
Happy reading ....
🌿
Cukup lama Annisa berada di rumah lamanya. Mengenang kebersamaan dalam kesederhanaan bersama almarhumah ibunya. Sampai kemudian Annisa tersadar oleh deringan ponsel yang memperlihatkan wajah Yuli.
Dengan berat hati Annisa meninggalkan rumah itu. Yuli mengatakan bahwa Rayhan sedari tadi menanyakan dirinya.
Annisa kembali ke rumah Yuli dengan menyusuri jalan yang tadi dilewati. Beberapa warga menyapa dengan sangat ramah. Menanyakan kabar dan keberadaan Annisa saat ini. Tak sedikit ada juga yang memuji penampilannya yang tak lusuh lagi.
Suasana dan keramahan orang-orang di desa ini akan dirindukan Annisa jika ia pulang nanti. Sungguh potret kehidupan yang menyenangkan. Sangat berbeda dengan kehidupan Annisa di kota.
"Dari rumah, Nis?" tanya ibu Yuli.
"Iya, Bu."
"Rumah itu nggak di jual?" tanyanya lagi.
"Jangan, Bu. Nanti kalau Nisa sudah kerja, insyaAllah akan Nisa perbaiki. Jadi kalau Nisa kesini, pulang ke rumah sendiri," sahut Annisa.
"Bagus itu. Ibu setuju," ujar Ibunda Yuli sembari mengacungkan ibu jari
Annisa tersenyum lebar mendengar idenya diapresiasi. Padahal ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Keinginan spontan yang kemudian mulai menjadi tekadnya di masa depan.
Gelak tawa yang bercampur pekikan Rayhan terdengar bersahutan dengan Yuli dan Pak Indra. Annisa berlalu ke belakang rumah dan terkekeh pelan mendapati Rayhan yang dikejar induk ayam.
"Kak Ehan gangguin anaknya ya? Makanya dikejar sama induknya," ujar Annisa sembari mendekati Yuli dan terlihat takut saat Rayhan menuju ke arahnya.
Raut wajah Rayhan nampak lega setelah perhatian induk ayam itu berhasil dialihkan oleh Pak Indra.
"Anak ayamnya lucu, imut gitu. Jadi ya kakak pegang satu. Eeh, emaknya marah," tutur Rayhan dengan napas terengah.
"Makanya jangan asal pegang. Ketahuan induknya ya diamuk," delik Annisa dengan senyum terkulum.
"Nak Ehan, bisa tolong pegangin?" tanya Pak Indra kemudian.
"Bisa. Mau diapain, Pak?" Rayhan langsung menghampiri Pak Indra.
"Mau dipotong. Ayam kampung enak lho, gurih. Terserah nanti mau dimasak jadi apa. Bilang aja sama ibu," sahut Pak Indra.
"Di potong?" Rayhan nampak ragu dan terlihat ngeri.
"Pegang dulu sebentar ya. Bapak mau ngasah dulu pisaunya." Pak Indra dengan santainya meminta Rayhan untuk memegang bagian kaki dan sayap ayam jago itu.
Annisa dan Yuli menahan tawa melihat Rayhan yang menjauhkan ayam itu dari tubuhnya. Apalagi saat Pak Indra mulai mengarahkan pisaunya ke leher ayam. Rayhan menutup kedua matanya sambil bertanya berkali-kali, "Sudah, Pak?"
__ADS_1
"Sudah. Lepas aja," sahut Pak Indra.
"Hii, sadis. Nggak kasian sama ayamnya, Pak?" tanya Rayhan sambil menatap ngeri pada ayam yang sedang menjemput ajalnya itu.
"Ya mau gimana lagi? Ayam kan memang diurus untuk dipotong," sahut Pak Indra sambil tersenyum lebar.
"Saya nggak makan deh. Kasian," ujar Rayhan sambil mencuci tangannya dan berlalu masih dengan perasaan ngeri.
"Kakak kamu selain ganteng, lucu ya, Nis. Udah punya pacar belum?" tanya Yuli pelan.
"Hmmm kamu udah cinta-cintaan ya? Setahuku belum sih. Tapi kalau yang suka banyak. Termasuk kamu, haha ...," kelakar Annisa.
"Masa sih belum punya pacar? Eh, Nis. Memangnya di kota belum ada cowok yang kamu suka? Cowok kota kan ganteng-ganteng."
"Nggak ah. Aku mau sekolah aja. Biar bisa buat almarhumah ibuku bangga."
"Mmm lihat aja nanti, pasti akan ada cowok yang kamu taksir," goda Yuli.
"Ya nggak apa-apa kalau cuma naksir," kilah Annisa.
"Kalau ada cowok ganteng, kenalin ya," pinta Yuli dengan raut wajah mengiba.
