Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
keributan di kantin


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Hal yang lumrah jika suasana kantin sekolah terlihat ramai di jam istirahat. Namun kali ini ada pemandangan tak biasa yang membuat banyak siswa membelalakan mata.


Kehadiran Ghaisan bersama Annisa. Siswi kelas satu yang pernah diakui Rayhan sebagai pacarnya.


Riuh suara terdengar karena bisikan setiap orang yang ada di sana. Namun Ghaisan tak acuh dan tetap menggenggam erat tangan Annisa. Sahabat Rayhan itu seakan menutup mata meski wajah Annisa sudah sangat merah dan salah tingkah.


Di salah satu sudut kantin, Anya mengucek mata untuk meyakinkan penglihatannya. Tangannya menepuk-nepuk lengan Viola yang tak terpengaruh keadaan sekitar dan tetap fokus pada ponselnya.


"Vi, Vio. Lihat tuh! Sekarang dia sama Agas. Udah kaya dadu aja, di lempar sana lempar sini," ujar Anya.


Dengan enggan Viola pun menoleh. Sekilas ia nampak terkejut, namun kemudian meneyeringai tipis dan kembali menatap layar ponselnya.


"Vio, gue jadi penasaran, Dita ngomong apa sih ke Lo?"


"Ada deh, nanti juga Lo tahu," sahut Viola pelan.


Sementara itu, Raydita dan kedua sahabatnya baru memasuki area kantin. Mereka cukup bingung dengan suasana kantin yang tak biasa.


"Mungkin Ray udah bosan, makanya sekarang dia sama Agas. Besok-besok pasti sama Raka," seloroh seorang siswi yang melewati Raydita dan kedua sahabatnya.


"Gue patah hati, Agas gue kok mau sih sama cewek murahan kaya dia? Sebel ...," gerutu temannya.


"Santai aja, sebentar lagi juga ada yang ngamuk," ujar siswi lainnya.


Raydita, Mela, dan Tasya saling menatap bingung. Mereka kemudian menoleh ke bagian dalam kantin dan terbelalak melihat genggaman tangan Ghaisan-Annisa.


"Heh, ngelunjak ya 'tu anak," geram Tasya.


"Lo lihat kan, Dit. Baru tadi pagi Lo baik sama dia, eh langsung nyosor Kak Agas aja," imbuh Mela.


"Bodo ah, gue balik ke kelas. Udah nggak mood," ujar Raydita yang memutar badan hendak berlalu, namun urung mendengar suara Ghaisan dari dalam yang tengah membentak seseorang.


"Dia cewek gue. Lo mau apa, hah?" Seketika hening.


Mela dan Tasya terlihat bingung harus bagaimana, Raydita berlalu dengan wajahnya yang kesal. Kemudian Mela memberikan uang pada Tasya untuk membelikannya jajan, dan berlari kecil menyusul Raydita.


Beberapa siswi melangkah ke depan dan menghampiri Ghaisan dan Annisa. Terlihat jelas kegeraman dari wajah mereka.


"Mamp*s Lo, jadi sasaran Bella Cs," ujar Anya puas. Viola menoleh dan tersenyum lebar. Viola memasukkan ponselnya ke dalam saku dan beranjak hendak menonton pertunjukkan yang menurutnya lebih menarik.


Sementara itu, Raka memutar badan dan berlari hendak memanggil Rayhan di perpustakaan.

__ADS_1


Di sekolah itu, jika Viola selalu menyasar siapa saja yang menyukai Rayhan secara terang-terangan, maka Bella dan teman-temannya menghadang siapa saja yang tertarik pada Ghaisan. Mereka selalu terlibat masalah dengan cara mereka yang terkenal bar-bar.


"Ray! Ray!" panggil Raka.


"Sstt. Ini perpustakaan, Bro. Lo jangan buat gaduh di sini," tegur seorang siswa yang berpapasan dengannya.


"Sorry ...." Raka berlalu mencari Rayhan. Langkahnya terhenti dengan wajah yang melongo. Rayhan sedang menopang dagu memperhatikan Isti yang sedang membaca buku.


"Sialan. Si Ray sama Agas lagi pada mab*k," gerutu Raka pelan.


"Ray!" panggil Raka dengan suara cukup keras.


"Sssttt." Para siswa yang sedang berada di sana memberinya isyarat untuk diam.


"Kak Ray, dipanggil Kak Raka tuh," ujar Isti pelan.


Rayhan menoleh enggan, dan memutar bola matanya malas. "Ganggu aja." Gumamnya.


"Ray, ayo ikut gue." Raka menarik tangan Rayhan.


"Ck. Nggak ah," tolak Rayhan sembari melepaskan tangannya.


"Lo mau Nisa jadi bulan-bulanan Mak Lampir, heh?" tanya Raka.


"Mak Lampir?" Rayhan terlihat bingung.


"Maksud Lo, Bella?" tanya Rayhan dan langsung diangguki Raka. Belum sempat Isti bertanya, Rayhan sudah berlalu setengah berlari meninggalkannya dan Raka. Ia pun memutuskan menyusul ke kantin mengikuti Raka dan beberapa siswa lainnya.


