Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
kondisi Raydita (bagian 2)


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


"Di-Dita," gumam Rida. Tubuhnya terpaku dengan wajah yang memucat. Sedangkan Rianti langsung menghampiri, namun Raydita nampak ketakutan dan menggelengkan kepala tak ingin didekati.


"Sayang ... ini mama, Dita," bujuk Rianti dengan mata berkaca-kaca.


"Pergi, pergi!" pekiknya.


Raydita menatap pecahan gelas yang baru saja terjatuh dari nakas. Raut wajahnya terlihat sangat takut dan ia mulai histeris.


Raydita melempar bantal pada Rianti yang memaksa untuk mendekat. Rianti mulai panik melihat Raydita yang berusaha melepas jarum infus di lengannya.


Rianti menekan tombol pemanggil perawat dan dokter. Ia memaksa memeluk Raydita meski anak itu terus meronta.


"Sayang jangan begini. Mama mohon ...," isak Rianti.


Raydita terdiam. Rianti cukup lega meski gusar melihat selang infus yang kini berwarna merah.


"Dita ta-takut, Ma." Lirihnya.


"Ada mama, Sayang," hibur Rianti sambil mengusap surai Raydita.


"Om Sa-Sandy bukan papa Dita kan, Ma? O-Om Sandy jahat. Dita takut," ucap Raydita terbata dan memeluk erat Rianti.


"Bukan, Sayang. Siapa yang bilang begitu? Nanti papa kesini, kamu tunggu sebentar ya." Bujuknya.


Rianti memeluk erat Raydita dengan tatapannya yang nyalang pada Rida. Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan membuat Rida perlahan berjalan mundur menuju pintu.


Sementara itu, Adisurya masih tak habis pikir dengan sikap Annisa yang tak banyak bicara. Annisa bahkan tak berekspresi saat ia mengatakan bahwa beberapa hari ke depan mereka jangan dulu ke sekolah. Adisurya tak ingin Rayhan dan Annisa merasa tak nyaman dengan reaksi teman-teman mereka.


Tak hanya Adisurya, Rayhan pun mulai merasa ada yang tak beres dengan adiknya. Ia pun kemudian menelepon Viola untuk menanyakan apa yang terjadi di vila.


"Apa yang Lo lakiun ke Nisa, hah?" tanya Rayhan dengan nada tinggi.


"Gue nggak ngapa-ngapain. Kok Lo nuduh gue sih, Ray," kilah Viola.


"Gue yakin kedatangan Lo ke vila bukan tanpa maksud. Lo ngedeketin Dita, juga ada tujuannya. Lo ngomong sekarang juga, jangan sampai gue tahu dari orang lain. Gue nggak akan bisa maafin Lo, kalau sampai terjadi sesuatu sama adik gue," geram Rayhan.


"Lo tanyain aja sama si Dita. Dia biang masalahnya. Dia udah ngejebak gue, dan gue puas dia dapat balasannya. Terserah Lo mau apa, Ray." Viola yang kesal pun menutup panggilannya.


Dita ..., batin Rayhan.


Rayhan mengacak kasar rambutnya mengingat tak memiliki satu pun nomer teman-teman Raydita. Ia yakin, Mela dan Tasya mengetahui apa yang terjadi di vila.

__ADS_1


Sementara itu di kamarnya, Annisa menangis sesegukan sambil membenamkan wajahnya di bantal. Ia meluapkan apa yang sudah tertahan di dalam dadanya.


Cukup lama Annisa seperti itu. Ia tak menyadari, Adisurya terpaku di depan pintu kamar mendengar tangisannya yang samar.


"Ada apa sebenarnya?" gumam Adisurya. Pria itu berlalu ke teras depan rumahnya sambil menelepon Bi Marni.


Adisurya terduduk tanpa ekspresi. Bi Marni tak memberikan jawaban dari semua tanya dalam benaknya. Begitu juga Mang Asep yang tak tahu apa-apa.


Ponsel Adisurya berdering, Rianti yang menghubunginya.


"Apa? Sandy?" Adisurya mengusap kasar wajahnya berkali-kali. Penuturan Rianti benar-benar tidak terduga.


"Oke. Papa akan ke sana. Papa mau mandi dulu,"ujar Adisurya pelan.


Adisurya memukulkan kepalan tangannya ke dinding. Ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi.


