Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rayhan-Isti (imam salat)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Bunyi azan subuh yang terdengar dari sebuah aplikasi di ponsel Isti membuat pemiliknya mengerjap. Setelah mengucek salah satu matanya, Isti mencoba untuk menjauhkan tangan Rayhan dari bagian dada dan tubuhnya beringsut agar bisa menatap wajah Rayhan yang masih terlelap.


"Terima kasih, Ya Robb. Engkau izinkan aku ada di posisiku hari ini. Hari dimana akan menjadi awal kehidupan rumah tangga kami," batin Isti seraya mengusap wajah tampan yang selama ini hanya ada dalam angan.


Wajah tampan itu tak pernah membosankan untuk dipandang. Tapi Isti segera sadar kala suara azan itu berakhir dan ia pun harus segera mandi junub setelah melakukan hubungan suami-istri.


Isti senyum-senyum sendiri mengingat kejadian malam tadi. Tapi saat kakinya mulai melangkah, senyuman itu berubah jadi ringisan.


"Sstt, aah. Aww," ringisnya pelan.


Selain rasa sakit, ada rasa tak nyaman seperti sesuatu yang mengganjal diantara kedua pahanya. Dan itu membuat gaya berjalan Isti sedikit berbeda. Namun begitu, terlepas dari apapun yang Isti rasakan pagi ini, senyum di wajahnya hadir kembali setiap kali mengingat momen pertama kali dirinya dan Rayhan memadu kasih.


Ketika Isti mulai membersihkan diri, Rayhan mengerjap dari tidurnya. Ia terkejut mendapati Isti tak ada di sampingnya. Tapi kemudian, Rayhan menoleh ke pintu kamar mandi ketika suara guyuran air terdengar dari dalam.


Seperti halnya Isti, Rayhan pun senyum-senyum sendiri. Apalagi ketika mengingat kepanikan Isti yang terus menggosok noda darah pada seprai yang mereka gunakan.


"Paling juga cuma setetes, Sayang. Nggak usah di gosok begitu," ujar Rayhan ketika Isti sedang menggosok noda itu dengan tisu basah.


"Malu, Kak. Ini 'kan seprai hotel," sahut Isti dengan wajahnya yang merona.


Rayhan terkekeh pelan seraya memeluk bantal yang digunakan Isti. Rayhan mencium aroma Isti pada bantal itu. Dengan gemas, ia pun mengendus lalu membenamkan wajahnya pada bantal tersebut.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka. Rayhan langsung menoleh, dan tersenyum lebar pada Isti yang mengenakan handuk kimono dengan gaya jalannya yang terlihat lucu.


"Good morning, Dear," sapa Rayhan seraya menatap Isti dengan tatapan berbinar.


"Good morning, Hubby," balas Isti. "Kak Ray, sana mandi. Kita salat subuh berjamaah," pinta Isti.

__ADS_1


"Aku malu, Sayang. Bacaanku belum benar. Dan lagi surah pendek yang kuhapal juga baru sedikit," ujar Rayhan pelan.


"Nggak apa-apa, Kak. Bacaan Isti juga belum benar semua. Kita 'kan sama-sama belajar," sahut Isti.


"Kamu yakin mau jadi makmum salatku?" tanya Rayhan ragu.


"Yakin dong," angguk Isti.


"Oke deh. Aku mandi dulu ya." Rayhan beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Isti.


"Eits. Isti udah wudu, kak. Nanti setelah salat ya," ujarnya.


"Hmm, baiklah. Ronde selanjutnya ya, coming soon ...," todong Rayhan.


Isti tersipu seraya mengangguk pelan. Rayhan pun bergegas menuju kamar mandi dengan semangat berapi-api.


"Jangan lupa niat mandinya dibaca ya, Kak," ujar Isti mengingatkan.


Isti mulai menyiapkan pakaian dan peralatan salat untuknya dan juga Rayhan yang dikeluarkan dari dalam koper yang tersedia di sana. Ia merasa lega, karena ibunya tidak sampai lupa menyiapkan keperluannya.


"Terima kasih, Umi. Mulai hari ini, Isti akan belajar menjadi seorang istri," gumamnya.


Isti menunggu Rayhan di atas sajadahnya. Sebelumnya ia telah melakukan salat sunah qobliyah subuh. Wajah cantiknya tak lepas dari senyum kala melihat Rayhan mengenakan celana sarung yang juga disiapkan oleh Ikah untuk sang menantu.


"Sekarang?" tanya Rayhan seraya menoleh pada jam dinding.


Isti mengangguk dan mulai memperbaiki posisinya. Setelahnya, keduanya pun mulai melaksanakan salat subuh pertama mereka sebagai pasangan baru.


Dari suaranya, terdengar jelas rasa gugup pada diri Rayhan. Namun beruntung tak ada yang sampai terlewatkan karena surah yang dibaca tak terlalu panjang.


Setelah selesai dzikir dan doa, Rayhan memutar posisi duduknya. Tangan Isti yang sudah terulur pun ia sambut dengan senyuman yang lebar. Setelah Isti mencium punggung tangannya, Rayhan menangkup wajah Isti dan menghujani wajah itu dengan ciuman.

__ADS_1


"Sudah, Kak," kekeh Isti.


"Istri shalehahku kok cantik banget sih," ujar Rayhan gemas.


"Aamiin. Terima kasih, kak."


"Ronde selanjutnya?" tanya Rayhan menggoda.


Isti tertawa pelan sembari bertanya, "Memangnya nggak lemas?"


"Enggak. Udah full nih energinya," seloroh Rayhan dengan satu tangan diangkat menyiku untuk memperlihatkan otot bisep yang terbentuk dengan sempurna. "Oh iya. Masih sakit nggak?" tanya Rayhan kemudian.


"Sedikit," sahut Isti pelan.


"Bilang aja, Sayang. Kalau masih sakit, kita tunda. Bisa kapan aja. Iya, 'kan?"


"Cuma sakit sedikit kok, Kak. Nanti juga enggak," ujar Isti setengah berdusta. Isti tentu tak ingin memadamkan semangat Rayhan yang membara.


"Kalau 'basah' sakitnya berkurang ya?" tanyanya lagi. Isti tersipu malu seraya mengangguk pelan.


"Itu artinya, pemanasannya harus agak lama. Supaya benar-benar 'basah'. Jadi nggak hanya aku yang menikmatinya, tapi kamu juga, Sayang."


"Sakit juga bukan sakit yang gimana gitu, Kak," kilah Isti.


"Sakit enak, 'kan?" todong Rayhan seraya mencolek dagu Isti yang mengangguk dengan wajah yang sangat merah.


"Udah, ah. Beresin dulu sajadahnya," ujar Isti sembari menepuk lengan Rayhan yang terus saja menggodanya.


Mereka bahkan belum beranjak dari atas sajadah, tapi pikiran keduanya sudah travelling kemana-mana. Untung saja godaan itu datangnya setelah salat. Jika sebelum salat, mungkin keduanya akan sulit mengendalikan diri dan bisa-bisa justru malah jadi lupa diri.


*

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2