Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raydita-Yuda (ditodong Rida)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Mobil yang dikemudikan Raydita menepi di halaman rumah. Rida yang sudah menunggu diteras pun tersenyum lebar menyambut kedatangan Raydita. Senyumnya semakin lebar saat melihat Yuda berjalan di belakang putrinya.


"Hai, Yuda! Apa kabar?" tanyanya riang.


"Kabar baik, Tante. Bagaimana kabar Tante?" tanya Yuda yang langsung menyalami Rida.


"Yaa beginilah seperti yang kamu lihat. Ayo, masuk!"


Yuda mengangguk dan dengan gerakan cepat menggapai pegangan kursi roda. "Nggak usah, Yud. Tante bisa sendiri kok," cegah Rida.


"Nggak apa-apa, Tante." Yuda mendorong kursi roda yang sebenarnya bisa bergerak otomatis itu.


"Terima kasih," ujar Rida.


"Sama-sama. Tan," sahut Yuda.


"Idih, beneran caper-nya," cibir Raydita dengan senyum mengejek.


"Siapa yang caper, Sayang?" tanya Rida heran.


"Yuda tuh, Ma. Dia sengaja, ke sini mau caper sama camer," sahut Raydita sembari mengarahkan langkahnya menuju tangga.


"Camer 'kan ... calon mertua. Apa Dita sama Yuda ...," batin Rida menduga-duga. Rida menoleh pada Yuda dengan senyum tipis di wajahnya.


"Silakan duduk, Yud."


Yuda mengangguk, dan Rida pun meminta perawat yang menghampirinya untuk meminta pelayan menyediakan makan siang.


"Kalian satu kampus?" tanya Rida sembari memposisikan kursi rodanya tak jauh dari Yuda.


"Iya, Tante."


"Sengaja, atau kebetulan?" selisik Rida.


"Kebetulan yang disengaja, hehe," sahut Yuda.


"Oh, ya?" tanya Rida dengan sorot mata yang menggoda.


"Hehe. Nggak kok, Tante. Becanda," kilah Yuda.


"Iya juga nggak apa-apa," ujar Rida pelan.


"Ah, Tante. Paling ngerti deh," ucap Yuda tersipu.


"Lagi pada ngobrolin apa? Senyam-senyum gitu?" tanya Raydita dari ujung tangga. Raydita melangkah menuju ruang makan dan membuka lemari pendingin untuk mengambil jus buah yang ada di sana.


"Bawa ke sini, Dita. Sekalian untuk Yuda," ujar Rida.


Tak lama, Raydita pun datang menghampiri dengan sebotol jus dan dua gelas berukuran sedang yang kemudian diletakkan di atas meja.


Raydita menuangkan jus itu ke dalam gelasnya, tapi kemudian ia melongo mendapati Yuda mengambil gelas itu saat sedang menutup botol jus itu. Yuda dengan santainya meneguk jusnya.


"Eh, Dodol. Itu punya gue, main embat aja," gerutu Raydita.


"Eh? Gue kira ini buat gue," ujar Yuda malu.


"Yee, Ge-eR," delik Raydita.


"Gue 'kan tamu, Dit. Jadi ya wajar lah kalau gue punya pikiran begitu," kilah Yuda sembari nyengir.


"Tamu dari Hongkong," gerutu Raydita sembari kembali membuka tutup botol jus, dan menuangkannya ke gelas yang lain.


"Hehe, maaf," ucap Yuda.


"Kalian ini lucu deh. Pacaran kok gayanya kaya Tom and Jery," seloroh Rida.

__ADS_1


"Pacaran? Aku sama ...." Raydita dibuat ternganga oleh ucapan ibunya. Sementara itu Yuda tersenyum tipis, dan senyumnya itu langsung memudar saat tatapannya beradu dengan tatapan Raydita yang nyalang.


"Kita nggak pacaran kok, Tante," ujar Yuda.


"Iya, Ma. Kita cuma teman," timpal Raydita.


"Cuma teman? Mama kira kalian .... Tadi kamu bilang camer itu apa maksudnya, calon mertua 'kan?" tanya Rida.


