
Happy reading ....
*
Bersama Ghaisan, Rayhan tancap gas menuju rumahnya. Tadi ia menelepon Isti, untuk meminta bertemu. Namun bukannya mengiyakan, Isti jusru memberikan nomor Dahlan pada Rayhan. Nah lho.
Tapi bukan Rayhan Adisurya namanya, jika hanya menelepon calom mertua (camer) menciutkan nyalinya. Buktinya, setelah panggilan Isti diakhiri, Rayhan langsung menelepon Dahlan. Bahkan Rayhan sudah memanggil 'abi' pada Dahlan. Uniknya, 'bagai gayung bersambut', Dahlan juga meng-abi-kan dirinya pada Rayhan.
"Boleh saja. Asal ... jangan datang sendiri. Bawa Nisa bersamamu. Dan kalau bisa, biarkan Nisa menginap di rumah kami. Hanya Nisa loh ya. Hehe ... abi yakin, Nak Ray bisa dipercaya."
Rayhan luar biasa girangnya. Bahkan ia sampai lupa jika Ghaisan sedang berduka. Mengetahui Nisa akan menginap di rumah Isti, Ghaisan meminta ikut dengan alasan agar Annisa tidak bosan. Mereka pun meninggalkan Raka dan Yuda yang melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan kedua sahabatnya.
Annisa dan kedua orang tuanya sudah menunggu di teras rumah. Saat Rayhan membunyikan klakson, Annisa berpamitan dan berjalan ke luar gerbang.
"Hati-hati, Han!" seru Adisurya.
Dari dalam mobil, Rayhan terlihat mengacungkan jempolnya. Annisa masuk ke dalam mobil dan terkejut saat mendapati Ghaisan tersenyum padanya. Rayhan pun melajukan mobilnya.
"Mau pindah?" tawar Rayhan dengan senyum menggoda.
"Pindah jangan, Kak?" Tanya Annisa sambil menoleh pada Ghaisan.
Ghaisan mengangguk pelan dengan tatapannya yang sayu.
"Pindah, sana pindah!" titah Rayhan setengah menggoda sambil menepikan mobilnya.
"Nggak apa-apa nih? Nanti Kak Ehan disangka supir loh," goda Annisa.
"It's ok. Demi-demi ...," sahut Rayhan sambil mencubit gemas dagu Annisa. Rayhan sontak menoleh saat Ghaisan mencoba menepis tangan itu dari Annisa.
"Apa?" tanya Rayhan ketus.
"Udah Nis, jangan pindah," imbuh Rayhan sambil mendelik.
"Apaan sih lo? Barusan itu ada lalat, makanya mau gue pukul tangan lo," seloroh Ghaisan berdusta.
"Sini, Sayang," ujarnya kemudian.
"Lo kira mobil gue tempat sampah ada lalatnya?" Mengepalkan tangan pada Ghaisan.
"Jadi pindah nggak nih?" tanya Annisa dengan suara meninggi.
"Jadi," sahut Ghaisan cepat.
"Sana, sana, sana. Awas aja ya kalau nanti ganggu," gerutu Rayhan.
Annisa turun dari mobil dan masuk ke bagian belakang karena Ghaisan telah membukakannya.
"Kak Ehan kenapa? Mau ketemu Isti itu harusnya senang, Kak. Ini kok malah kesal," tegur Annisa.
"Ya gimana nggak kesal, yang janjian kakak, yang pacaran kalian," delik Rayhan sembari mulai memutar kemudi.
"Sirik ngomong lo," celetuk Ghaisan datar.
"Iya, gue sirik. Puas?" tanya Rayhan yang menatap Ghaisan dari kaca spion.
Ghaisan menyeringai tipis sambil merengkuh Annisa dan mencium kepalanya.
"Cemen, lo. Coba kalau berani ciuman bibir di depan gue," tantang Rayhan.
"Ish. Apaan sih Kak Ehan?" protes Annisa dengan wajah bersemu.
__ADS_1
"Malu tapi mau, kan?" goda Rayhan sambil tergelak.
"Fokus, woy!" tegur Ghaisan.
"Iya, bawel," sahut Rayhan.
Annisa tersenyum malu pada Ghaisan yang kembali merengkuhnya. Dada bagian kiri Ghaisan yang menempel pada punggung Annisa membuat gadis itu bisa merasakan degup jantung Ghaisan meskipun samar.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah Isti. Ketiganya disambut Isti di teras.
"Assalamu'alaikum ...," ucap Annisa.
"Wa'alaikumsalam .... Masuk yuk, Nis?" Isti meraih lengan Annisa yang menghampirinya dan menggandeng sahabatnya itu ke dalam rumah.
"Sayang, aku nggak diajak masuk?" tanya Rayhan setengah menggoda.
"Ah, ribet lo. Masuk aja laah. Pakai acara basa-basi segala," gerutu Ghaisan yang mendorong punggung Rayhan pelan.
"Masuk, Kak," ujar Isti sambil tersipu.
"Nah, gitu dong. 'Kan enak kalau udah dipersilakan," sahut Rayhan.
"Emangnya lo, main nyelonong aja," sindir Rayhan pada Ghaisan.
"Kalau nggak disuruh masuk, emang lo mau balik lagi?" tanya Ghaisan.
