
Happy reading ....
🌿
Juna tersenyum tipis saat menatap tiga remaja yang tertidur sangat lelap. Cicitan burung dan kokokan ayam yang saling bersahutan tak lantas membangunkan mereka.
Rayhan dan kedua temannya mengingatkan masa remaja Juna yang cukup nakal. Ingin mencoba dan tertantang oleh siapapun yang bersikap sedikit arogan tentu alasan utama remaja seusia mereka berbuat nekat dan juga semaunya.
"Belum bangun?" tanya seorang pria mengagetkannya.
"Belum, Bang," sahut Juna sambil menutup kembali pintu kamar itu.
"Biarkan saja mereka istirahat. Aku cukup lega masalah ini tidak panjang. Bayangkan kalau para wartawan itu menemukan putra Tuan Adi ada di sana." Ujarnya sambil menunjuk pada berita pagi ini yang memperlihatkan jejeran anak muda yang berjongkok dan sedang mendapatkan arahan dari pihak kepolisian.
Semalam, pihak kepolisian yang berpatroli memang sudah menargetkan balap liar yang sering diadakan di jalan itu. Saat Juna dan teman-temannya sedang nongkrong di cafe milik Yopi, kakaknya-Heru menelepon dan meminta untuk menjauhkan Rayhan juga teman-temannya dari kumpulan mereka.
Mau tak mau, Juna yang sudah lama meninggalkan balapan liar, kembali ke sana. Tak hanya sendiri, tapi juga dengan beberapa temannya yang juga merupakan mantan penyuka balapan itu.
Ceklek.
Juna dan Heru sontak menoleh. Rayhan keluar kamar sambil mengucek kedua matanya. Ia mengerjap, dan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Mencoba meyakinkan pria yang sedang meminum kopi itu adalah asisten papanya.
"Pak Heru?" Ujarnnya pelan.
"Selamat pagi, Den. Bagaimana, nyenyak?"
Rayhan menghampiri dua pria yang sedang terduduk di sofa sambil memperhatikan sekitar ruangan itu.
"Juna?" Rayhan menatap heran pada pria yang diingatnya semalam.
"Sial*n. Jadi Lo yang bawa gue ke sini?" Rayhan terlihat emosi, namun rasa sakit di kepalanya membuat putra Adisurya itu menahan aksinya.
"Sabar, Bro."
"Den Rayhan. Kenalkan, Juna-adik saya."
"Adik Pak Heru? Pak, tahu nggak yang dia lakukan pada saya semalam. Dia ...." Kalimat Rayhan terhenti mendengar berita di tv. Rayhan melongo melihat wajah Atta dan pria yang disapa Bang Jo terpangpang di layar kaca.
"Lo lihat kan? Kalau semalam gue dan teman-teman gue nggak datang, tampang Lo tu yang mejeng di tv."
__ADS_1
Rayhan masih mencoba untuk mencerna ucapan Juna. Ia menoleh pada Pak Heru yang memberinya anggukan ambigu.
"Jadi maksudnya, Dia ini sengaja datang untuk menyelamatkan saya?"
"Sopan dikit dong, gue ini lebih tua dari Lo. Panggil abang gitu, kan enak."
"Lo bisa diam nggak? Gue mau dengar dulu penjelasan Pak Heru."
"Oke, Den-deng."
"Lo itu yang nggak sopan. Nama gue Ray, jangan seenaknya Lo ya."
"Udah, udah! Kalian ini, kok malah jadi bertengkar? Juna, minta Mbok menyiapkan sarapan."
Rayhan mengikuti langkah Juna dengan tatapan sinis. Ia masih belum mengerti dengan semua yang telah terjadi ini.
"Den, lain kali saya mohon. Pikirkan setiap tindakan yang akan Den Ray ambil. Ada nama baik Tuan yang akan dipertaruhkan. Beruntung semalam Neng Nisa menelepon saya. Jika tidak, mungkin pagi ini berita di tv akan dihebohkan dengan terciduknya anak pengusaha Adisurya pada razia balap liar yang dilakukan tim patroli. Den Ray tahu, mungkin itu terdengar sepele, tapi imbasnya akan sangat besar bagi Tuan."
"Nisa?" gumam Rayhan. Putra sulung Adisurya itu teringat kembali ucapan Annisa sebelum percakapan mereka diakhiri.
Hati-hati. Kakak balapan di mana?
"Den Ray jangan khawatir, Tuan Adi tidak akan mengetahui hal ini. Selain itu, Neng Nisa juga meminta saya untuk tidak memberitahukan hal ini dari beliau."