"Nggak tahu juga maksudnya apa. Yuda yang bilang begitu, Ma," kilah Raydita sambil menggaruk tengkuknya.


Rida menoleh pada Yuda yang memberinya cengiran kuda. Rida mengulumkan senyum melihat Raydita dan Yuda yang jadi salah tingkah.


"Ehhem. Ma, weekend ini aku mau ke Kak Raka ya," ujar Raydita mengalihkan pembicaraan.


"Mau ngapain?" tanya Rida dan Yuda hampir bersamaan.


Yuda tersenyum kikuk dan berucap, "Maaf, Tante."


Rida tersenyum tipis, lalu kembali bertanya pada Raydita. "Mau nagapain, Dita? 'Kan baru-baru ini kamu dari sana. Mama khawatir ah, kalau kamu terlalu sering ke luar kota," ujarnya.


"Dita nggak sendiri, Ma. Sama Annisa. Dia mau ketemu Yuli, gebetannya Kak Raka," sahut Raydita.


"Teman Nisa, pacarnya Raka?" Rida terlihat bingung.


"Belum jadi pacar, masih pendekatan," sahut Raydita yang kemudian menoleh pada Yuda. Raydita merasa heran karena Yuda tiba-tiba saja tersenyum lebar. "Kenapa, Lo?"


"Hehe. Sama," sahutnya.


"Lo apaan sih? Masih aja nggak jelas," delik Raydita.


"Jelas kok. Mama aja ngerti. Sama-sama lagi pendekatan 'kan, Yud?" tanya Rida.


"Hehe. Terbaik," gumam Yuda dengan ibu jari yang teracung mengarah pada Rida. Tanpa diduga, Rida juga melakukan hal yang sama. Ia membalas acungan dua ibu jari sekaligus pada Yuda.


Raydita mengerutkan kening dengan tatapan horor pada keduanya. Ia tidak mengerti apa yang diisyaratkan oleh Rida dan Yuda.


"Bicara apa, Ma?"


"Ada deh. Mau tahu aja," sahut Rida.


"Ponsel Dita di atas, Ma," sahut Raydita.


"Ini, punya Yuda aja Tante," tawar Yuda. Rida mengangguk, dan Yuda pun menelepon Raka dengan mode loudspeaker dan diletakkan di atas meja.


"Halo, Yud! Mau ngapain lo nelpon gue? Kangen ya?" todong Raka di ponsel Raka.


"Iya, kangen. Lo gitu sih, mentang-mentang ada yang baru jadi lupa sama gue," seloroh Raka sembari menahan senyumnya.


"Yang baru, siapa?" tanya Raka bingung.


"Katanya teman Nisa," sahut Yuda.


"Ooh, Yuli," ujar Raka.


"Ka, bawa dong calonnya ke sini. Mama juga 'kan mau ketemu." Raka seketika terdiam mendengar suara Rida yang mulai menyebut dirinya 'mama'. Sementara itu, Raydita nampak senang mendengarnya.


"Hehe. Raka kira cuma ada Yuda. Nggak tahunya ada Ma-ma juga," ujar Raka yang terdengar masih ragu menyebut Rida dengan panggilan barunya.


"Nggak cuma Mama, aku juga ada," imbuh Raydita.


"Yuda ada di rumah? Tumben. Ngapain?" tanya Raka.


Sebelum Yuda menjawab, Rida sudah mendahuluinya. "Mau caper sama camer, Ka," ujarnya. Seketika Yuda merona dan salah tingkah.


"Canda, Ma. Canda ...," protes Raydita.


"Ooh ternyata. Diam-diam tenggelem ya," kelakar Raka.


"Menghanyutkan, Kak. Kebiasaan deh, setiap ada pribahasa pasti diplesetin," gerutu Raydita.

__ADS_1


"Iya, itu maksudnya. Sejak kapan? Kalian udah jadian? Gue dilangkah dong. Ah, nggak asik. Kesannya gue nggak laku gitu," cerocos Raka. Pria itu tidak menyadari, Raydita menatap horor pada ponsel Yuda.