Di kantin, keributan mulai terjadi. Tanpa ragu Bella melemparkan es jeruk yang di pegangnya ke baju Annisa.


Gerakannya sangat cepat hingga Ghaisan tak sempat mencegah. Alhasil, baju seragam Annisa basah kuyup dengan rasa dingin yang terasa di bagian dada.


"Nisa, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Yuda yang menghampirinya.


"Jadi ini pacarnya Agas? Bukannya kemarin Lo pacarnya Rayhan? Mau jadi l*nte di sekolah, hah?" ujar Bella sarkasme.


"Gila, Lo," hardik Ghaisan yang berniat membalikkan badan Annisa, namun ditepis.


"Cukup, Kak. Kak Agas sengaja kan?" tanya Annisa dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah merasa malu, dan semakin malu dengan keadaannya saat ini. Apalagi dengan tuduhan yang ia dengar.


"Maksud Lo apa sih?" Ghaisan belum mengerti dan mencoba untuk mendekati Annisa lagi.


"Nisa sama gue," ujar Yuda yang berniat mengajak Annisa keluar dari kantin. Namun Annisa juga menepis tangannya.


"Aku bukan pacar Kak Agas! Aku juga bukan pacar Kak Ehan. Jaga mulut kamu ya!" pekik Annisa dengan amarah yang tertahan. Tatapannya yang tajam dengan bola mata yang bergetar terarah pada Bella.

__ADS_1


"Berani Lo sama gue?" Bella melangkah maju dan dihalangi oleh Ghaisan.


"Lo pergi dari sini. Sebelum ada guru yang datang. Pergi!" geram Ghaisan.


"Enggak. Eh, L*nte. Jangan harap Lo bisa tenang sekolah di sini," ancam Bella.


"Siapa yang Lo sebut l*nte?" suara Rayhan mengalihkan pandangan mereka. Ghaisan melangkah mendekati Rayhan yang terlihat sangat marah.


"Berani Lo nyebut dia begitu, hah?" Rayhan mendekati Bella tanpa mengacuhkan Ghaisan. Baru saja Bella akan membuka mulutnya ..., plakk!


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Bella.


Semua terperanjak. Terpaku menatap Rayhan dan Bella yang sedang memegangi pipi kirinya.


"Ray. Gila, Lo. Dia cewek," bisik Ghaisan mencoba menyadarkan sahabatnya.


"Kak ...." Annisa mendekati Rayhan. Ia bermaksud meminta Rayhan agar tidak memperbesar masalah.


Rayhan merengkuh pundak Annisa dan mengikis jarak keduanya. Ia memutar tatapan ke semua orang yang ada di sana, kemudian berkata : "Annisa ini adik gue. Kalau ada yang berani ganggu dia, Lo semua berurusan sama gue. Termasuk Lo, L*nte. Lo pikir gue nggak tahu kerjaan Lo kalau weekend itu clubbing. Apa kabar sugar daddy Lo yang udah beruban itu?"


Bella terbelalak mendengar ucapan Rayhan. Ia bisa melihat beberapa siswa mulai berbisik tentang dirinya. Dengan raut wajah yang diliputi amarah, Bella berkata : "Awas Lo, Ray. Gue nggak akan lupain ini semua."


Rayhan menyeringai tipis melihat langkah Bella yang berlalu sambil mengepalkan tangan. Raka dan Ghaisan meminta siswa lainnya untuk membubarkan diri.


Sementara Anya yang sedari tadi mencoba menahan agar Viola tidak berulah, memaksa sahabatnya itu meninggalkan kantin juga.


"Nisa, kamu nggak apa-apa kan?" Isti menghampiri dan bermaksud memeluk Annisa.


"Bajuku basah, Isti," tolak Annisa.


"Ke toilet yuk. Duuh, aku nggak bawa jaket," ucap Isti pelan.


"Kamu ke toilet aja. Kakak ada hoodie di loker," ujar Rayhan yang melepas rengkuhannya. Ia melangkah meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan siapapun juga.


"Ayo, Niss," ajak Isti.


"I-iya," sahut Nisa yang kemudian berjalan sambil menundukkan kepala.


"Gas, maksudnya apa tadi? Si Ray bilang, Nisa itu adiknya. Emang benar?" tanya Raka.


"Benar laah. Nisa itu kan anak angkat Tuan Adisurya, otomatis dia juga adik Kak Ray," sahut Yuda.


"Gue nggak nanya sama Lo, b*go. Kalau itu kita juga tahu." Raka hendak menoyor kepala Yuda, namun meleset karena Yuda mengelak dan balik mengoloknya, "Nggak kena, wlee."


"Sialan, Lo. Awas ya!" Raka mengejar Yuda yang masih mengolok-olok dirinya. Meninggalkan Ghaisan yang masih mencerna apa yang terjadi di tempat itu.

__ADS_1


"Apa ini semua gara-gara gue?" Gumamnya.


_bersambung_


__ADS_2