Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rida-Raydita (bagian 2)


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Rida kemudian menyadari pertanyaannya membuat ekspresi Raydita berubah. Ia pun segera meminta maaf.


"Maaf, Sayang. Tante tidak bermaksud-."


"Tidak apa, Tante. Mungkin seharusnya Dita tidak datang ke sini. Tapi sejujurnya, setelah banyak yang Dita dengar dari Tante Rika, Dita ingin mendengarnya dari Tante juga. Kata mama, semua orang pasti pernah salah. Dan tentunya akan lebih baik jika diberi kesempatan kedua untuk memperbaikinya."


Rida menundukkan kepalanya, lalu berkata, "Makanlah dulu. Oh iya, hari ini kamu ujian juga, kan?"


Raydita mengangguk pelan sambil mulai menyuapkan makanan.


"Bagaimana, bisa?" Sekali lagi Dita mengangguk.


"Tante. Tolong ceritakan semuanya sekarang. Dita tidak bisa lama-lama di sini," ujar Raydita.


"Kamu harus belajar ya? Mmm apa yang ingin kamu ketahui, Dita?" tanya Rida pelan.


"Semuanya. Dari awal sampai akhir. Tidak perduli seberapa memalukannya masa lalu itu, karena Dita lah yang harus menanggungnya seumur hidup." Tandasnya.


Rida menghela nafasnya sangat dalam sebelum ia membuka lagi lembaran cerita yang sudah usang dan hampir saja di buang. Nyatanya, keberadaan Raydita membuat Rida tidak bisa menghapus masa lalu itu sekalipun ia sangat menginginkannya.


Rida pun mulai bercerita, diawali perkenalannya dengan Sandy yang merupakan rekan sugar daddy temannya yang bernama Veli. Mereka berkenalan di sebuah club yang diam-diam dikunjungi Rida dan Veli. Ketika itu Rida beralasan menginap di rumah Veli pada Rika dan ibunya.


Perkenalan pun berlanjut. Rida tahu Sandy sudah berkeluarga. Namun gaya hidup Veli yang glamor membuat Rida menginginkan hal yang sama. Ia pun menerima tawaran menjadi sugar baby-nya Sandy. Menukar kehormatan dengan materi yang tak seberapa.


Pada awalnya semua terasa indah dan baik-baik saja. Diakui Rida, ia sangat mencintai Sandy. Sampai akhirnya perasaan itu hancur, saat Sandy meragukan dirinya yang mengaku tengah berbadan dua. Sandy menuduh bayi dalam kandungan Rida adalah benih laki-laki lain. Hal itu membuat Rida sangat frustasi dan sempat memutuskan mengakhiri hidupnya.


Karena keputusannya itulah, akhirnya Rika mengetahui Rida sedang hamil. Kakaknya itu sangat murka dan memintanya menggugurkan kandungan sebelum ibu mereka tahu.


Rida bersikeras menolak. Kalaupun harus, bayinya hanya akan mati jika ia juga mati.


Rika pun mengalah dan memintanya bersembunyi di luar negeri dengan dalih kuliah. Diakui Rida, meski ia tidak ingin mengugurkan kandungannya, bukan berarti dirinya menerima sepenuhnya kehadiran bayi dalam kandungannya itu. Terlebih saat ibunya sedang kritis. Rida merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menemani sang ibu.


Setelah ibunya meninggal, barulah Rika membolehkannya kembali. Saat itu Rida tengah hamil tua. Sampai akhirnya Rida melahirkan dan mendapat kabar bayinya meninggal setelah ia sadar dari bius total.


"Dita, tante tidak akan memaksa kamu memaafkan kekhilafan tante di masa lalu. Tante sadar sepenuhnya semua itu salah tante. Tante benar-benar minta maaf sama kamu. Tante juga akan menerima kebencian kamu karena itu memang pantas untuk tante terima." Ujarnya sembari tertunduk sangat dalam.


Raydita tertegun mendengar kisah awal dirinya ada di rahim Rida. Ia semakin membenci sosok Sandy. Tapi pada Rida, ia tidak tahu harus bagaimana.


"Sejak kapan tante sakit?" tanya Raydita lirih.

__ADS_1


"Tante baru tahu belum lama ini," sahut Rida sambil mengusap matanya dan memberanikan diri menatap Raydita.


"Kenapa tante tidak mau menjalani pengobatan?"


"Apa mamanya Agas yang mengatakannya padamu? Raydita mengangguk kecil.


"Tante sudah pasrah dan menerima ini sebagai teguran dari Tuhan," sahut Rida dengan suara yang berat.


"Kalau pasrah tidak dibarengi usaha, kata Nisa itu namanya putus asa. Dan putus asa itu dosa, Tante. Apa tante mau menambah dosa lagi?" tanya Raydita dengan ekspresi yang datar.


Rida terperanjat mendengarnnya. Ia tidak pernah menyangka Raydita akan menasehatinya.


"Apa yang harus Dita lakukan supaya Tante mau berobat. Bagaimanapun juga, Dita berterima kasih karena tante sudah mengizinkan Dita tinggal di rahim tante selama 9 bulan. Anggap saja ini balas budi."


"Dita, kamu tidak harus ...."


