Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Curhat


__ADS_3

Happy reading ....


*


Malam pertama di apartemen Rida terlihat sangat menyenangkan. Tidak hanya bersama Raydita, Raka juga menyempatkan mampir sebelum kembali ke rumahnya. Raka datang ke apartemen itu dengan membawa satu box besar pizza yang sengaja dibelinya.


Raydita merasa sangat senang, hingga lupa ia sedang mengurangi jatah makan malam. Rida bahkan sempat menyindir putrinya yang menanggapi dengan cengiran hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kak Raka mau kemana lagi? Nginep di sini dong," pinta Raydita ketika melihat Raka sedang mengambil kunci mobil yang diletakkan di atas meja.


"Sorry, nggak bisa. Gue udah janji sama mama. Mumpung waktu makan malam masih ada, siapa tahu mama belum makan. Raka pulang dulu ya, Tante." Pamitnya pada Rida yang berada di dapur.


"Iya. Terima kasih ya, Ka. Hati-hati di jalan," ujar Rida sambil membawa sebotol air putih untuk Raydita.


Raka mengangguk kecil dan mengacak lembut rambut Raydita saat melewatinya sambil berkata, "Bye, Dek."


"Bye," sahut Raydita singkat.


Rida bisa melihat ada sekilas gurat kekecewaan pada raut wajah Raydita. Ia kemudian menatap punggung Raka yang sedang membuka pintu, dan mengangguk saat anak itu melambaikan tangan padanya.


"Sekali-kali, main dong ke rumah Raka," usul Rida pelan. Ia tak yakin apa yang diucapkannya sesuatu yang benar.


"Nggak ah. Mamanya Kak Raka jutek," sahut Raydita sekenanya.


"Tapi menurut tante, mamanya Raka baik banget. Buktinya tidak melarang Raka dekat dengan kita," imbuh Rida.


"Iya juga sih. Mungkin lain kali," sahut Raydita pada akhinya.


"Kamu lapar, apa doyan? Udah mau abis setengahnya aja," ucap Rida setengah menyindir.


"Dua-duanya, hehe. Kalau Dita jadi gendut, salahin Kak Raka. Hmm gagal deh dietnya," seloroh Raydita.


"Kamu yang makan. Kamu yang kenyang. Kok Raka yang disalahkan? Lagian kenapa juga harus diet sih? Lebih baik berisi, dari pada kurus," tutur Rida.


"Hmm Mela tuh udah ngatain aku, Tante. Katanya sekarang aku gendut. Malu, kan?" keluh Raydita.

__ADS_1


"Enggak gendut kok. Justru sekarang seksi lho, mukanya juga cerah. Dari pada sebelumnya agak kurus," ujar Rida.


"Ini juga gara-gara Nisa. Nggak pagi, siang, malam, karbo terus. Jadi ikut-ikutan deh?" delik Raydita.


"Dasar, kamu. Kok jadi nyalahin orang lain," ucap Rida sambil mengulumkan senyumnya. Raydita hanya nyengir sambil menyuapkan potongan pizza pada Rida yang terlihat malu saat membuka mulutnya.


Di tempat lain, ada yang berbeda dengan suasana di ruang makan keluarga Adisurya. Rayhan yang biasanya riang, sedari tadi lebih banyak diam. Begitu juga dengan Annisa yang terlihat kurang berselera.


Rianti dan Adisurya beberapa kali saling pandang dengan ekspresi penuh tanya. Tidak biasanya meja makan itu sepi dari celotehan mereka.


Setelah berkode dengan istrinya, Adisurya berdehem pelan sebelum memulai pertanyaan.


"Kalian kenapa? Kok dari tadi seperti nggak ada selera? Mau pesan makanan di luar? Atau kita makan di luar yuk!" tawar Adisurya.


Rayhan menggeleng pelan, begitu juga dengan Annisa.


"Coba, mama mau tahu. Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rianti pada Rayhan.


Rayhan yang semula menatap malas pada piring makanannya, mencoba membalas tatapan lekat Rianti.