Di sisi lain, Rida terkekeh sambil menutup mulutnya. Sedangkan Yuda, jadi semakin salah tingkah. Ia tidak menyangka, Rida dan Raka akan seserius itu menaggapi ucapannya. Yuda hanya bisa menangkupkan kedua tangannya di depan dada ketika Raydita mengacungkan kepalan tangan ke arahnya.


"Hehe. Dit, udah terlanjur heboh. Kita jadian aja, yuk!" ajak Raka dengan polosnya.


Baru saja Raydita akan membuka mulutnya, dari ponsel terdengar Raka yang kegirangan.


"Aseek ada yang jadian. Gitu dong, berani nyatain, jangan cuma berani ngomong sama gue," ujar Raka.


"Dia ngomong apa, Kak?" tanya Raydita masih dengan ekspresinya yang tak bersahabat.


"Yuda bilang, sejak kejadian di rooftop itu, dia jadi ada rasa-rasa gimana gitu sama lo, Dit. Tapi nggak berani nyatain, karena masih ragu sama perasaan dia sendiri. Baguslah kalau sekarang dia berani ngajak lo jadian. Artinya dia udah yakin sama perasaannya," tutur Raka.


Raydita melongo tak percaya mendengar penuturan Raka, dan Rida ... dengan mantapnya mengacungkan ibu jari sebagai apresiasi atas keberanian Yuda.


"Diterima nggak, Dit?" tanya Raka yang membuat Raydita terlihat gelagapan.


"Terima, Dita. Mama setuju kamu pacaran sama Yuda. Anaknya baik," ujar Rida.


"Terima kasih, Tante," ucap Yuda malu-malu.


"Mama tenang aja, dia nggak akan berani macem-macem. Ada Aka, Ray, sama Agas kalau dia berani macem-macem," ujar Raka.


"Kok gue jadi merasa diancam ya?" gumam Yuda yang mendapat delikan dari Raydita.


"Nggak kok, Yud. Tante percaya kamu nggak akan macem-macem sama Dita." Lagi-lagi Yuda merasa terharu mendengar ucapan Rida.


"Gimana, Dit? Tiga lawan satu nih," tanya Yuda setengah mendesak.


"Udah, terima aja," ujar Raka. Raydita memelototi ponsel Yuda yang masih tergeletak di atas meja.


"Iya. Terima, Dita," imbuh Rida. Seketika tatapan Raydita beralih pada Rida.


"Ma ...."


"Terima ya," ujar Yuda.


"Ish, maksa banget sih lo," delik Raydita.


"Sorry," ucap Yuda pelan sembari tersenyum kecut.


"Diterima, nggak?" tanya Raka lagi.


"Iya, iya! Bawel," sahut Raydita kesal.


"Gue diterima, Dit? Beneran?" tanya Yuda tak percaya. Namun bukannya menjawab, Raydita justru mengacungkan kepalan tangannya lagi pada Yuda dan berlalu begitu saja dari ruangan itu.


"Mau kemana, Sayang? Sebentar lagi kita makan siang," tanya Rida dengan senyuman yang terkulum.


"Mau ke atas dulu ngambil ponsel, Ma," sahutnya.


"Dit, gue diterima nggak?" tanya Yuda sambil berseru.


"Udah, diterima," sahut Rida pelan.


"Diterima, Bro. Jangan ditanya mulu, yang ada Dita berubah pikiran. Udah dulu ya, Ma. Congratulation ya, Yud. Baek-baek sama Adek gue."


"Siap. Thanks, Kak Raka,"ujar Yuda.


"Gak manggil gitu juga kalee. Geli gue dengernya. Udah ya, bye!"


"Bye." Panggilan pun diakhiri.


Raut wajah Yuda merona, saat menyadari tatapan Rida mengarah padanya.


"Yud, nitip Dita ya," ucap Rida pelan. Entah Yuda mengerti atau tidak maksud dibalik pesan Rida tersebut. Yuda yang terlihat bahagia itu mengangguk dengan cepat sambil menjawab, "Iya, Tante. Pasti."


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2