"Ya nggak juga," sahut Rayhan yang menggaruk tengkuknya.
Mereka dipersilakan masuk ke ruang keluarga. Ghaisan duduk bersebelahan dengan Annisa. Sedangkan Rayhan ... meski berdekatan, ia dan Isti duduk di kursi yang berbeda.
"Pada mau minum apa?" tanya Isti.
Isti mengulumkan senyum, kemudian meminta dibuatkan teh hangat untuk tamunya pada ART yang sedang menghidangkan camilan di meja.
"Nis, jadi menginap, 'kan?" tanya Isti, dan diangguki Annisa.
"Aku nggak ditanya, Yang ...," celetuk Rayhan.
"Kampret lo, Ray. Udah, Isti. Kamu ngobrol aja sama Rayhan," seloroh Ghaisan.
Isti menoleh pada Rayhan. Sambil menopang dagu, ia bertanya pada Rayhan.
"Kak Ray mau bicara apa sama Isti?"
Dari tatapannya, Isti dapat melihat kerinduan yang teramat sangat. Sejujurnya Isti merasa sangat senang, mengetahui Rayhan yang berani meminta izin pada sang Abi. Karenanya, Isti mencoba menahan diri untuk tidak mengecewakan orang tuanya lagi.
"Sayang, kamu nggak keberatan 'kan kalau kita tunangan dulu?" tanya Rayhan to the point.
"Tunangan?" Isti balik bertanya. Padahal dalam hati ia bersorak kegirangan.
"Iya. Menikahnya tahun depan. Setelah aku lulus. Mau ya ...." Rayhan hampir saja meraih tangan Isti jika saja Isti tidak spontan menjauhkannya.
"Yaang ...," lirih Rayhan.
"Iya, Kak. Kalau Abi setuju, Isti juga setuju," sahut Isti malu-malu.
"Aseek," timpal Ghaisan.
"Sirik lo," delik Rayhan dengan raut senang.
"Terima kasih, Sayang," ujar Rayhan, dan diangguki Isti.
__ADS_1
Di sisi lain, Ghaisan melirik penuh arti pada Annisa. Lirikannya mengisyaratkan pertanyaan yang hampir serupa.
"Apa, Kak?" tanya Annisa yang balas menatap Ghaisan.
"Aku nggak mau tunangan dulu, Sayang. Aku maunya kita langsung nikah," ujar Ghaisan.
"Kak Agas menjawab pertanyaan Kak Ehan ya?" seloroh Annisa.
"Eh? Maksud kamu?" tanya Ghaisan sembari memposisikan duduknya agar menghadap pada Annisa.
"Ya tadi 'kan Kak Ehan nanya, 'kamu nggak keberatan 'kan kalau kita tunangan dulu?' Nah, yang barusan itu jawabannya 'kan?" Ghaisan sampai tertohok dengan apa yang didengarnya. Sementara itu Isti terkekeh, dan Rayhan menggaruk tengkuknya.
"Aku bicara sama kamu, Sayang. Tentang kita. Nggak ada hubungannya sama Rayhan," ujar Ghaisan. Sepertinya Ghaisan menganggap serius ucapan Annisa.
"Ooh, Nisa kira itu jawaban dari pertanyaan Kak Ehan," selorohnya lagi.
"Pertanyaan Ray 'kan udah dijawab Isti. Kamu gimana sih, Yang?" Ghaisan terlihat mulai kesal. Ia kembali ke posisi duduknya semula.
Annisa justru terkekeh melihat sikap Ghaisan. Hal itu tentu saja membuat Ghaisan mendelik kesal.
"Maaf, Kak. Nisa bercanda," ujar Annisa.
"Udah dong, jangan bete. Maaf ya ...," imbuhnya.
Ghaisan menyeringai tipis sambil melirik pada Annisa. Sebagai balasannya, Ghaisan menunjuk pada pipinya.
"Idih, nggak ah," tolak Annisa.
"Cuma di sini, Sayang," ujar Ghaisan, masih dengan posisi telunjuk pada pipinya.
"Malu, Kak," sahut Annisa.
"Kalau di sini?" tanya Ghaisan lagi. Kali ini telunjuknya mengarah pada bibirnya.
"Apalagi di situ. Enggak!" tegas Annisa.
Bugh.
Keduanya terperanjat dengan bantal sofa yang melesat cepat ke wajah Ghaisan. Rupanya Rayhan yang melempar bantal itu.
"Lo sengaja 'kan mau manas-mansin gue?" tanya Rayhan ketus.
"Ge-er," delik Ghaisan.
"Terus apa dong? Nggak di mobil, nggak di sini. Lo mau iman gue runtuh ya?" seloroh Rayhan.
"Ciee, yang lagi nahan-nahan. Lo sih enak, udah dapat jawaban. Sedangkan gue?" Ghaisan menoleh pada Annisa.
"Apa?" tanya Annisa manja.
"Jawab dong pertanyaanku, Sayang," ujar Ghaisan yang kembali menghadap pada Annisa.
"Jawab, Nis! Si Agas berisik kalau masih tanda tanya," seloroh Rayhan.
"Harus sekarang, Kak?" tanya Annisa kikuk.
"He-em," angguk Ghaisan.
Annisa pun bingung harus menjawab apa.
_bersambung_
__ADS_1