Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
membantu menyiapkan acara


__ADS_3

Happy reading ....


*


Mobil yang dikemudikan Asep menepi di halaman sebuah rumah yang jika dilihat dari warna atap dan cat-nya, sepertinya masih baru. Di belakangnya, motor Yuda, dan Raka menyusul.


"Rumah siapa ini, Bu?" tanya Annisa sembari melihat ke luar jendela mobil.


"Nanti juga tahu. Turun, yuk!" ajak Rianti.


Di saat yang bersamaan, dua mobil pick up juga menepi. Satu mobil membawa bahan makanan, dan mobil lainnya membawa rupa-rupa perabot dapur. Dari dalam rumah itu, dua orang wanita paruh baya keluar untuk menyapa.


"Assalamu'alaikum ...," sapa Rianti.


"Wa'alaikumsalam. Selamat datang, Bu Rianti! Bawa rombongan dari mana nih?" tanya salah satu dari kedua ibu itu ramah.


"Mereka anak-anak saya, Bu," sahut Rianti.


"Masya Allah. Cantik-cantik, dan juga ganteng," imbuhnya.


"Kok gantengnya cuma satu sih, Bu? Kita berdua lho," seloroh Raka yang berdiri tak jauh dari ibu itu.


"Diih, nyamber," delik Raydita.


Ibu itu tersenyum lebar, kemudian bertanya sambil memegang lengan Raka. "Yang ganteng ini siapa namanya?"


"Raka, Bu," sahut Raka malu-malu.


"Kalau saya ... Yuda, Bu," ujar Yuda memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya yang dengan senang hati disambut oleh ibu tadi.


Rianti tersenyum melihat tingkah mereka. Ia pun memperkenalkan siapa dua wanita yang menyambut mereka.


"Kenalkan, ini Bu Ratna, dan yang ini Bu Imas. Mereka pengurus tempat ini," ujar Rianti. Yuda dan teman-temannya bergantian menyapa dua ibu itu.


"Mama meminta kesediaan kalian bantu-bantu di sini. Mau ya?" tanya Rianti.


"Mau banget, Bu," sahut Annisa, dan diangguki oleh yang lain.


"Aduh, ibu merasa terharu. Selain cantik dan ganteng, kalian juga sangat baik," puji Ratna.


"Aduh ... aduh. Hidungku mau terbang," kelakar Yuda. Kemudian terdengar desisan dari bibir Yuda karena menahan sakit akibat cubitan Raydita.


"Becanda mulu," geram Raydita sembari menoleh pada Yuda dengan mata yang membulat sempurna.


"Maaf, Yang," ujar Yuda pelan.


Raydita dan Yuda hanya bisa nyengir ketika menyadari yang lain sedang mengulumkan senyum pada mereka.


"Hehehe, terima kasih sebelumnya. Bagaimana kalau kita mulai saja?" tanya Ratna.


"Siap, Bu," sahut mereka.


"Yang cantik-cantik, boleh bantu ibu dan Bu Imas di dapur. Sedangkan yang ganteng-ganteng ini, bantu menata meja, kursi, dan yang lainnya. Setuju?" tanya Ratna.


"Setuju, Bu," angguk mereka antusias.


"Kalau saya bagian apa dong?" seloroh Rianti.


"Bu Rianti bagian nunjuk-nunjuk aja," sahut Imas.


Ketiga ibu itu terkekeh dan mulai melangkah mendekati rumah.


"Ayo, anak-anak!" ajak Imas.


"Iya, Bu," sahut Yuli.


Para gadis itu mengikuti dari belakang. Sedangkan Yuda dan Raka ikut membantu beberapa pria yang mengangkat barang-barang dari dalam pick up ke dalam rumah itu.


"Ssst, Nis. Ini tempat apaan sih?" tanya Yuli pelan.


"Aku juga nggak tahu," geleng Annisa.

__ADS_1


"Apa ada acara syukuran ya, Nis?" gumam Isti.


"He-em. Syukuran rumah mungkin," timpal Yuli.


Namun kemudian mereka terkesiap dengan bangunan di bagian belakang rumah itu. Bangunan dua lantai di ketiga sisi lainnya, dengan taman bermain yang dihiasi jejeran bunga yang menghiasinya.