Tak lama, ponselnya berdering lagi, kali ini kuasa hukumnya yang berbicara. Adisurya pun meneruskan langkah menuju kamarnya sambil sesekali menoleh pada pintu kamar Annisa.


***


Adisurya mengetuk pintu kamar Annisa. Ia hendak berpamitan ke rumah sakit. Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Bi Susi menghampiri Adisurya sambil menenteng rantang.


"Terima kasih. Buatkan makanan kesukaan Nisa dan Ehan ya, Bi," pinta Adisurya, dan diangguki oleh Bi Susi.


Sementara itu ... dari tempat tidurnya, Annisa menatap kosong ke sembarang arah. Air matanya yang masih meleleh dibiarkan begitu saja.


"Nisa ingin pulang, Bu ...." Lirihnya, dan kembali terisak.


Canda tawa mendiang ibunya menggema dalam kepala Annisa. Kilasan keseharian mereka yang dibalut kesederhanaan tergambar jelas dalam ingatan Annisa.


Annisa rindu suasana itu. Meski Bu Asih tak memiliki harta, wanita itu tak pernah rela Annisa mengeluarkan air mata.


***


Raydita merengek meminta pulang. Mau tak mau Adisurya dan Rianti berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya.


Dokter mengijinkan, dengan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Hal itu mengingat Raydita memperlihatkan gejala trauma. Hingga mengharuskan ia mendapatkan perhatian ekstra dari keluarganya.


Rianti masih menemani Raydita, karena Adisurya harus membicarakan kasus Raydita dengan tim kuasa hukumnya. Sambil menunggu, Rianti menghubungi Annisa.


"Ponselnya tidak aktif?" gumam Rianti heran. Ia pun menelepon Rayhan.


"Han, kamu lagi dimana? Nisa ada sama kamu nggak?"

__ADS_1


"Ehan lagi di depan tv sendirian. Nisa di kamarnya," sahut Rayhan di ujung ponsel.


"Oh. Coba tolong panggilkan, Sayang. Mama telpon ponselnya nggak aktif."


Terdengar suara ketukan pintu dan suara Rayhan yang memanggil-manggil Annisa. Kemudian terdengar Rayhan berbicara, "Mungkin Nisa lagi tidur deh, Ma. Dia pasti capek banget."


"Ya sudah, tapi nanti bangunkan ya kalau makan siang."


"Iya, Ma."


"Oh iya, Dita juga nanti malam akan pulang. Dia ingin dirawat di rumah."


"Oh, oke." Rayhan menutup panggilan mamanya. Ia kembali mengetuk pintu kamar Annisa sambil berseru, "Nisa, buka pintunya! Kakak tahu kamu nggak tidur."


Rayhan tidak ingin terus bertanya-tanya. Ia ingin mendengarkan semua dari Annisa.


Rayhan hendak mengetuk lagi, namun urung karena Annisa sedang memutar kunci.


"Ehhem, ada apa, Kak?"


Rayhan menatap pucuk kepala Annisa yang tertunduk. Terdengar jelas suara parau dari lisan adiknya.


Rayhan mengangkat dagu Annisa yang bersikeras ingin tertunduk. Sekilas wajah sembab dengan kelopak mata yang bengkak terlihat oleh Rayhan.


Ditariknya Annisa ke dalam pelukan. Rayhan merasa semakin bingung, mendengar Annisa yang terisak dalam pelukannya.


"Kamu kenapa? Bilang sama kakak, Nisa." Bisiknya.


Annisa menggelengkan kepala dan membenamkan wajahnya di dasa Rayhan.


"Apa yang sudah Dita lakukan?" tanya Rayhan lembut sambil mengusap surai Annisa.


Tak ada jawaban, selain sisa isakan yang terdengar.


"Nisa ...."


"Nisa nggak kenapa-napa, Kak. Nisa lagi kangen ibu aja," sahut Annisa sambil mengusap-usap wajahnya.


"Kamu mau pulang ke desa?" Annisa mengangguk pelan.


Rayhan membisikkan sesuatu pada Annisa. Raut wajah Annisa terlihat senang sekaligus meragukan. Rayhan mengangguk untuk meyakinkan adiknya. Ia merasa lega melihat seulas senyum terlukis di wajah Annisa.


"Udah ya. Jangan sedih lagi," pinta Rayhan yang kemudian mencium pucuk kepala Annisa.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2