"Tolong mengerti Tante. Terlalu banyak hal yang harus Dita terima secara bertubi-tubi dan itu tidak mudah bagi Dita. Terutama kenyataan bahwa Om Sandy ayah biologis Dita. Dia itu jahat. Tante tahu bagaimana rasanya saat Dita mendengar kalau dia ternyata ayah Dita? Tidak ada yang akan mengerti seutuhnya, karena tidak ada yang berada di posisi Dita saat ini. Sekalipun itu Nisa," tutur Raydita sambil meneteskan air mata.


Rida tak kuasa melihat air mata di pipi Raydita. Jangankan untuk memeluk, Rida bahkan tidak berani walau hanya sekedar mengusap air mata Raydita.


Rida terlalu malu dengan kebodohan yang diperbuat di masa lalu. Ia sudah salah mengenal lelaki yang tidak pantas dicintai.


"Tante berobat ya," pinta Raydita yang sudah mengusap air matanya.


Rida memaksakan senyum dan berterima kasih. Ditatapnya lekat kedua manik Raydita dan mencari ketulusan di sana. Di usianya saat ini, Raydita akan mudah terpengaruh orang-orang yang dekat dengannya. Rida bersyukur putrinya dikelilingi orang-orang baik.


"Tante tidak ingin merepotkanmu. Belajarlah yang rajin. Buatlah papa dan mamamu bangga. Sebagai gantinya, bagaimana kalau kamu sedang senggang kita jalan-jalan?" Rida mencoba mengubah suasana diantara mereka.


"Apa itu artinya tante mau menjalani pengobatan?" tanya Raydita ingin memastikan.


Rida mengangguk pelan sambil tersenyum. Tanpa diduga, Raydita tersenyum senang dan mengangguk-anggukkan kepala. Ekspresi Raydita itu membuat Rida sempat tak percaya Kemudian ia pun meminta Raydita meneruskan makan dan menawarkan diri untuk mengantar pulang.


***


Sementara itu di kediaman Adisurya, Annisa tidak bisa fokus belajar karena Rayhan dan kedua sahabatnya asik bermain playstation. Riuh suara mereka yang diselingi gelak tawa dan umpatan membuat konsentrasi Annisa jadi buyar.


Awalnya Rayhan bermain basket di sekolah, entah mengapa mood-nya berubah dan memutuskan untuk pulang bersama kedua sahabatnya. Setelah makan siang, mereka pun bermain game.


"Kak, bisa pelan nggak suaranya?" tanya Annisa kesal dari ambang pintu kamarnya.


"Kalau pelan ya nggak seru dong, Nis," sahut Rayhan tanpa menoleh.


"Santai aja dong, Nis. Kita aja yang kelas 3 santai. Ya, nggak?" Rayhan mengangguk cepat. Tak lama terdengar umpatan Rayhan, "Anj*y! Gue kalah lagi. Gantian ah, Lo yang main, Ka. Males gue kalah mulu dari si Agas."

__ADS_1


"Master di lawan," seloroh Ghaisan bangga.


"Master Thomas lo?" canda Raka.


"Itu Mister, Ogeb," ujar Rayhan sembari menoyor kepala Raka.


Ghaisan terkekeh, begitu juga dua sahabatnya. Akan tetapi ujung matanya mengikuti langkah Annisa yang berjalan ke ruang tamu.


"Mau kemana, Nis? Nggak boleh pergi lho kalau nggak izin," tanya Rayhan yang sudah menangkap kamana arah mata Ghaisan sedari tadi.


"Nggak kemana-mana kok. Cuma ke depan, mau nungguin Dita pulang," sahut Annisa dari ruangan depan.


"Ooh."


Rayhan menoleh saat melihat Ghaisan beranjak dan berjalan menyusul Annisa. Senyumnya terkulum, dan membuat Raka yang menyadarinya menyindir Ghaisan. "Ada yang mau PDKT nih!" serunya.


"Iri, Lo?" tanya Rayhan menggoda.


"Iri laah. Kalau Agas sama Nisa, gue sama siapa? Nggak mungkin sama Dita," sahut Raka.


"Kenapa nggak mungkin? Eh, jangan lah. Masa iya kalian berdua jalan sama adek-adek gue."


Raka boleh lega, karena ia tidak harus menceritakan hubungannya dengan Raydita pada Rayhan yang sepertinya belum mengetahuinya.


"Ah iya! Sama Isti aja. Selain alim, dia juga cantik." Ujarnya tiba-tiba.


Bugh. Raka mendapat pukulan bantal sofa dari Rayhan.


"Awas Lo kalau berani dekatin Isti,"ujar Rayhan bernada ancaman.


"Lho emang kenapa? Dia kan bukan adek Lo. Bebas dong, suka-suka gue."


"Justru karena dia bukan adek gue, Dodol."


"Ish Lo, Ray. Terus gue sama siapa dong? Masa iya sama si Yuda."


"Cocok," sahut RAyhan sekenanya.


"Sialan, Lo," umpat Raka sembari memukulkan bantal yang tadi digunakan Rayhan untuk memukul sahabatnya tersebut.


"Lo yang sialan," balas Rayhan yang mencari bantal lain untuk di lemparkan pada Raka yang menjauhinya dengan senyum mengejek.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2