
Happy reading ....
*
Hujan di hari ini memang tidak merata. Di beberapa tempat nampak kering, tapi beberapa pengendara motor ada yang mengenakan jas hujan yang basah kuyup.
Beruntung ketika dalam perjalanan ke rumah Isti, Rayhan tidak kehujanan. Namun saat ia berada di halaman rumah kekasihnya itu, rintik hujan mulai menyapa. Tentu saja hal itu membuat Dahlan dan istrinya meminta Rayhan masuk ke rumah mereka.
Entah Rayhan harus mensyukurinya atau tidak. Karena sedari bertemu di depan rumah, raut wajah Dahlan sangat tidak bersahabat. Bahkan saat ini pun sama.
Tatapan ayah dari Isti itu lurus ke arah Rayhan yang jadi salah tingkah karenanya. Tatapan itu seakan ingin mengintimidasi lawan bicara.
Rayhan tersenyum tipis pada ibunda Isti yang menghampiri dengan nampan berisi dua cangkir teh panas dan meletakkannya di meja.
"Silahkan diminum tehnya, Nak Ray." Ujarnya, kemudian duduk di samping Dahlan.
"Terima kasih, Bu," sahut Rayhan canggung. Baru kali ini Rayhan merasa kikuk. Sebelumnya ia selalu percaya diri dalam situasi apapun juga. Tapi kali ini rasanya benar-benar berbeda.
"Nak Ray, apa sebenarnya maksud Nak Ray datang ke sini?" tanya Dahlan datar, Sepertinya pria itu sebisa mungkin menekan susuatu dalam hatinya.
"Saya ... mau ketemu Isti, Pak," sahut Rayhan.
"Mau apa ketemu Isti? Setahu bapak kamu bukan teman sekelasnya." Tatapan Dahlan semakin menajam pada Rayhan.
"Saya pacarnya Isti, Pak," aku Rayhan.
"Pacar?" Dahlan mengerutkan keningnya, pura-pura terkejut.
"Iya, Pak. Saya pacarnya."
"Sejak kapan? Kok bisa pacaran?" tanya Dahlan heran.
"Bisa, Pak. Saya sama Isti saling mencintai," sahut Rayhan yang tiba-tiba saja merasa malu.
"Kamu mencintai putri saya?" selidik Dahlan.
"Benar, Pak," angguk Rayhan.
"Kamu tahu cinta itu seperti apa?" tanya Dahlan lagi.
__ADS_1
"Seperti perasaan sayang, perasaan ingin memiliki ... kurang lebih seperti itu yang saya rasakan terhadap Isti, Pak," tutur Rayhan dengan dada yang berdebar.
"Tapi yang saya lihat, kamu tidak sayang sama Isti," ujar Dahlan.
"Mungkin bapak salah lihat, hehe. Saya sayang banget sama Isti," sahut Rayhan yakin.
"Kalau sayang, apalagi ingin memiliki seperti yang kamu katakan pada saya barusan, kenapa kamu tidak datang pada saya?"
"Maksud bapak? Saya ...." Rayhan terlihat bingung.
"Perlu Nak Ray ketahui, saya tidak pernah mengizinkan putri saya pacaran. Kalau ada laki-laki yang berniat baik pada Isti, silahkan datang pada saya. Bicara baik-baik. Anak saya pasti punya banyak kekurangan begitu juga kami orang tuanya. Tapi bukan berarti kami akan membiarkan dia berbuat sesuatu yang dilarang agama. Apalagi ini terlihat di depan mata saya sebagai ayahnya. Jujur Nak Ray, saya merasa gagal dalam mendidik Isti," tutur Dahlan dengan nada lembut namun cukup membuat Rayhan tertohok.
Rayhan menunduk sangat dalam. Ia mengerti kemana arah pembicaraan Dahlan. Rayhan sangat tahu saat ini Dahlan sedang menatap lekat padanya. Rayhan pun mengumpulkan keberanian dan mengangkat wajahnya untuk balik menatap Dahlan.
"Saya serius dengan Isti, Pak. Kalau bapak memang setuju, saya bersedia menikahinya," ujar Rayhan dengan percaya dirinya.
"Rumah tangga seperti apa yang akan kalian bina, hmm? Isti masih sekolah di sini, begitu juga dengan kamu di luar negeri. Menurut kamu, apa saya akan melepas anak perempuan saya begitu saja? Nak Ray, silahkan kembali lagi untuk bicara dengan saya lain kali. Setelah siap lahir dan batin mengemban tanggung jawab sebagai suami untuk anak saya," tutur Dahlan menegaskan.
Rayhan terdiam sesaat, lalu berkata : "Beri saya waktu, Pak."
"Berapa lama?" tanya Dahlan.
"Beri saya kepastian di tanggal dan bulan yang sama dua tahun lagi. Selain itu, saya tidak izinkan kalian bertemu, apalagi dalam konteks sebagai pasangan kekasih," tegas Dahlan.
"Baik, Pak. Saya akan berusaha memantaskan diri untuk bersanding dengan Isti," sahut Rayhan dengan percaya dirinya.
