
Happy reading ....
🌿
Kening Rika berkerut melihat dua remaja yang berjalan menghampirinya. Raydita bersama Annisa?
"Hai, Tan. Ada apa?" tanya Raydita yang langsung menarik kursi dan duduk tanpa permisi. Dalam hati Raydita merasa lega karena tak ada Rida di sana.
"Selamat siang, Bu Dokter," sapa Annisa yang terduduk di samping Raydita.
"Siang, kalian shopping berdua? Hanya berdua?" tanya Rika menyelidik.
"Enggak kok, Bu. Kami bertiga, sama Pak Leo," sahut Annisa polos sambil menunjuk pada pria kekar yang terduduk tak jauh dari mereka.
Rika melirik pada Leo yang tak berekspresi, kemudian menatap jengah pada Annisa. Menyadari hal itu, Annisa berunisiatif memberi mereka ruang untuk bicara.
"Dit, aku pesan dulu ya. Kamu mau makan apa?"
"Paket yang itu aja, yang ada burger-nya," tunjuk Raydita. Annisa mengangguk dan beranjak dari kursi.
Rika menatap lekat pada Raydita yang menoleh pada Annisa. Sorot mata anak itu tidak seperti dulu.
"Ehhem." Raydita menoleh pada Rika.
"Tante mau membicarakan apa?"
"Dita, tante mau minta kamu membujuk Rida." Ucapnya to the point.
"Membujuk? Memangnya ibu-ibu kalau merajuk harus dibujuk juga? Heh, kayak anak kecil aja," decih Raydita.
"Dengar Tante, Dita. Rida adalah mamamu, Mama kandungmu. Sudah menjadi kewajiban kamu berbakti sama Rida. Ka-."
"Tante, sebelum membicarakan kewajiban aku sebagai anak, bagaimana kalau kita bicarakan dulu kewajiban dia sebagai seorang ibu? Sebelum aku segede ini, aku itu bayi, kan? balita, anak-anak. Siapa yang mengurus aku, membesarkan aku, dialah mamaku. Mama Rianti. Bukan wanita itu," tegas Raydita.
"Dita!" bentak Rika tertahan.
"Memang benar, kan? Hewan aja sayang sama anaknya," delik Raydita.
__ADS_1
Rika menghela napasnya dan berkata, "Rida sedang sakit, dan dia tidak mau menjalani pengobatan."
"Lalu? Apa urusannya denganku?"
"Bujuk dia agar mau menjalani pengobatan," pinta Rika datar.
"Kenapa harus aku? Dia tidak ada untukku, lalu tante mau aku ada untuknya? Heh, egois sekali." Deliknya.
"Yang terjadi di masa lalu, tidak sepenuhnya salah Rida. Tapi juga salah tante," ujar Rika ragu-ragu.
"Maksudnya?"
"Rida tidak pernah tahu keberadaanmu. Tante yang menyetujui usul Adi saat itu. Kalaupun Adi tidak mengambilmu, tante berniat akan memberikanmu ke panti asuhan. Tanpa sepengetahuan Rida tentunya," ujar Rika yang berusaha tidak terlihat gusar.
Raydita terdiam, menatap kosong pada wanita yang sedang mengakui dosa tanpa rasa bersalah. Panti asuhan?
"Meskipun kamu hadir dari hubungan terlarang, tapi Rida tidak berniat menggugurkanmu. Kehadiranmu menjadi aib bagi keluarga kami. Menitipkanmu di panti asuhan, solusi terbaik saat itu. Kamu masih bisa hidup layak, karena aku yang akan menanggung semua keperluanmu di sana. Siapa sangka, Adi datang dengan ide gilanya," tutur Rika.
"Mudah sekali tante mengucapkan semua itu. Seakan bukan kehidupan Dita yang sedang tante permainkan," ujar Raydita datar.
"Kenapa kamu kesal? Lihat ending-nya, kamu hidup dengan Adi dan Rianti yang sangat menyayangi kamu. Harusnya kamu berterima kasih sama tante. Kalau tante tidak menyetujui ide Adi untuk menukarmu dengan dia, kamu tidak akan seperti sekarang ini," tutur Rika dengan gerakan mata mengarah pada Annisa yang berada di meja lain bersama Leo.
"Bukan pada tante, tapi Dita harusnya berterima kasih pada Nisa dan mama. Kalau dia tidak terlahir seperti kondisinya dulu, dan mama tidak menolaknya, mungkin papa tidak akan berniat sedikitpun menukar kami."
