Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raydita hilang


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Annisa keluar dari kamarnya. Bertepatan dengan Rayhan yang sedang menuju kamarnya. Melihat wajah Annisa yang sembab, Rayhan mempercepat langkahnya, lalu memeluk Annisa.


"Kamu nggak kenapa-napa, kan?" tanyanya pelan.


Annisa terdiam. Rayhan melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Annisa. "Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.


Annisa menyadari suasana di vila sedang tidak baik. Ia melihat kesekitar dan merasa heran dengan raut wajah mereka yang khawatir.


"Ada apa ini, Kak?" Annisa balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Rayhan.


"Raydita tidak ada di vila. Ponselnya juga nggak aktif," sahut Rayhan.


"Te-terus gimana, Kak? Cari di tempat lain, Kak," pinta Annisa.


Melihat raut wajah adiknya, Rayhan tahu ada sesuatu yang disembunyikan Annisa. Ia pun memeluknya sambil berucap, "Kakak nggak tahu harus cari dimana. Ponsel Dita mati."


"Ray, gimana kalau kita minta bantuan Bang Juna?" tanya Raka.


"Bang Juna? Benar juga. Nisa, minta nomernya Yuda," ucap Rayhan.


"Sebentar Kak, Nisa ambil dulu ponselnya."


Annisa pun berlalu ke dalam kamar. Tak lama ia kembali dan terlihat bingung saat tiba-tiba Rianti menelepon.


"Gimana ini, Kak?" tanya Annisa sambil menyodorkan ponselnya pada Rayhan.


Rayhan terlihat bingung, namun kemudian meminta yang lain untuk tenang.


"Halo, Ma."


"Kok kamu yang ngangkat, Han?"


"I-iya, Ma. Nisa lagi main di luar. Ponselnya ada di meja, jadi Ehan angkat aja," dustanya.


"Nisa mau gabung kan sama Dita dan teman-temannya. Mama khawatir, semalam mama telepon katanya teman-teman Nisa nggak ada yang ikut."


"Gabung kok, Ma. Mereka lagi main kucing-kucingan. Udah ya, Ma. Rayhan dipanggil suruh ikutan."


"Oke deh. Nanti mama telpon lagi. Jaga adikmu ya, Ray."


"Si-siap, Ma." Panggilan pun diakhiri. Rayhan menggigit bibir sambil mengacak kasar rambutnya, kemudian menelepon Yuda.


***

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain ....


Sandy berdiri menatap ke luar jendela dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


Ia menoleh ke samping dengan seringaian terlihat di wajah. Sandy sedang menunggu. Menunggu seseorang yang terduduk di kursi itu sadar dari pengaruh obat bius.


Malam tadi, karena tak melihat motor Raka di garasi rumah, ia pun menanyakannya pada Fany. Sandy sempat kesal saat mengetahui bahwa Raka berada di vila bersama anak-anak Adisurya. Namun saat mendengar Adisurya dan istrinya tidak bersama mereka, ia pun melihat peluang emas di depan mata.


Uhhuk ... uhhuk. Sandy menghampiri dengan langkah sangat pelan.


"Sudah sadar, Nona muda?" tanyanya datar.


"Om Sandy?" tanyanya dengan suara lemah, dan terbatuk lagi.


"Bawakan air!" serunya pada seseorang.


"Ray-dita, aku tidak menyangka semudah ini mendapatkanmu."


"Om, i-ini ... ke-kenapa Dita diikat?" Raydita menggerak-gerakkan tubuhnya. Ia sangat terkejut mendapati keadaannya saat ini. Kedua kakinya terikat, begitu juga dengan kedua tangannya yang terikat di belakang.


Seorang pria berbadan tegap masuk dan menyodorkan gelas berisi air minum pada Sandy. Raydita terperanjak melihat pria yang seperti tak asing baginya.


Yups. Kini Raydita mulai ingat. Sesaat setelah membaca chat Sandy yang memintanya untuk ke luar gerbang vila, Raydita pun menuruti.


Raydita celingukan, dan pada saat itulah pria ini menanyakan alamat. Karena tak tahu, Raydita pun berlalu. Kebetulan ia melihat mobil Sandy terparkir tak jauh dari posisinya dan segera menghampiri mobil tersebut. Namun saat ia membungkuk hendak mengetuk kaca pintu mobil, ada yang membekap wajahnya. Dan, di sinilah ia sekarang.


"Iya. Kenapa, nggak boleh? Hehe ...." Sandy menarik kursi dan terduduk tepat di hadapan Raydita.


"Tapi kenapa, Om? Salah Dita apa?"


"Kamu nggak salah, yang salah itu Adi dan Rianti. Mereka nggak suka sama Om, dan Om lebih nggak suka lagi sama mereka," sahut Sandy datar.


