Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
buku bekas


__ADS_3

Happy reading ....


Mela menyenggol siku Raydita dan menunjuk ke arah Annisa dan teman-temannya dengan gerakan mata.


"Bodo ah, males gue. Nggak di rumah, nggak di sekolah. Selalu lihat muka udiknya," keluh Raydita.


"Mereka akrab banget. Kak Ray sama teman-temannya, nggak biasanya ikut-ikutan gabung," ujar Tasya.


"He-em, jangan-jangan si Nisa nargetin Kak Ray jadi pacarnya. Apalagi mereka satu rumah," sahut Mela dan diangguki oleh Tasya yang berucap, "Hati-hati aja, Dit."


"Lihat aja kalau berani ada maksud lain ke Kak Ehan. Biar dibejek sama Mama, dijadiin keset sekalian." Sahutnya malas.


Setelah bekal Isti habis, Rayhan dan kedua temannya berlalu begitu saja. Annisa merasa tak enak hati dan meminta maaf pada sahabatnya itu. Beruntung Isti memakluminya, dan mereka kembali ke kelas.


Di dalam kelasnya, Annisa bisa dibilang masih pasif. Ia lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan teman-temannya yang aktif mengemukakan pendapat mereka.


"Nisa, kalau menurutku, kamu harus sering-sering mendengarkan lagu berbahasa inggris lalu tulis liriknya. Coba kamu cari artinya dan pelajari rangkaian kalimatnya," nasehat Isti di suatu hari.


"Pelajari juga kata-kata dasar dan bentuk kata/tenses-nya," timpal Yuda.


Memang benar, bahasa pengantar menjadi kendala utama bagi Annisa. Membuatnya menjadi kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapatnya tentang materi pelajaran.


Pelajaran pun berakhir. Yuda yang duduk di belakang, mencolek punggung Annisa.


"Sstt."


"Apa?"


"Bengong aja, ngerti nggak?"


"Sedikit."


"Aku ada banyak buku bekas waktu les dari SD sampai SMP. Mau?" Tawarnya. Annisa mulai menimbang, itu ide yang bagus. Alangkah lebih baik memulai untuk mempelajarinya dari tingkat dasar.


"Boleh. Tapi dibolehin nggak sama ibu kamu?"


"Pasti boleh dong. Bukunya aja udah berteman debu di gudang."


"Oke, kapan?" Annisa terlihat antusias.


"Apanya yang kapan? Kalian janjian nggak ngajak aku," ujar Isti pelan sambil memukulkan pelan pulpennya ke tangan Annisa.


"Bukan janjian, tapi Yuda mau minjemin buku-buku bekas lesnya."


"Oh, kalau itu aku juga punya, nggak banyak sih. Ada empat atau lima. Kalau mau, hari Senin aku bawakan."


"Aah, aku terharu. Kalian baik banget. Sejujurnya aku pengen banget bisa les Bahasa Inggris, tapi nggak berani bilang. Takutnya nanti dikira ngelunjak, terima kasih ya. Aku jadi bisa belajar banyak," ujar Annisa menatap dua sahabatnya satu persatu dengan rasa haru.


"Santai aja, Nis. Kalau kamu memang kesulitan, tanyakan aja sama kita. Ya nggak Bu Haji?"

__ADS_1


Panggilan Yuda membuat Isti yang semula tersenyum menjadi merengut.


"Ish kamu, Yud. Tahu Isti nggak suka, masih aja bilang begitu," protes Annisa.


"Tadi kata Rayhan apa, siapa tahu suatu hari nan ...."


"Stop. Jangan mengulang ucapan Kak Rayhan ya." Deliknya sambil bersemu malu.


"Kamu suka ya sama dia?" Isti mengangguk cepat.


"Nisa, kapan-kapan boleh nggak main ke rumah kamu?" tanya Isti pelan.


"Main?"


"Jangan main deh, kerja kelompok. Masa nggak boleh, Nis?" imbuh Yuda.


"Nggak tahu, boleh nggak ya. Kalian lupa ya, di rumah kan ada Dita." Ujarnya pelan.


"Iya juga."


Setelah satu pelajaran terakhir, para siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas.


"Nisa, ada yang jemput nggak?" tanya Yuda.


"Nggak tahu," sahut Annisa jujur.


"Aku antar ya. Biar sekalian tahu rumah kamu."


"Dih, pelupa. Ya mau nganterin buku-buku yang tadi diomongin di kelas. Emangnya mau ngapain, ngapel?" goda Yuda.


"Hehe enggak, aku nggak mikir begitu. Minta no ponsel kamu ya, nanti aku kirim alamatnya. Tapi mungkin janjian di luar rumah, nggak apa-apa?" tanya Annisa.


"Jangan ngapel, ngepel aja. Cocok," canda Isti.