"Wow, aku kira bangunan yang terlihat dari luar itu nggak nyambung sama rumah ini," ujar Yuli kagum.


"Iya. Gue pikir juga begitu. Tempat apa ya ini? gue jadi penasaran. Gede tapi sepi," sahut Raydita.


"Hei, Kalian! Kok malah bengong? Mau bantuin nggak?" tegur Rianti dari kejauhan.


"Oh, iya. Ayo!" ajak Isti.


Keempat gadis itu pun malanjutkan langkah mereka menuju ruangan yang menyerupai dapur.


"Ma, ini tempat apaan sih?" tanya Raydita.


"Apa ya? Hehe nanti juga tahu," sahut Rianti.


"Ish, Mama. Dari tadi jawabannya itu terus," gerutu Raydita.


"Ya udah tunggu sampai nanti dong. Sana, bantu Bu Imas," titah Rianti.


"Oke deeh," sahut Raydita.


Annisa dan ketiga temannya terlihat larut dalam pekerjaan dapur. Selain mereka, ada tiga wanita wanita lain selain Imas dan Ratna di ruangan itu.


Raydita yang tidak terlalu menyukai pekerjaan dapur, memilih untuk menata buah-buahan di piring besar. Sementara itu, Annisa dan Yuli membantu mengupas sayuran. Sedangkan Isti dan Rianti, membantu menata kue-kue tradisional di beberapa piring yang tersedia.


Di sisi lain, Raka dan Yuda membantu menata kursi dan meja. Setelahnya mereka juga menata piring-piring berisi buah dan kue.


"Sstt, Yang. Jangan-jangan Mama kamu mau nikahin kita," bisik Yuda.


"Diih, Ge-eR," delik Raydita dengan senyum yang terkulum.


"Yaa ... ngarep boleh dong, Yang," imbuh Yuda.


"Makan nasi dong, Sayang. Masa iya makan rumput. Kambing dong, hehehe," kekeh Yuda.


"Gila, lo," umpat Raydita sambil berlalu membawa piring buah.


Yuda hendak mengikuti langkah Raydita, namun urung saat Raka memanggilnya.


Tidak terasa, dua jam telah berlalu. Satu persatu mobil mulai berdatangan. Yang mengherankan, dari dalam satu mobil tidak hanya keluar satu dua orang tapi lebih banyak.


Raydita dan Isti yang bertugas menyambut tamu merasa heran dengan kedatangan mereka. Terlebih saat sebuah mini bis berhenti dan anak-anak berhamburan keluar dari dalam bis tersebut.


"Dit, kayanya Bu Ratna sama Bu Imas mengundang anak-anak panti asuhan deh," ujar Isti pelan.


"He-em," angguk Raydita. Keduanya lalu menyapa anak-anak yang sedang menyalami sambil mencium punggung tangan mereka.


"Lucu ya mereka," ujar Raydita sambil tersenyum lebar pada anak-anak perempuan yang semuanya mengenakan pakaian gamis, sedangkan anak laki-laki memakai baju koko dan peci. Di bagian dalam, Annisa, Yuli, Raka, dan Yuda mengarahkan tempat duduk mereka.


Tak lama kemudian, dua mobil angkutan kota juga menepi.


"Kalau ini ibu-ibu pengajian, Dit," celetuk Isti.


"Masa sih?" Raydita memperhatikan para ibu yang mengenakan baju dan kerudung senada. "Lo benar deh, Is. Dasar Bu Haji," seloroh Raydita.


Wajah Isti merona. Pangilan itu pastinya mengingatkan Isti pada Rayhan.


"Eh? Itu 'kan mobilnya Papa," ujar Isti saat melihat mobil yang dikemudikan Heru sedang diarahkan seorang pria.


Raydita pun menoleh. "Ciee udah manggil Papa. Ehhem, terus kenapa nggak ikut ke London?" goda Raydita.


