
Happy reading ....
*
Rika semakin panik ketika ada yang membuka pintu ruangan itu. Seorang perawat nampak terkejut dan segera menelepon dokter kandungan yang biasa praktek di sana. Sedangkan perawat yang tadi membantu Rika, bergegas lari keluar dari ruangan tersebut.
Angel terus saja meraung tak terkendali. Beberapa orang mulai berdatangan tanpa bisa dicegah lagi. Rika yang gelagapan wajahnya memucat sambil menatap nanar para perawat yang memintanya untuk tenang dan duduk di kursi yang ada di sana.
Seorang perawat yang menyadari situasi di sana tidak terkendali, berusaha keluar dan memanggil security.
"Pak, Bu. Tolong untuk tidak memfoto atau memvideokan kejadian ini. Kami bisa menuntut jika kejadian ini menyebar dan diketahui orang luar. Tolong pak, bu, keluar dari ruangan ini. Kami akan melakukan yang terbaik, dan akan memastikan tidak terjadi apa-apa dengan pasien. Silahkan keluar," pinta seorang perawat.
Beberapa dari mereka mulai meninggalkan ruangan itu dengan berbisik-bisik. Sedangkan beberapa orang yang masih bergeming terpaksa di usir security.
Rika merasa cukup lega, para perawat itu dengan sigap memperbaiki keadaan sambil menunggu dokter datang. Angel yang dibius total dapat segera ditangani. Meskipun untuk itu, Rika dimarahi habis-habisan oleh temannya yang seorang dokter kandungan. Angel pun menempati kamar rawat inap untuk pemulihan.
Dengan diantar temannya, Rika kembali ke rumah. Dinginnya malam sudah ia abaikan. Rika sangat syok atas apa yang terjadi barusan. Saat melakukan USG, Rika tidak mengetahui plasenta dalam rahim itu lengket. Hingga saat aspirasi vakum dilakuakan, ada bagian yang tidak terbawa dan memang harus dibersihkan.
Usia Angel yang masih muda juga berpengaruh pada ketidaksiapan pasien. Mungkin itu sebabnya, Angel tidak bisa menahan rasa sakit dan akhirnya menjerit. Reaksi Angel itu tentu menyebabkan Rika terkejut.
***
Matahari pagi bersinar cerah sekali. Rika yang entah jam berapa baru bisa memejamkan mata, merasa sangat mengantuk. Deringan ponsel di atas nakas sungguh mengganggu tidur Rika. Dengan kesal, Rika mengambil ponsel itu dan menjawab panggilan dari seorang perawat di kliniknya.
"Ada apa?" tanyanya malas.
"Selamat pagi, Dok. Dokter, saya harus bagaimana?" tanya perawat di ujung ponselnya yang terdengar cemas.
"Apa yang terjadi? Apa Angel mengeluhkan sesuatu?" tanya Rika khawatir.
"Bukan itu, Dokter. Ini ... di sini banyak pencari berita yang menanyakan dokter."
"Mau apa mereka menanyakan saya?" tanya Rika heran.
"I-itu, Dok. Kejadian tadi malam tersebar di internet. Dan-."
Rika tidak lagi mendengarkan penuturan perawat itu. Kini ia menyadari ada suara keributan di luar. Rika bergegas turun dari ranjangnya dan melihat ke jendela. Ia terkejut melihat beberapa karyawan di luar pintu gerbang rumahnya.
Tok ... tok.
Rika spontan menoleh. Ia berjalan cepat untuk membuka pintu. Seorang pelayannya nampak kebingungan sambil bertanya, "Bu, di luar-."
"Bilang saya tidak ada," ujar Rika yang langsung menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.
__ADS_1
Rika terlihat mulai stres. Ia memberanikan diri melihat berita yang dimaksudkan perawat tadi. Benar saja, namanya juga nama kliniknya menjadi trending topik pagi ini. Wajah Rika terpampang hampir di setiap media pemberitaan online.
"Oh My God! Apa yang harus kulakukan?" gumam Rika.
Ponsel Rika kembali berdering. Wajah Rika memucat saat melihat foto Ghaisan pada layar ponselnya.
Apa Ghaisan sudah mengetahui berita itu?
Rika kini ketar-ketir merasa bingung harus menjelaskan apa pada putranya.
Tok ... tok ... tok. Seseorang mengetuk kembali pintu kamarnya. Rika yang semula bergeming pun menoleh pada pintu saat mendengar siapa yang memanggilnya.
"Tante, ini Dita."
Rika mau tak mau membuka pintu kamarnya. Ia memeluk Dita yang belum sempat berkata apa-apa.
"Tante tidak bersalah, Dita. Kamu percaya tante, kan? Demi Tuhan, Angel yang memintanya. Tante hanya-."