"Mungkin dia suka sama Lo," celetuk Juna yang kembali duduk bersama mereka.
"Huss, sembarangan. Yang pasti Neng Nisa mengkhawatirkan Den Ray. Dia terdengar sangat cemas saat menelepon saya semalam."
Rayhan masih terpaku mendengar ucapan Heru. Benarkah Annisa mengkhawatirkannya?
Sementara itu di kediaman Sandy, pria itu mengeratkan kepalan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ia merasa geram karena apa yang dinantikannya sejak malam tidak terealisasi.
"Sial. Kemana perginya anak Adisurya? Jelas-jelas gue lihat semalam ada di sana. Tapi kok nggak ada di berita? Apa ada orang dalam yang menutupinya?" gumam Sandy heran.
Sandy menghubungi temannya. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Temannya itu mengatakan bahwa djrinya benar-benar tidak melihat putra Adisurya di kantor polisi.
"Bodoh. Padahal ini kesempatan emas untuk mempermalukan Adisurya. Kalau anak itu tertangkap, Adisurya pasti akan kehilangan muka. Aargh, sial!" Umpatnya.
Semalam ia memang sempat melihat ketiganya ada di sana. Namun saat mendengar sirine polisi, Sandy bergegas meninggalkan tempat itu. Ia berharap temannya yang seorang wartawan akan membawa kabar baik pagi ini. Nyatanya, ia harus kecewa.
__ADS_1
"Mbak! Bi!" dari arah tangga terdengar Fany memekik memanggil pelayannya.
"Kemana Raka? Semalam ada di rumah. Teman-temannya juga ada. Mereka kemana?" Fany berlalu melewati Sandy. Mama Raka itu memanggil penjaga untuk menanyakan perihal putranya.
"Apa? Tengah malam ke luar? Kenapa dibiarkan?" Fany terlihat sangat marah.
Berkali-kali Fany menghubungi Raka, namun ponselnya tidak aktif. Saat tatapannya mengarah pada Sandy, dengan kesal ia menghampiri dan melempar bantal sofa ke kepala Sandy.
"Mas! Aka tidak di rumah, kamu kok bisa tenang begitu? Cari dong! Minimal cemas anaknya nggak ada di rumah. Mas!"
"Cari di mana, Fany? Aku sudah ingatkan agar Raka menjauhi anak Adisurya, tapi apa? Kamu bilang, biarkan! Sekarang lihatkan, anak itu jadi nakal!" seru Sandy yang merasa semakin kesal.
Dering ponsel Fany mengalihkan kekesalan wanita itu. Raut wajahnya senang melihat nama yang tertera.
"Aka, kamu dimana sayang?"
"Aka di rumah teman, Ma. Semalam ada teman yang mengajak kumpul di rumahnya. Kami barbeque sampai pagi, Ma. Ini Aka baru bangun, masih ngantuk. Ponsel Aka juga lagi dicas."
"Syukurlah. Mama khawatir, Aka. Ya sudah, kamu tidur lagi. Jangan bawa motor kalau masih mengantuk."
"Oke, Ma. Aka tidur lagi ya."
Fany terlihat lega. Sandy hendak bertanya tentang keberadaan Raka, namun Fany sudah berlalu sambil mendelikkan mata.
***
"Gila. Gue bohong sama nyokap," ujar Raka dengan raut wajah menyesal.
"Ya mau gimana lagi. Daripada ketahuan," sahut Rayhan.
Rayhan dan kedua sahabatnya sedang menikmati sarapan di ruang keluarga. Di luar, Juna sedang asik memandikan anjing kesayangannya. Pria itu nampak sangat menikmati paginya tanpa memperdulikan tatapan heran dari dalam rumah.
"Ray, kalau Bang Juna ke sana atas permintaan Pak Heru, pertanyaannya, dari mana Pak Heru tahu kita ada di sana?" tanya Ghaisan heran.
"Benar Ray, nggak mungkin kan bokap Lo masih pakai bodyguard bayangan. Lo kan udah gede. Kalau Dita sih mungkin aja, sampai kuliah atau kerja juga masih oke lah dapat pengawalan. Nah Lo?"
"Nggak mungkin bodyguard bayangan. Udah jelas-jelas itu teman-teman Bang Juna. Atta juga kenal sama Bang Juna," sanggah Ghaisan.
"Iya juga. Aah, bingung gue." Raka menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
Rayhan hanya terdiam, seakan tak berniat menjawab rasa penasaran Raka dan Ghaisan. Ia masih tak habis pikir tentang Annisa. Apa ia harus berterima kasih pada Nisa sesampainya di rumah?
_bersambung_