoleh ke arah beberapa bangunan di pinggir jalan.


"Itu sepertinya warung. Boleh tidak ya, kalau aku minta air panas untuk menyeduh mie?" gumamnya ragu.


"Ah, coba saja dulu. Aku yakin mereka orang baik, kan cuma air."


Annisa beranjak dan berjalan ke arah warung itu sambil membawa satu mie dengan antusiasnya. Sesampainya di tempat yang dituju, keraguan mulai menghinggapinya.


"Mau beli apa, Neng?" tanya pemilik warung ramah.


"E ... anu, Bu. Saya, mau minta air panas," ujarnya pelan sambil menyodorkan mie miliknya.


"Oh, untuk bikin mie. Boleh atuh, Neng. Sini, ayo masuk! Kalau cuma air panas mah banyak. Tuh, ada tiga termos. Kan buat yang beli kopi," tuturnya.


"Terima kasih, Bu."


"Neng sedang kemping ya?" tanyanya, dijawab anggukan kecil oleh Annisa.


"Mau tambah nasi, Neng? Biar kenyang. Ini juga ada sisa lauk makan siang. Coba kalau dari tadi Eneng ke sininya, bisa makan siang bareng sama ibu."


"Tidak usah, Bu. Kalau minta nasinya saja boleh? Biar kenyang, hehe."


"Boleh ... boleh." Sahutnya sambil menyodorkan wadah nasi.


"Sekali lagi terima kasih, Bu."


"Sama-sama, Neng. Makan yang kenyang ya. Ibu mau ke depan dulu."


Annisa tersenyum tipis. Hatinya sangat bersyukur dipertemukan dengan ibu pemilik warung berhati baik tersebut.


Sementara di tempat lain...


Rayhan, Raydita, dan kedua teman mereka sedang asik menikmati permainan outbound. Dita bahkan histeris saat mencoba flying fox.


"Ah, cemen Lo, Dit. Naik begituan aja sampai gemeteran," ejek Raka.


"Kalau sampai Dita jantungan, memangnya Kak Raka mau tanggung jawab," sahutnya kesal.


"Udah ah. Ayo kita balik!" ajak Ghaisan.


"Iya. Ayo, Kak. Pulang ..." rengek Dita pada Rayhan.


"Iya ... iya, ayo!" sahut Rayhan datar.

__ADS_1


"Oke, deh. Mau beli apa buat nanti malam. Malam terakhir harus spesial kan?" tanya Raka.


"Beli ikan aja, gimana?" usul Rayhan.


"Mantap juga ide Lo, Ray. Yuk ah, bungkus."


"Apaan yang dibungkus? Memangnya ada ikan di sini?" delik Dita.


"Ada dong, Sayang."


"Ish. Sayang pala Lo peyang," decihnya.


Raka tertawa saat kepalanya ditoyor oleh Rayhan. Mereka pun berlalu mencari penjual ikan yang dituduhkan penjual nasi tempat mereka makan siang tadi.


"Eh, Gas. Mau ke mana, Lo?" tanya Rayhan.


"Duluan deh, gue mau ke toilet." Ujar Agas.


"Nyusul ya."


"Oke."


Ghaisan berlalu memisahkan diri dari teman-temannya menuju toilet yang berada di samping warung penjual nasi.


"Bu, nasinya dibungkus satu ya." Pintanya.


"Iya, Den. Mau sama apa lauknya?"


"Apa ya? Kira-kira dia suka apa?" gumam Agas.


"Apa saja deh, Bu. Ini, ini, terus ini juga."


"Sudah, Den?"


"25 ribu saja."


"Oh iya, air mineralnya satu. Jadi berapa?"


Setelah membayar, Agas memasukkannya ke dalam ransel kecil yang dibawanya. Pria muda itu pun menyusul teman-temannya.


***


Senja mulai menyapa, saat Adisurya memutuskan untuk menyusul anak-anak ke tempat kemah. Senyumnya merekah manakala menatap bahan pangan yang dibawanya.


"Hmm, malam ini kita ber-barbeque-ria. Nisa pasti suka," gumamnya. Rasanya sudah tidak sabar ingin melihat wajah ayu anak itu.


Di tempat kemah, tiga pasang mata menatap horor pada nasi bungkus yang diberikan Agas pada Nisa. Meskipun Agas memberikannya dengan cara yang kasar, tetap saja mereka merasa aneh.


Ghaisan bersikap baik pada seseorang? Itu pemandangan yang langka.


"Nggak salah, Gas?" tanya Raka mengernyitkan keningnya.


