
Happy reading...
🌿
Gelak tawa terdengar dari ruang makan. Nisa hanya bisa mendengarkan sambil tersenyum tipis. Ia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Perlakuan Tuan Adisurya mengusik sisi lain dalam hatinya.
Sementara itu di ruang makan...
"Sudah lama banget kita nggak ke sini ya, Rika. Terakhir waktu kita merayakan ulang tahun kedua Ehan sama Agas," ujar Rianti.
"Iya, benar. Lama banget," sahut Rika.
"Mas Adi sih, kalau diajak ke sini suka nggak mau. Ada aja alasannya," delik Rianti manja.
Adisurya hanya tersenyum tipis. Lalu meminta mereka untuk mulai makan. Ia tertunduk menyembunyikan perasaannya. Terlalu banyak kenangan di tempat ini. Kenangan yang hanya dimilikinya sendiri.
***
Dalam keheningan malam dengan semilir angin yang sangat dingin. Annisa terhenyak dari mimpi dalam tidurnya. Menatap kosong pada langit-langit kamar yang di tempatinya saat ini.
Mimpi apa ini? Bagaimana bisa ia memimpikan sosok almarhumah ibunya di tempat ini.
Ya Allah, maafkan Nisa. Karena tidak bisa menepati janji berziarah ke makam ibu kemarin. Al fatihah...
Nisa menggumamkan bacaan surat Al-fatihah yang ditujukan untuk almarhumah ibunya. Mimpinya terasa sangat nyata, seolah ia pernah mengalaminya.
Pagi harinya setelah salat subuh, Nisa hendak membantu Bi Marni membersihkan ruangan di Vila.
"Han, bantu bibi di Vila yuk."
"Kamu saja sana. Itu kan tugas bibi, aku nggak mau. Di sini aku hanya akan melakukan apa yang diperintahkan nyonya. Lagi pula dingin sekali, aku mau tidur lagi." Deliknya sambil memperbaiki posisi selimutnya.
Nisa tak bisa berkata apa-apa. Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju villa. Udaranya memang sangat dingin, namun segar untuk dihirup.
"Selamat pagi, Neng," sapa Mang Dayat.
"Selamat pagi, Mang. Wah, banyak sekali ayamnya. Nisa boleh ikut ngasih makan, Mang?"
"Jangan, Neng. Nanti bau."
"Yaa, Emang. Itu ayam apa, Mang? Kok besar sekali, yang itu kecil banget. Lucu," tunjuk Annisa.
"Itu kalkun, Neng. Kalau yang kecil ayam kate."
"Kalkun telurnya besar juga nggak, Mang?"
"Telurnya juga besar, Neng. Neng Nisa mau?"
__ADS_1
"Nggak ah, Nisa nggak terlalu suka telur." Sahutnya.
"Oh ya? Sama dong."
Annisa terperanjak dan langsung menoleh ke arah suara.
"Selamat pagi, Tuan."
"Selamat pagi, Mang. Semakin banyak aja ayamnya."
"Iya, Tuan. Itu indukan kate yang pernah Tuan bawa juga masih ada." Sahutnya.
Nisa merasa canggung bila harus mendengarkan obrolan Tuan Adisurya dengan Mang Dayat. Ia hendak berlalu, namun baru saja berbalik, niatnya terhenti oleh pertanyaan Adisurya.
"Mau kemana, Nak?"
"Mau ke villa, Tuan. Mau membantu bibi," sahut Nisa pelan.
"Kita ngasih makan ikan yuk." Ajaknya.
Dengan ragu Nisa menyambut uluran tangan Adisurya. Pria itu merangkul pundaknya dan mengajaknya berjalan menuju kolam ikan.
Sambil tersenyum Mang Dayat mengikuti dengan karung pakan yang dibawanya. Menempatkan karung itu di salah satu sisi, lalu memberikan gayung kecil pada tuannya.
"Lihat ya, begini..."
"Mau coba? Yang di sebelah sana belum."
Nisa menerima gayung dari Adisurya. Pria itu menarik karung ke salah satu sisi lainnya.
"Hati-hati, Nisa. Perhatikan langkahmu, kalau meleng kamu bisa tercebur." Ujarnya.
"Nanti Nisa yang dikira pakan ya, Tuan." Selorohnya.
"Iya, bisa gawat. Ikannya besar-besar dan galak loh kalau lapar."
"Hehe..."
Nisa mulai menebar pakan dengan gayung yang dipegangnya. Ia kembali terpukau dengan ikan yang sangat banyak itu.
Banyak sekali, bisa untuk orang satu desa. Batinnya.
"Nisa, panggil saya 'ayah' ya. Jangan 'tuan'," pinta Adisurya tiba-tiba.
Nisa menoleh dengan tatapan heran. Ayah? Benar juga, ayah angkat. Itu karena dia anak angkat tuannya.
"Baik, Tuan. Eh, Ayah. Hehe..."
__ADS_1
"Sip. Jangan terlalu memikirkan sikap ibumu ya. Dia memang agak judes, tapi sebenarnya dia baik kok." Jelasnya.
"Ibu? Maksud ayah, Nyonya ya?"
"Iya. Kamu bisa panggil istri saya 'ibu', mama juga boleh. Panggil Ehan dengan panggilan 'kakak'. Kalau Dita, ya Dita aja. Kalian kan seumuran."
"Tapi, Nyonya bilang..."
Kalimat Nisa terhenti. Adisurya melingkarkan syal yang tadi dikenakannya di leher Annisa.
"Ke dalam yuk. Kita minum yang hangat-hangat. Cuci dulu tanganmu di sana."
Adisurya nampaknya tidak mengharapkan bantahan dari Annisa. Setelah mencuci tangan, ia kembali merangkul pundak anak itu seolah ingin mengurangi rasa dingin yang dirasanya. Ia juga menggosok-gosokkan telapak tangannya pada telapak tangan Nisa.
"Dingin banget ya," ucap Adisurya pelan seolah ditujukan untuk dirinya.
"Di desa juga dingin. Nisa sudah terbiasa, Yah."
"Benarkah?"
"Iya," angguk Nisa.
Adisurya mengusap lembut pucuk kepala Nisa dan meminta dihidangkan sarapan pada Bi Marni yang ditemuinya di ambang pintu.
Suasana vila itu masih sangat sepi. Adisurya mengajak Nisa duduk di ruangan tungku perapian. Tadi, pria itu sudah menyalakannya.
"Bagaimana, hangat kan?"
"Iya, hangat. Tungkunya besar ya, kalau punya ibu di desa kecil." Ujarnya polos.
"Ibumu juga punya?"
"Iya, Yah. Untuk memasak," sahut Nisa sambil tersipu.
"Nggak pake kompor gas?"
"Enggak. Ada juga nggak di pake. Gas-nya mahal. Jadi pakai kayu bakar saja," ujar Nisa dengan kepala yang tertunduk.
Seketika rasa haru menyeruak di hati Adisurya. Sisi lain dalam hatinya merasakan pilu mendengar penuturan Annisa. Ia kembali mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Sekarang kamu sudah tinggal dengan Ayah. Kamu bisa meminta apapun pada Ayah, Nak." Ujarnya pelan.
Nisa hanya tersenyum tipis sambil berucap, "Terima kasih."
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dari lantai atas yang memperhatikan. Menatap lekat dengan kening berkerut seakan pikirannya penuh dengan tanya.
"Ada hubungan apa mereka?" Gumamnya.
__ADS_1
_bersambung_