"Yee ... oke, nggak apa-apa. Lumayan kan weekend bisa dipakai belajar. Daripada mikirin aku yang masih jauh dari jangkauanmu," kelakar Yuda.


"Mulai deh, nggak jelas," delik Annisa.


Gelak tawa Raydita dan teman-temannya terdengar melewati Annisa. Ingin sekali Annisa meminta Raydita mengajaknya pulang bersama. Namun sejak hari pertama sekolah, Raydita sangat menjaga jarak dengan dirinya.


Sejujurnya Annisa bersyukur, karena Raydita tidak menyulitkannya di sekolah. Mungkin gadis itu terlalu malu atau gengsi untuk sekedar bertegur sapa dengannya.


"Eh Dit, Lo saudaraan ya sama Nisa? Tadi pagi gue lihat Lo datang sama dia," ujar Lily salah satu teman kelas mereka.


"Dih, sorry aja. Gue nggak punya sodara udik model dia." Deliknya sambil berlalu.


Di bagian depan sekolah, belum nampak mobil yang dikendarai Mang Asep. Setelah dua sahabatnya berpamitan, Raydita menunggu dengan perasaannya yang kesal. Sesekali ia mendelik pada Annisa yang sedang melambaikan tangan pada Isti, ia merasa jengah melihat senyum di wajah Annisa yang terlihat lugu.


"Hi, Sweety!" Raydita menoleh dan menatap heran pada pria seumuran papanya yang menyapa dirinya.

__ADS_1


"Kalau ada yang mau ditanyakan, tuh ada security!" tunjuknya dengan gerakan wajah.


"No, Om hanya ingin bertanya, kamu putri Adisurya kan?"


"Kok tahu?" tanya Raydita dengan bangga.


"Tahu dong, kan Papa kamu teman Om dulu waktu di kampus. Raka juga pernah cerita, kalau adik temannya sekolah di sini juga," dusta pria itu yang tak lain adalah Sandy.


"Kak Raka temannya Kak Ehan?"


"Ehan?"


"Rayhan, Om. Kalau di rumah dipanggilnya Ehan."


"Ooh, iya itu. Kamu belum ada yang menjemput? Mau Om antar pulang? Kebetulan barusan Raka bilang, dia ada latihan basket. Ya ... daripada Om pulang sendiri, lebih baik nganterin kamu pulang, gimana?"


Tak jauh dari pintu gerbang, Mang Asep sedang berjalan menghampirinya. Raydita mulai menimbang ajakan Sandy saat melihat Annisa memghampiri mereka.


"Hei, mmm Annisa?"


"Iya, Om. Om mau menjemput Kak Raka?"


"Iya, tapi sayangnya dia ada latihan basket."


"Si Upik kok bisa kenal papanya Kak Raka? Gue bisa malu kalau sampai ada yang lihat pulang pergi sama si Upik Abu ini. Apa gue minta dianterin sama Om ini aja ya? Dia kan temannya papa juga," gumam Raydita dalam hatinya.


"Silahkan Non, Neng," ujar Mang Asep mempersilahkan dengan gerakan tangannya.


"Om, bisa antar Dita dulu nggak?" Mendengar pertanyaan Raydita, Mang Asep ingin mengingatkan untuk langsung pulang, namun mendapat delikan dari Nona-nya.


"Dit, nanti Ibu khawatir loh kalau kamu nggak langsung pulang," ucap Annisa.


Raydita menoleh pada Annisa yang berada di belakangnya. Sambil mengeratkan gigi dengan mata yang membulat, Raydita berucap, "Bisa diam nggak Lo."


Annisa bisa apa. Ia hanya bisa tertunduk saat Raydita kembali bicara pada ayah Raka.


"Yuk, Om! Antar Dita beli aksesoris di mall MG. Om tahu kan mall itu dimana?"


"Tahu dong," sahut Sandy tersenyum tipis pada putri Adisurya yang terlihat arogan itu.


"Annisa? Om mau antar Dita, kamu mau ikut?" Tawarnya.


"Jangan sama dia, Om," cegah Raydita.


"Enggak, Om. Terima kasih. Nanti pulangnya gimana?" Annisa terlihat mencemaskan Raydita.


"Om yang akan antar pulang. Kamu jangan khawatir. Om juga akan meminta Dita untuk memberitahu mamanya."


"Oh, gitu ya." Annisa tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Idih, siapa elo sok-sokan perhatian sama gue. Yuk, Om!" Raydita tanpa sungkan melingkarkan tangannya di lengan Sandy. Melihat hal itu, Sandy menyeringai tipis. Sementara Annisa dan Mang Asep menatap punggung mereka dengan tatapan bingung dan cemas.


_bersambung_


__ADS_2