Raydita mengusap-usap punggung Rika agar lebih tenang. Ia bisa merasakan tubuh Rika gemetar ketakutan. Ponsel Rika kembali berdering. Rika melepaskan pelukannya dan menatap nanar ponsel itu.
"Kak Agas," gumam Raydita.
"Tante, bicara sama Kak Agas ya. Kasian Kak Agas pasti khawatir," saran Raydita.
"Ha-halo, Sayang."
"Ma. Mama nggak apa-apa? Mereka tidak melakukan apapun pada mama, kan? Sekarang mama dimana? Berita itu nggak benar kan, Ma?"
Rika meneteskan air mata mendengar kecemasan putranya. Ia meyakini Ghaisan mendapatkan kabar itu dari teman sekolahnya di sini. Mereka tentu tahu siapa Rika.
"Mama tidak menyangka akan seperti ini, Agas. Angel yang memintanya. Mama hanya berniat membantu. Ma, mama ...." Rika terisak dan tak mampu meneruskan kata-katanya.
"Agas akan pesan tiket pulang sekarang juga. Mama tenang ya. Agas akan segera pulang. Bye, Ma." Agas menutup panggilan.
Seketika Rika luruh ke lantai. Ia menangis sambil merutuki dirinya sendiri. Raydita yang merasa kasian pun hanya bisa menenangkan.
Di tempat lain ....
"Neng Nisa, kita sudah sampai," ujar Mang Asep yang membuyarkan lamunan Annisa.
"Iya, Mang. Sebentar ya, Nisa mau nelpon ayah," sahut Annisa.
"Silahkan, Neng." Mang Asep keluar dari mobil karena tak ingin membuat Annisa merasa canggung.
__ADS_1
Tadi pagi saat sarapan, mereka dikejutkan oleh salah satu berita online yang dibaca Raydita. Mereka membacanya sampai berkali-kali saking tidak percaya. Raydita bahkan minta diantarkan ke rumah Ghaisan. Dengan susah payah, Raydita melewati kerumunan pencari berita yang ingin masuk dan mewawancarai Rika.
"Assalamu'alaikum, Yah. Sudah ada kabar?" tanya Annisa.
"Wa'alaikumsalam. Menurut Heru, kejadiannya memang tadi malam. Dan korbannya alumni sekolah itu, Sayang."
"Siapa, Yah?" tanya Annisa heran. Dalam berita yang mereka baca, gambar korban memang ditutupi dan hanya inisial AD yang tertera di sana.
"Angelica Darma," sahut Adisurya pelan.
"Angel?"
"Kamu kenal, Nisa?"
"Tahu, tapi nggak kenal," sahut Annisa.
"Ayah, kira-kira bisa nggak bantu Bu Dokter?" pinta Annisa ragu.
"Sayang, ini diluar kuasa ayah. Ini sudah kasus hukum yang sangat berat. Dan kabarnya, ayah korban seorang berpangkat di ketentaraan. Dia pasti tidak akan melepaskan Rika begitu saja. Kita doakan saja yang terbaik ya," tutur Adisurya menjelaskan.
"Iya, Yah. Nisa masuk dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Annisa menutup panggilan telponnya. Ia teringat pada ucapan Ghaisan yang mengatakan bahwa Angel adalah perempuan yang akan dijodohkan dengannya. Dan apa ini, aborsi?
Apa itu artinya Angel sudah hamil saat mereka akan ditunangkan?
Annisa mendapat pesan chat dari Isti. Sebuah penggalan pengakuan korban AD yang menyatakan ...
'Saya dipaksa untuk menggugurkan kandungan saya oleh Dokter R. Dokter itu menginginkan saya tetap jadi menantunya. Maka dari itu, saat tahu saya hamil, dia membujuk saya menggugurkannya.'
Annisa tertegun saat membacanya. Ia bahkan tidak membalas rentetan pertanyaan Isti mengenai sosok AD yang diduga sahabatnya itu sebagai Angel.
Benarkah Rika begitu menginginkan Angel menjadi pendamping Ghaisan? Sebenci itukah Rika pada Annisa? Apa salah Annisa padanya?
Rentetan pertanyaan itu langsung ditepis Annisa. Ia tidak ingin berburuk sangka pada Rika.
Annisa hurusnya merasa senang karena keteledorannya, Rika tersandung kasus hukum Tapi nyatanya tidak. Annisa kini merasa gamang.
Annisa menatap ponselnya yang terdapat riwayat chat dari Ghaisan yang sudah sangat lama dan sengaja tidak ia hapus. Ada ungkapan cinta dan sayang Ghaisan di sana. Ia ingin sekali menelepon Ghaisan. Pria itu pasti tidak sedang baik-baik saja mengetahui kabar tentang Rika. Bagaimanapun Rika adalah ibunya.
_bersambung_
__ADS_1