Rayhan menyadari hal itu. Tanpa sungkan Rayhan pun menceritakan apa yang dialaminya dari awal sampai tadi siang.


Adisurya dan Rianti nampak serius mendengarkan, begitu juga Annisa yang sudah mengetahui sebagian ceritanya. Di akhir ceritanya, Rayhan membuang kasar nafasnya.


Adisurya mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian berkata: "Kamu serius dengan niat kamu terhadap Isti? Kalau memang seperti itu, mama sama papa akan memastikannya pada Pak Dahlan dan istrinya. Tapi tidak sekarang, nanti setelah Isti lulus sekolah."


"Maksud papa?" tanya Rayhan heran.


"Satu tahun ke depan, yakinkan niat kamu. Kalau memang benar sudah yakin, kami akan melamar Isti. Tahun berikutnya, sebuah pernikahan akan menjadi kado kelulusan kamu," tutur Adisurya.


"Lebih tepatnya, malam pertama yang akan jadi kado kelulusan Ehan. Yakin deh, nggak pake lama, langsung unboxing," seloroh Rianti.


Annisa dan Adisurya menahan tawa. Sementara itu wajah Rayhan bersemu digoda seperti itu oleh mamanya.


"Serius dalam belajar, Han. Kamu juga harus mulai magang, biar nanti setelah lulus bisa langsung kerja diperusahaan," ujar Adisurya antusias.

__ADS_1


"Siap, Pa," sahut Rayhan yang terlihat bersemangat.


Adisurya mengacungkan ibu jarinya untuk menyemangati. Di sisi lain, Rianti menoleh pada Annisa dan bertanya, "Sayangnya ibu kenapa?"


Sebenarnya, baik Rianti maupun Adisurya sudah bisa menduga apa yang membuat Annisa nampak murung. Namun mereka memilih untuk mendengarnya langsung dari Annisa.


"Hari ini ... Nisa bertemu Bu Dokter di taman," ujar Annisa pelan.


Rianti dan Adisurya terperanjat, bahkan Rayhan juga.


"Rika? Di taman tadi? Bukannya kamu mau ketemu Agas?" cecar Rianti.


"Valak itu ngomong apa?" tanya Rayhan dengan raut kesal.


"Valak?" tanya Adisurya dan Rianti bersamaan.


"Siapa lagi itu, Han?" tanya Adisurya heran.


"Ya Mak Lampir itu," sahut Rayhan asal.


Adisurya dan Rianti saling menoleh saat mulai mengerti ucapan Rayhan. Mereka menghela nafas pelan dan menanyakan lagi pada Annisa apa yang terjadi.


"Rika bicara apa, Sayang? Dia tidak melakukan sesuatu yang menyakiti kamu, kan?" tanya Rianti lembut.


"Fisik mungkin enggak, Ma. Tapi verbal, dia jagonya nyakitin orang dengan ucapannya," timpal Rayhan.


Annisa menatap sekilas pada setiap anggota keluarganya. Dengan canggung Annisa pun mulai bicara, "Bu Dokter bilang, Kak Agas mau tunangan dengan perempuan lain dan akan tinggal bersama di Amerika akhir pekan ini."


"Lalu, Agas bilang apa? Waktu Rika bilang begitu sama kamu, Agas ada nggak?" selidik Rianti.


Annisa pun menceritakan semuanya dari awal, sampai Ghaisan yang menolak putus. Tentu saja Annisa melewatkan adegan romantis yang terjadi antara ia dan Ghaisan.


Mendengar hal itu, Adisurya merasa ada di posisi Dahlan. Meskipun beda permasalahannya. Sebagai seorang ayah, di satu sisi ada seorang putri yang sangat ingin mereka jaga, di sisi lain mereka dihadapkan pada pacar anak mereka yang memperlihatkan kesungguhannya. Dan sebagai seorang ayah, baik Dahlan maupun Adisurya tentunya tidak ingin mematahkan hati mereka.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2