"Heh, oke juga usaha Lo." Ujar Rayhan.


"Gue kan udah bilang, gue mau mobil Lo, Ray." Sahut Agas sambil berlalu.


"Mobil? Maksudnya apa sih, Kak?" tanya Dita bingung.


"Oh ... jadi ini tentang itu. Ish, kok gue b*go ya? Nggak ingat sama sekali."


"Baru nyadar Lo, selama ini b*go?" Kelakar Rayhan, yang disambut kekehan oleh Agas.

__ADS_1


Tidak perduli dengan ucapan Rayhan, Raka mendekati Annisa.


"Mau sesuatu lagi nggak, Nisa? Kakak siap membantu," tawarnya.


"Enggak, Kak Raka. Terima kasih. Oh iya, tolong sampaikan terima kasih Nisa pada Kak Agas," sahutnya.


"Kenapa harus aku? Kamu bilang saja sendiri pada Agas," deliknya.


"Baiklah. Permisi ..."


"Eits, tunggu. Biar aku aja yang bilang. Kamu makan aja ya," cegah Raka dengan senyum yang dipaksakan.


"Heh, jangan ge-er kamu ya. Mereka baik karena kasihan sama g*mbel seperti kamu. Lagian juga itu pasti makanan sisa," delik Dita.


Annisa hanya mengangguk pelan dan menatap langkah Dita yang berlalu meninggalkannya. Kedua maniknya berbinar menatap lauk dalam bungkusan nasi itu.


Nisa memang sudah makan mie instan plus nasi tadi. Tapi tetap saja ia belum kenyang karena malu bila harus meminta nasi lebih pada ibu pemilik warung.


Di tatapnya sekilas Agas yang sedang mempersiapkan api unggun. Senyum tipis tersungging di wajahnya yang manis.


"Terima kasih, Kak," gumamnya.


"Woy, Upik Abu! Cepetan makannya! Lo harus bersihin ikan-ikan ini," seru Dita.


Lagi-lagi Nisa hanya bisa tersenyum. Namun kali ini entah mengapa ia merasa senang dan dengan lahapnya menyuapkan makanan.


Ia tidak menyadari, diam-diam Agas menyeringai tipis menyaksikan Nisa yang seperti orang kelaparan. Raut wajahnya yang datar, sulit untuk diartikan.


Di sisi lain, Adisurya memarkirkan mobilnya di tempat yang memang biasa dijadikan tempat parkir bagi orang-orang yang kemah di sekitar tempat itu. Berbekal petunjuk dari Mang Asep, Adisurya menyusuri jalan diantara pohon teh dengan hati-hati.


"Anak-anak sedang apa ya?" gumamnya menatap jauh ke tempat tujuannya.


Adisurya mempercepat langkahnya, mengingat sebentar lagi mulai gelap. Dua box berisi bahan makanan dijinjing di kedua lengannya.


Setelah sepuluh menit ia berjalan, Adisurya merasa lega saat melihat tenda di hadapannya. Namun keningnya berkerut melihat anak laki-laki yang tidak dikenalnya.


"Kamu siapa? Di mana Rayhan dan teman-temannya?"


"Rayhan?" gumam anak itu sambil menoleh pada temannya.


"Apa Rayhan itu pacar Nisa?" tanya teman anak itu yang tak lain adalah Yuda.


"Pacar? Bukan. Dia kakak Annisa. Kamu kenal anak saya, Nisa?"


"Oh, maaf. Saya kira pacarnya. Tenda mereka di sebelah sana, Pak." Tunjuk Yuda.


"Terima kasih ya," ucap Adisurya dengan senyumnya.


"Sama-sama," angguk Yuda.


"Nisa, siapa? Yang kamu panggil tadi siang, Yud?"


"Iya, Bang. Syukur deh bukan pacarnya. Tapi kok aneh, waktu Nisa tidur tadi malam, dia menatap lekat sambil tersenyum. Seperti seseorang yang diam-diam menyukai. Hmm, jadi penasaran," gumam Yuda.


"Udah deh nggak usah kepo. Kamu nggak akan ketemu dia lagi."


"Hehe, iya juga ya. Tapi mungkin yang namanya Rayhan bukan dia. Bisa jadi dia memang pacarnya," gumam Yuda.


"Dibilangin udah, nggak usah kepo. Sana bantuin si Juna, dari tadi nggak nyala-nyala." Titahnya sambil menoyor kepala Yuda.


"Iya, Bang." Sahut Yuda yang sekilas menatap bapak yang tadi mendatangi mereka.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2