Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rianti vs Rika


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Pagi di kediaman Rika ....


Sejak mendengar keluh kesah Raydita, Rika merasa hatinya tak tenang. Tanpa sepengetahuannya, Adisurya dan Rianti sudah membuka lembaran masa lalu yang seharusnya masih tertutup rapat.


Rika merasa cukup lega mengetahui pasangan itu tidak mengungkap siapa ibu dari Raydita. Tapi sampai kapan?


"Tante, Dita ini anak siapa?"


Pertanyaan itu semalaman menggema di kepala Rika. Membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.


Rika melangkah ke luar kamar hendak memastikan sarapan Ghaisan tersaji di meja. Di saat yang hampir bersamaan, Rida juga keluar dari kamarnya.


"Libur, Kak?"


"Shift malam," sahut Rika malas.


"Kenapa? Kok lemes gitu?"


"Semalam kakak kurang tidur."


"Oh ya. Mikirin apa sih? Mmm jangan-jangan ada cowok yang mendekati kakak ya?" tanya Rida setengah menggoda.


"Apa sih?" Deliknya, kemudian mendahului menuruni tangga.


"Agas! Sudah bangun belum, Sayang?" seru Rika sembari melangkah ke ruang makan.


Tak berselang lama, Ghaisan terlihat keluar dari kamar dan bergegas menuruni tangga.


"Pelan-pelan, nanti bisa jatuh," tegur Rida.


"Pagi, Ma, Tante. Tumben Tante udah cantik sepagi ini. Mau ke mana?"


"Mau tahu aja, apa mau tahu banget?" Rida balik bertanya dengan senyum menggoda. Sementara itu, Rika hanya menjadi pendengar saja.


"Mmm mau tahu nggak ya?" Ghaisan mulai menyuapkan sarapannya.

__ADS_1


"Kamu gitu deh. Tante mau ada rapat investor nanti jam sembilan. Pagi ini Tante mau ngambil pesanan baju dulu di butik. Kamu mau dibelikan apa sama Tante? Bulan ini, bagi hasil yang tante terima lumayan loh."


"Terima kasih, Tante. Nggak usah, Agas lagi nggak mau apa-apa." Tolaknya.


"Hmm, kamu kok belum punya pacar sih, Sayang?" tanya Rida.


"Tante sendiri, kenapa belum menikah? Kalau Tante menikah, Agas punya sepupu. Jadi nggak sendiri, ada yang bisa diajak hangout."


"Hehe, kenapa ya?" Rida tersenyum kecut dengan raut wajah yang bingung.


"Belum ketemu sama jodoh yang baik. Tingga jawab gitu aja nggak bisa," ujar Rika datar.


"Nah, itu maksud tante. Belum ketemu jodoh, hehe."


"Ya cari dong. Masa iya nggak ada yang tante suka, atau suka sama tante," ucap Ghaisan.


"Agas, udah deh. Nggak usah mikirin kehidupan tante kamu. Dia aja nggak mikirin masa depannya," delik Rika.


Ghaisan tersenyum tipis melihat tantenya menggigit bibir sembari tersenyum kikuk. Setelah selesai sarapan, Ghaisan pun berangkat ke sekolah mengendarai motornya. Tak berselang lama, Rida juga berpamitan pada Rika.


Rika kembali ke kamar dan terduduk di balkon. Ia mulai memikirkan perkataan putranya yang menginginkan sepupu.


Rika kembali termenung, saat ini pikirannya dijejali sosok Raydita.


"Aku harus bicara dengan Rianti," gumam Rika sambil beranjak hendak menelepon Rianti.


***


Pagi menjelang siang, dengan diantar salah satu supirnya, Rianti menuju sebuah resto. Di sana ia akan bertemu dengan Rika.


Sesampainya di tempat yang dituju, dengan anggunnya Rianti melenggok masuk ke dalam area restoran. Seorang pelayan dengan ramah menyambutnya dan mengarahkan Rianti ke salah satu private room yang ada di restoran itu. Rupanya Rika sudah menunggunya.


