Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Adisurya ikut terseret


__ADS_3

Happy reading ....


*


Kasus aborsi yang menimpa Rika rupanya berbuntut panjang. Berita mengenai kasus itu masih menjadi trending topik seiring dengan kasus yang terus bergulir.


Tidak lama setelah Darma melayangkan tuntutan, pihak kepolisian menjemput paksa Rika dari rumahnya. Dan saat ini, Rika sudah menempati sel sementara di dalam kantor kepolisian setempat.


Rika terlihat frustasi dengan apa yang ia alami saat ini. Kliniknya ditutup, izin prakteknya juga dicabut, serta komentar-komentar pedas yang menyudutkannya membuat ibu dari Ghaisan itu hanya bisa terisak merutuki diri.


Saat ini, Rika tidak hanya memikirkan diri sendiri. Ia memikirkan Ghaisan yang harus menanggung malu, juga kondisi Rida yang belum ada kabarnya lagi.


Suara pentungan yang dipukulkan petugas pada jeruji besi mengagetkan Rika yang terduduk di salah satu sudut sambil menyembunyikan wajahnya diantara lutut. Rika menoleh pada petugas itu yang bertanya dengan suara garang.


"Sudah ada pengacara yang mendampingi belum?"


"Mana ada pengacara yang mau mendampingi wanita seperti dia, Pak. Tidak ada hati nurani, tega membunuh janin yang tidak berdosa. Dia juga kan perempuan, punya anak. Miris, hanya karena ingin punya menantu anak jendral sampai senekad itu," timpal seorang wanita yang merupakan pengunjung kantor polisi. Wanita itu terlihat geram dan sepertinya sudah 'termakan' berita yang tersebar di media.


"Jaga mulut kamu ya! Saya melakukan itu karena dia yang minta. Berita itu bohong! Saya juga nggak mau punya menantu seperti Angel. Dia pembohong! Ini fitnah!" pekik Rika yang langsung terperanjat saat mendengar suara pentungan yang dipukulkan sangat keras pada besi dihadapannya.


"Jawab pertanyaan saya!" bentak petugas itu.


"Saya menunggu anak saya, Pak. Hari ini di-dia datang," ujar Rika pelan.


Sejujurnya Rika tidak ingin Ghaisan datang ke tempat itu dan melihatnya dalam kondisinya saat ini. Tapi mau bagaimana lagi? Karena masalah ini, teman-teman satu profesinya semua menjauh. Mereka mungkin takut terseret dalam kasus ini. Tidak ada lagi yang bisa Rika andalkan selain Ghaisan.


'Pamirsa, tersebarnya rekaman kehadiran seorang putri pengusaha ternama di rumah tersangka kasus aborsi menarik perhatian warganet. Mereka mulai mempertanyakan hubungan pengusaha itu dengan tersangka R. Banyak spekulasi di masyarakat. Mulai dari teman anak tersangka, pacar anak tersangka, dan yang mengejutkan adanya dugaan bahwa adanya affair adik tersangka dengan pengusaha tersebut.'


Wajah Rika langsung memucat saat mendengar berita televisi itu. Di layar terlihat sosok yang diduga Raydita saat menerobos kerumunan wartawan di depan rumahnya.


Rika semakin menganga, saat seorang kerabat Darma dengan gamblang menyatakan bahwa Rika sendiri yang memberitahunya bahwa remaja perempuan itu putri adiknya, Rida.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Mengapa mereka menyangkutpautkan Rida?" gumam Rika bingung.


"Adi. Dia harus membantuku untuk masalah ini," batin Rika.


"Pak, boleh saya pinjam telpon?" tanya Rika memberanikan diri.


"Maaf, Bu. Kalau ada yang ingin ibu sampaikan, silahkan sampaikan pada pengacara ibu," sahut salah satu petugas.


"Tapi ini penting, Pak?" pinta Rika dengan wajah mengiba.


"Penting apanya? Mau kabur, Dok?" ejek wanita tadi.


"Diam, Kamu!" bentak Rika.


"Heh, ibu yang harusnya diam!" bentak salah satu petugas lain.


Wanita itu mengulumkan tawa melihat Rika tertohok oleh bentakan petugas itu. Rika membalikkan badannya sambil menahan geram. Tapi saar mengingat apa yang terjadi, ia benar-benar bingung harus meminta bantuan pada siapa. Satu-satunya pilihan Rika adalah menunggu Ghaisan datang.