"Tapi kalau tante tidak menyetujuinya, itu tidak akan terjadi."
"Tante benar, papa bisa menukar Nisa dengan siapa saja. Huft, kalian orang dewasa hanya tua karena usia, tapi tidak memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Menyebalkan."
"Terserah kamu mau berpikir apa saja tentang tante. Tapi tante minta, pikirkan apa yang tante bicarakan sebelumnya. Rida mengidap kanker serviks stadium 3, dan dia harus mau menjalani pengobatan secepatnya."
"Heh, bahkan saat ini pun tante masih egois. Tante bicara denganku karena ada maunya. Biarkan saja dia merasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Dia suka berganti pria. Dia juga 'melakukannya' di usia remaja, kalau sekarang Tuhan menghukumnya, ya terima saja," tandas Raydita.
"Kau-." Rika menatap nyalang pada Raydita. Namun begitu, ia harus mengakui bahwa ucapan Raydita tidak sepenuhnya salah.
Memang benar, kanker serviks membutuhkan proses yang sangat panjang, antara 10 sampai 20 tahun untuk menjadi sebuah kanker. Dan gaya hidup Rida selama ini, bisa jadi salah satu penyebabnya. Akan tetapi, Rika tidak ingin Raydita menghakimi adik kesayangannya itu.
"Rianti dan Adi sudah mendidikmu dengan sangat baik. Aku percaya, mereka menanamkan rasa empati padamu seperti halnya Adi yang suka membantu orang lain. Tolong bantu tante, Dita. Hanya kamu yang bisa membujuk Rida. Dia sangat ingin bersama kamu. Tante yakin, dia akan mendengarkan kamu," pinta Rika.
__ADS_1
Harusnya Raydita tertawa, melihat orang yang dulu ingin membuangnya kini memohon padanya. Tapi anehnya, Raydita tidak seperti itu. Dia hanya diam sambil memalingkan wajahnya dari Rika.
"Tante tunggu keputusanmu secepatnya. Please." Rika berniat menggenggam tangan Raydita, tapi Raydita dengan cepat menjauhkan tangannya. Rika hanya bisa menatap sendu pada Raydita dan berpamitan pulang, lalu berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Annisa.
Melihat Rika sudah meninggalkan meja, Annisa cepat-cepat menghampiri Raydita sambil membawa nampan berisi pesanan Raydita. Tanpa basa-basi, Raydita menyambar makanan itu dan melahapnya.
Annisa diam saja. Ia tidak ingin Raydita merasa canggung padanya.
"Bagaimana menurut Lo?" tanya Raydita pelan sambil mengunyah makanannya.
"Bagaimana apanya?"
"Nggak usah pura-pura nggak tahu deh," delik Raydita.
Annisa mengulumkan senyum, lalu berkata : "Kamu harus membujuknya."
"Harus?" tanya Raydita sambil mengerutkan keningnya.
Annisa mengangguk cepat.
"Kenapa harus?"
"Karena dia, mamamu. Kita berkewajiban berbuat baik pada orang tua kita, tidak perduli bagaimana perlakuan mereka terhadap kita. Apalagi Bu Rida, Allah sudah menghukumnya. Kasihan dia, kalau kamu juga ikut menghukumnya. Apalagi yang kudengar, semua yang terjadi tanpa sepengetahuan Bu Rida. Jadi bisa saja dia juga korban seperti kita," tutur Annisa.
"Apa menurut Lo begitu?" Annisa mengangguk pasti.
"Entahlah. Gue akan pikirkan lagi nanti. Selera makan gue jadi buruk gara-gara semua ini." Dengusnya.
"Ah masa sih, itu burger-nya udah habis," goda Annisa sambil mengulumkan senyum.
"Gue lapar, Nis. Apalagi harus mikir. Butuh tenaga ekstra nih," kilah Raydita. "Punya Lo udah abis? Cepat banget," imbuh Raydita.
"Aku juga lapar, Dit. Kamu ngajak keliling-keliling di sini, ya capek. Habis ini kita mau kemana?"
"Itu belum seberapa. Belum semua toko kita sambangi. Kalau shopping, gue nggak ada kata capek. Gimana kalau ke gamezone?"
"Oke."
__ADS_1
Raydita menyelesaikan makan siangnya. Dalam benaknya, ia mulai mempertimbangkan ucapan Annisa.
_bersambung_