"Hai, Rika! Sudah lama menunggu?"


"Aku baru saja datang. Mau pesan apa?" tawar Rika.


"Apa saja," sahut Rianti datar.


"Mau sekalian makan siang?" Tawarnya lagi.

__ADS_1


"Boleh," angguk Rianti.


Setelah memesan menu makan siang mulai dari appetizer (hidangan pembuka), main course (hidangan inti), hingga dessert (hidangan penutup). Rika menatap lekat pada sahabatnya yang tengah berbalas pesan dengan seseorang.


Rianti mengerutkan kening saat menyadari Rika sedang menatapnya. Dari raut wajah Rika, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Rianti pun meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ada apa, Rika? Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Rianti penuh selidik.


"Iya. Aku ingin membicarakan perihal Dita denganmu," ujar Rika mencoba untuk relax.


"Dita? Ada apa dengan Dita?" Nada bicara Rianti terdengar serius.


"Kau tahu kan siapa Dita?" Rika memulai pembicaraan mereka.


"Maksudmu? Dita yang merupakan putri saudarimu-Rida?"


"Iya."


"Lalu?"


"Itu artinya Dita adalah keponakanku, Rianti. Jika memang kalian berniat membuka rahasia di masa lalu, mengapa tidak bicara dulu denganku? Adi pernah berjanji akan menyayangi Dita padaku, dan ...."


"Mas Adi memenuhi janjinya. Dulu, saat ini, dan seterusnya. Kami akan tetap menyayangi Dita," tegas Rianti menyela kalimat Rika.


"Aku tidak percaya," decih Rika.


"Dengar Rika, kau tahu sejak awal bahwa Dita itu adalah putri Rida. Bahkan sebelum aku mengetahuinya. Apa yang kau lakukan untuknya? Tidak ada. Kau menyayanginya sebatas dia sebagai putri kami, bukan sebagai keponakanmu. Ada yang kurang dengan kehidupan Dita selama ini? Tidak. Dia bahkan mendapatkan apa yang tidak didapatkan putri kandungku," tegas Rianti dengan suara yang bergetar. Ada rasa kesal mengetahui Rika mencampuri urusan rumah tangganya.


"Kau tahu apa yang aku rasakan saat mengetahui kebenarannya? Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah pada Mas Adi dan juga dirimu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku belum cukup dewasa untuk menerima kenyataan putriku terlahir dengan kekurangannya. Aku juga tidak bisa menyalahkan Mas Adi, apalagi dirimu. Tapi bukan berarti aku bisa menerima sikapmu saat ini. Lima belas tahun Dita menjadi putri kami. Apa hakmu meragukan kasih sayang kami padanya? Kami menutupi sebagian kebenaran demi kebaikan Dita. Apa menurutmu dia tidak akan terluka jika mengetahui dulu ia akan dibuang ke panti asuhan oleh dirimu?"


Rika terdiam mendengarkan penjelasan Rianti yang panjang lebar. Di tatapnya lekat wajah Rianti, seakan mencoba mencari celah untuk mendebatnya.


"Aku akui, kalian melakukan hal yang benar untuk Dita. Tapi tidak sepenuhnya demi Dita. Kau menutupi kebenaran tentang Annisa agar dia juga tidak membenci kalian. Iya kan?"


"Ya. Itu yang kami lakukan. Kami menjaga dua hati agar tidak terluka. Bayangkan jika mereka atau salah satu dari mereka tahu kebenarannya, Rika. Kita tidak perlu menggaruk luka lama. Karena bisa jadi itu menghadirkan luka baru yang akan meninggalkan bekas. Aku dan Mas Adi yakin bisa hidup bahagia dengan ketiga anak kami," tutur Rianti.


Rika mulai merasa gusar, mau tak mau ia mengakui apa yang diucapkan Rianti benar adanya. Tak hanya Rika, seseorang yang sedari tadi berdiri di balik pintu juga merasakan hal yang sama.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2