Sementara itu di rumah Adisurya ....


Dalam berita yang tersebar, Raydita merupakan anak hasil perselingkuhan Adisurya dengan Rida. Tanpa berpikir panjang, Adisurya meninggalkan ruang keluarga sambil menelepon Heru.


Lain halnya dengan Rianti. Wajahnya langsung memerah mendengar berita itu. Rianti langsung mencecar Raydita yang sedang menikmati sarapannya.


"Apa benar Rika mengatakan hal itu? Kapan dia mengatakannya Dita, kapan?" tanya Rianti memekik keras.


Annisa segera menghampiri Rianti dan menenangkannya dengan raut wajah yang bingung.


"Waktu Kak Agas mau tunangan sama Angel, Ma. Ta-tapi, Tante Rika nggak bilang begitu. Tante Rika-."


"Kamu belain dia, hah? Dia sudah memfitnah papa kamu dan kamu masih bela dia?" bentak Rianti.

__ADS_1


"Bukan, Ma. Bukan begitu. Maksud Dita, Tante Rika cuma bilang kalau Dita ini anak-."


"Aarrgh! Kalian sama saja! Biang Masalah!" umpat Rianti dengan tatapan nyalang.


"Ma ...." Raydita terlihat salah tingkah sekaligus merasa takut melihat Rianti yang seperti itu.


"Ma, jangan begitu. Dita tidak tahu apa-apa," ujar Adisurya sambil menuruni tangga.


"Dia tahu, Pa. Dita dengar sendiri Rika bilang begitu pada mereka."


"Ma. Mama salah paham," sela Raydita ingin mencoba menjelaskan.


"Apanya yang salah paham? Yang salah di sini itu papa. Dia yang sudah membawa kamu ke dalam keluarga ini. Lihat hasilnya, bukannya balas budi, malah jadi masalah untuk keluarga kami. Tidak tahu diri!" murka Rianti.


Air mata Raydita seketika luruh mendengar ucapan Rianti. Raut wajah Rianti yang biasanya penuh kasih, kini terlihat sangat membenci dirinya. Raydita tidak menyangka jika akan seperti ini. Sebelum meninggalkan ruangan itu, Rianti bahkan menyempatkan melempar ponselnya yang tak henti berdering dan juga bunyi notifikasi yang terus berbunyi.


Annisa terlihat bingung harus memihak pada siapa. Di satu sisi, ia ingin menenangkan Rianti, tapi di sisi lain, ia juga ingin ada untuk Raydita. Beruntung Adisurya mengerti dan memberinya isyarat utuk menyusul Rianti ke kamar. Annisa menoleh pada Raydita dengan perasaan bersalah, lalu bergegas menyusul ibunya.


Adisurya menghampiri Raydita yang tertunduk sangat dalam sambil terisak. Ia memeluk Raydita dan membiarkannya menagis dalam pelukannya.


"Maafkan mamamu, Sayang. Dia sedang emosi," ujar Adisurya pelan.


"Pa, Tante Rika nggak bilang begitu. Dia cuma bilang kalau Dita ini anak Mama Rida. Dita nggak ada maksud belain Tante Rika, Pa. Dita cuma-."


"Iya, Sayang. Papa mengerti. Saat ini mama sedang syok dengan berita itu. Dia tidak bisa berfikir jernih. Kamu maklumin saja ya, jangan diambil hati," bujuk Adisurya.


Raydita mengangguk pelan, namun masih terdengar sisa isakan. Adisurya merasakan hatinya berkecamuk. Marah, geram, kesal, tapi saat melihat Raydita, ia merasa kasihan. Dan melihat Rianti yang seperti itu, mengingatkan Adisurya pada kejadian saat istrinya mengetahui kondisi Annisa di masa lalu.


"Papa nggak marah sama Dita, kan?" tanya Dita sambil mendongakkan wajahnya.


Adisurya menatap wajah Raydita sambil memaksakan senyuman. Diusapnya air mata yang menggenang di ujung mata Raydita.

__ADS_1


"Papa nggak marah, Dita. Kamu tenang aja ya, papa sudah menyuruh Heru menyelesaikan semua ini. Papa juga akan membuat mereka yang sudah berani mengumbar dugaan tanpa mencaritahu kebenarannya berakhir di penjara," geram Adisurya.


_bersambung_


__ADS_2