"Saya akan menunggu kabar baiknya. Jika lebih dari waktu yang ditentukan, jangan salahkan saya jika menerima pinangan pria lain."
"Jangan dong, Pak. Saya akan ingat, 3 November. Saya akan manandainya di setiap kalender yang saya punya," seloroh Rayhan dan membuat Ibunda Isti yang sedari tadi diam mengulumkan senyumnya.
"Nak Ray, ayo diminum! Sudah dingin tehnya, ibu ganti ya," tawar ibunda Isti mencoba mengendurkan suasana yang dirasa cukup menegang.
"Tidak usah, Bu. Ini saja, masih hangat kok," tolak Rayhan sambil mengambil cangkir teh itu dan mulai menyesapnya.
"Makan di sini ya?" tawarnya lagi.
"Sama bapak sekalian. Bapak kalau nggak lagi sibuk, waktu makan siang suka pulang dulu. Nak Ray harus coba masakan ibu, ya sebelum nanti nyobain masakan Isti," imbuhnya setengah bercanda.
"Saya sudah sering makan masakan ibu yang dibawa Isti ke sekolah. Malahan Isti jarang memakannya karena habis oleh saya, Nisa, Yuda, dan Raka. Masakan ibu memang the best," puji Rayhan bersungguh-sungguh dan membuat ibunda Isti itu tersipu.
__ADS_1
Zulaikah tidak bisa mengabaikan Rayhan begitu saja, dan Dahlan mengerti akan hal itu. Bagaimanapun, Ikah dan Rianti merupakan teman lama. Meski ada perbedaan yang sangat mencolok diantara keduanya.
"Terima kasih loh, Nak Ray. Ibu jadi malu," ujar Ikah.
"Makan sekarang yuk, Bi! Abi kan harus ke kantor lagi," imbuh Ikah. Dahlan mengangguk kecil dengan ekspresinya yang datar.
"Ayo, Nak Ray!" ajak Ikah.
Rayhan menurut meski dengan perasaan yang tak menentu. Ia ingin memperlihatkan kesungguhan akan niatnya pada Isti yang sedari tadi diam-diam dicarinya meski itu hanya deretan tanya dalam benaknya.
Dari dalam kamarnya, Isti sempat mengintip dari celah pintu yang dibukanya sangat sedikit. Ia tidak ingin ayahnya menyadari dirinya yang menguping pembicaraan mereka.
"Apa itu artinya aku dan Kak Ray putus?" gumam Isti yang kini berada di tepi tempat tidurnya. "Hmm dua tahun lagi, aku tidak yakin Kak Ray mampu dan mau menepati ucapannya. Kupasrahkan hanya pada-Mu, Ya Allah. Aku akan menjalaninya dengan ikhlas. Jika dia memang jodohku, satukan kami dalam ikatan yang Engkau ridhai." Ujarnya pasrah.
Menit demi menit pun berlalu. Rupanya Dahlan tidak kunjung meninggalkan rumah meski makan siang sudah usai. Mau tak mau, Rayhan pun berpamitan karena tak mungkin menunggu Dahlan kembali ke tempat kerja. "Pak, Bu, saya pamit pulang dulu."
"Hati-hati ya, Nak Ray," sahut Ikah.
Rayhan menyalami dan mencium punggung tangan Dahlan, begitu juga pada Ikah. Wanita yang hampir seusia Rianti itu pun mengantarkan Rayhan sampai di depan rumahnya.
Rayhan menyalakan mesin motornya yang tentu saja membuat Isti terperanjat dan langsung berlari ke balkon kamarnya.
"Assalamu'alaikum, Bu," ucap Rayhan.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya," pesan Ikah.
Rayhan melajukan motornya menuju gerbang dengan pelan. Ia membetulkan posisi kaca spionnya dan nampaklah pantulan Isti yang sedang menatapnya dari balkon kamar.
Rayhan tersenyum tipis dengan perasaan haru. Setelah sejak kemarin menahan rindu, ternyata mereka dipertemukan dengan cara seperti itu.
Rayhan mengangkat sebelah tangannya dan memperlihatkan bentuk hati yang terbentuk dari jari telunjuk dan ibu jari. Ia tersenyum manakala melihat Isti melakukan hal serupa.
Rayhan menghentikan laju motornya tepat di pintu gerbang yang terbuka. Tanpa diduga, Rayhan turun dari motornya dan berlari kembali mendekati bagian depan rumah itu.
Isti nampak terkesiap dan menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Rayhan. Ia dibuat ternganga saat Rayhan dengan lantangnya berseru, "Sayang, I love you!"
Rayhan melambaikan kedua tangannya sambil berjalan mundur dengan wajah yang terlihat bahagia. Rayhan juga terlihat mengecup telapak tangan dan meniupnya sambil menatap Isti.
Rayhan seakan tidak perduli jika Dahlan keluar dan memakinya habis-habisan. Ia hanya ingin memperlihatkan betapa ia sangat mencintai kekasihnya dan mengekspresikannya sebelum mereka benar-benar terpisah untuk waktu yang lama.
__ADS_1
_bersambung_