Sandy menyodorkan minum ke mulut Raydita dan langsung kesal saat putri Adisurya itu menolaknya dengan melengoskan wajah. Sandy mencengkram rahang Raydita dan memaksanya minum hingga tersedak dan terbatuk-batuk.


"Bodoh. Dikasih baik-baik nggak mau." Ujarnya sambil melempar gelas yang dipegangnya.


Sandy beranjak dan melangkah menuju meja yang berada di sudut ruangan. Langkahnya yang teratur, kembali mendekati Raydita.


Wajah Raydita seketika memucat melihat Sandy yang mengusap-usap belati yang diambilnya dari dalam laci. Raydita menggeleng-gelengkan kepala dengan mimik yang hampir menangis.


"Jangan, Om. Jangan sakiti Dita," ujarnya dengan wajah mengiba.


"Kenapa tidak? Ini kesempatan langka lho. Kapan lagi bisa begini? Kamu kan selalu dalam perlindungan Adi dan Rianti. Sayang sekali, sepertinya kali ini kamu sedang tidak beruntung." Ucapnya sambil mendudukkan kembali bokongnya di kursi.


Sandy mengarahkan belatinya pada wajah cantik Raydita yang sontak membuat kedua mata gadis itu terbelalak.


"Kamu tahu, saat ini papamu sedang senang karena mendapatkan tender besar di luar negeri." Ujarnya sambil menggerakkan belati di sekitar wajah Raydita. Sedikit saja Raydita menggerakkan kepala, bisa dipastikan belati itu akan melukainya.

__ADS_1


"Om tidak rela papamu selalu mendapatkan keinginannya. Jadi Om berpikir, sekali-kali papamu juga harus sedih. Terutama saat melihat putri kesayangannya terluka." Imbuhnya


"Aww! Sakit, Om," ringis Raydita. Ujung belati itu menggores sedikit wajah Raydita.


"Ups, sorry. Sengaja, hehe ...."


Raydita terisak merasakan perih. Ia sangat yakin, yang membasahi pipinya saat ini bukan hanya air mata, tapi juga darah yang keluar dari luka goresnya.


"Cengeng. Itu belum seberapa, masih kecil .... Om itu udah ngebayangin bikin sesuatu di sini, ya anggap aja face painting." Ekspresi Sandy yang datar dan dingin membuat Raydita ketakutan. Ia tak berani berbicara, karena belati itu masih bermain-main di dekat wajahnya.


***


Suasana di vila cukup menegangkan. Juna dan Yopi sedang menelepon teman-teman mereka untuk meminta bantuan. Rida terlihat sangat panik, begitu juga Annisa dan kedua sahabat Raydita.


Tak hanya mereka, Bi Marni dan Mang Dayat yang baru datang juga langsung panik.


"Mang, di sini ada CCTV nggak?" tanya Juna.


"Nggak ada, Den," sahut Mang Dayat.


"Kok bisa sih?" gumam Juna.


"Tapi kalau nggak salah, rumah yang di depan itu ada CCTV-nya," sambung Mang Dayat.


"Bisa minta tolong dilihatin nggak, Mang? Mamang kenal, kan?" tanya Juna.


"Kalau sama pembantunya kenal. Kita coba aja dulu, Den. Ayo!"


Juna dan Rayhan mengikuti langkah Mang Dayat. Sementara yang lain menunggu dengan harap-harap cemas.


Annisa benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Semua terjadi beriringan dan sangat tak terduga. Ia ingin menangis sejadi-jadinya. Namun keadaan saat ini tak memungkinkan untuknya melakukan itu.


Hampir satu jam Rayhan dan Juna berada di rumah yang berada di depan vila. Tak lama kemudian mereka datang dan langsung dihampiri oleh semua yang sudah menunggu sedari tadi.


"Gimana, Ray?" tanya Ghaisan. Rayhan tak menjawabnya. Wajahnya terlihat sangat frustasi. Kemudian menyodorkan ponselnya yang sudah berisi rekaman kejadian di depan vila.


"Gue mau telpon Bang Heru," ujar Juna yang melangkah menjauhi mereka. Yopi mengikutinya sambil bertanya, "Apa yang terjadi, Juna?"


"Penculikan. Ini penculikan, Bro. Bang Heru harus tahu, nggak mungkin kita bertindak dibelakang dia," sahut Juna.


"Oke. Gue setuju."


Ghaisan dan yang lainnya melihat rekaman video itu. Mereka sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada Raydita, apalagi Raka.


Raka melangkah mundur dengan wajah yang menegang. Ia sangat mengenali mobil yang membawa Raydita.


Tidak. Tidak mungkin papa melakukan hal seperti itu, batin Raka.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2