"Nggak mau. Nanti aku dimarahin bapak sama ibumu." Tolaknya sambil berlalu kembali ke dalam rumah.
"Ish, kamu pelit. Ya? Ya?" rayu Yuli sambil merangkul pundak Annisa yang hanya mengulumkan senyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Suasana di kediaman Adisurya kembali sepi setelah tamu mereka pulang. Yuda terlebih dulu pulang. Kemudian Dahlan dan keluarganya. Tamunya itu bahkan menolak makan malam bersama.
"Nggak ada anak-anak sepi ya, Mas," ujar Rianti pelan.
"Sekali-kali, Ma. Nanti juga ramai lagi," ujar Adisurya sambil tersenyum menatap layar ponselnya.
"Mas Adi lagi lihatin apa sih? Dari tadi senyum-senyum sendiri."
"Ini, lihat." Adisurya memperlihatkan layar ponselnya pada Rianti. Sedari tadi Adisurya menatap foto-foto Rayhan dan Annisa yang dikirimkan orang suruhannya.
"Seandainya saja kita juga ada di sana dengan mereka," gumam Rianti menatap sendu pada foto-foto itu.
"Mama harus bagaimana supaya Nisa mau memaafkan? Jika penyesalan saja ternyata tidak cukup," imbuh Rianti.
"Beri Nisa waktu, Ma. Kita harus lebih mengerti dia. Memang ini semua tidak mudah. Tapi dengan memaksimalkan upaya, Papa yakin Nisa akan memaafkan kita."
"Mudah-mudahan, Pa. Mama benar-benar menyesal."
Adi menundukkan kepalanya. Kesalahan terbesar ada pada dirinya. Seandainya saja dulu ia memberi Rianti waktu untuk menerima kehadiran Annisa. Setidaknya sampai Annisa menjalani operasinya. Mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
Maafkan ayah, Nisa, batin Adisurya sembari menghela napasnya.
Sementara itu di sisi lain ....
Raydita menatap kosong ke luar jendela. Dalam diamnya, banyak hal yang menjejali pikiran Raydita.
Mendengar Mama Rianti sangat membanggakan Annisa pada tamunya, membuat Raydita merasa kecewa. Kasih sayang yang selama ini ia rasakan, hilang seiring kenyataan yang harus ia terima.
Tak ada lagi yang membanggakan dirinya. Tidak Mama, apalagi orang tua kandungnya.
Orang tua kandung?
Raydita merasa jengah bila teringat dirinya yang terlahir dari rahim Rida. Ia tahu benar wanita itu belum menikah. Dan Sandy? Heh, yang benar saja. Ia bahkan sangat membenci pria itu.
Tidak ada orang yang berani melukainya seperti yang sudah dilakukan Sandy. Raydita ingat betul sorot mata pria itu. Belum lagi seringaian di wajahnya saat dengan sengaja melukai wajahnya. Tapi kenyataan apa ini ...
'Sandy ayah bioligis Dita, Kak. Sandy ayahnya Dita'.
"Tidak. Aku tidak mau. Tidak!" pekiknya sambil melempar gelas yang berada di atas nakas.
Raydita menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pecahan gelas itu. Menutup telinga dengan kedua tangannya. Kenyataan yang mengerikan itu kenapa harus Raydita dengar saat ia baru tersadar.
Ceklek. Raydita menoleh ke arah pintu. Mama berlari ke arahnya.
"Ada apa, Dita? Kamu kenapa?" tanya Rianti yang langsung memeluk Raydita. Terlihat jelas kecemasa dari wajah Riantk, juga wajah Adisurya saat Raydita meronta dan menolak pelukan Rianti.
"Mama nggak sayang Dita lagi. Mama nggak sayang Dita!" pekiknya.
"Siapa yang bilang? Mama sayang sama kamu. Papa juga," sahut Rianti mencoba menenangkan.
"Bohong! Mama lebih sayang sama Nisa."
"Itu nggak benar, Sayang. Mama sayang kalian berdua."
"Kalau begitu jangan biarkan Nisa pulang. Dita nggak suka ada dia di rumah ini, Ma. Semua jadi nggak sayang sama Dita. Semua! Mama, Papa, Kak Ehan. Semua cuma sayang sama Annisa. Dita nggak suka! Dita nggak mau! Dita benci sama Nisa!" pekiknya sambil terus meronta.
"Cukup! Kamu sudah keterlaluan," bentak Adisurya.
Adisurya menatap tajam pada Raydita yang langsung terpaku mendengar bentakan yang baru pertama ia terima. Adisurya berlalu dengan mengepalkan tangan dan raut wajah kecewa.
Hal serupa juga terlihat dari wajah Rianti. Ditatapnya Raydita dengan tatapan sedih.
"Ma, Pa-papa ...."
"Papa benar. Kamu sudah keterlaluan," ujar Rianti datar.
__ADS_1
_bersambung_