Lusa, Rianti dan Adisurya akan berangkat ke London untuk menghadiri kelulusan Rayhan. Isti yang tak mendapat izin dari ayahnya hanya bisa pasrah.Tapi tak lantas membuat Isti merasa sedih, karena seminggu kemudian pernikahannya dengan Rayhan akan digelar.


"Hi, Sayang! Gimana, seru nggak?" tanya Adisurya.


"Seru, Pa," sahut Raydita sambil melirik pada Isti. "Pa, ini acara apaan sih?" tanya Raydita kemudian.

__ADS_1


"Apa ya? kita lihat aja nanti," sahut Adisurya.


"Ish, Papa," delik Raydita. Adisurya terkekeh, dan mengangguk pada Isti yang mempersilakan untuk ke dalam.


"Lho? Kok ada Mama Fany juga?" ujar Raydita yang kini mulai merasa bingung.


"Kalian di sini?" tanya Fany yang terlihat bahagia melihat Raydita.


"Iya, Ma. Kak Raka juga ada di dalam," sahut Raydita.


"Ya udah, Mama ke dalam ya," ujar Fany yang kemudian di ikuti beberapa orang berpakaian formal.


"Ma? Kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Raka heran.


"Aka juga nggak bilang ada di sini," timpal Fany.


Ibu dan anak itu terkekeh, kemudian Fany menyapa Yuda dan Annisa. "Ini siapa?" tanya Fany pada Yuli yang sedari tadi menundukkan kepala.


"Calon mantu Mama," sahut Raka sambil menarik lengan Yuli.


Fany mengerutkan keningnya dengan ujung mata yang menyipit.


"Saya Yuli, Bu," ujar Yuli canggung sambil mengulurkan tangannya.


"Mamanya Aka," ucap Fany yang menyambut uluran tangan Yuli.


"Mama duduk dimana nih, Ka?" tanya Fany.


"Silakan, Ma. Di sebelah sini." Cepat-capt Raka mengarahkan mamanya ke salah satu kursi yang ada di jajaran paling depan.


Tamu undangan sudah mulai berhenti berdatangan. Annisa dan teman-temannya duduk di salah satu sudut ruangan. Mereka terlihat sangat menikmati acara yang menampilkan penampilan anak-anak dari panti asuhan itu.


Dari pembawa acara, mereka mengetahui acara tersebut merupakan acara pembukaan yayasan sekolah anak-anak yatim, dan dari keluarga kurang mampu.


"Kami selaku pengurus yayasan, sudah membuka pendaftaran beberapa bulan sebelumnya. Dan insyaAllah pada tahun ajaran baru yang akan digelar kurang lebih dua bulan ke depan, kelas pendidikan anak usia dini (PAUD), TK, dan kelas 1 SD sudah bisa dilaksanakan. Alhamdulillah, banyak sekali dukungan yang kami dapatkan dalam kepengurusan yayasan ini. Sepenuhnya, kami membebaskan peserta didik dalam jenjang PAUD, TK, dan juga SD dari biaya apapun juga, alias gratis. Mudah-mudahan kedepannya, akan ada jenjang SMP dan SMA, aamiin. Untuk mempersingkat waktu, saya mohon kesediaannya pada Ibu Rianti selaku penggagas sekaligus pendiri, untuk meresmikan dan mengumumkan nama yayasan ini. Silakan, Bu," tutur Ratna.


Tepuk tangan terdengar bergemuruh di dalam ruangan itu. Rianti dengan anggunnya melangkah ke depan untuk menyampaikan sambutan.


"Terima kasih, Bu Ratna. Yayasan ini, saya dedikasikan untuk seseorang yang sangat berjasa dalam kehidupan keluarga kami. Seseorang yang sangat berarti bagi Annisa-putri kami."


Deg. Annisa tertegun mendengarnya. Terlebih banyak pasang mata yang menatap padanya.


Annisa yang merasa bingung pun hanya bisa tersenyum canggung pada mereka. Apalagi saat Rianti memintanya untuk maju ke depan untuk mengggunting pita. Ia semakin bingung, begitu juga teman-temannya. Sedangkan Adisurya tersenyum lebar sembari mempersilakan.


Para tamu yang hadir pun berdiri. Adisurya diminta ke depan untuk mendampingi.


"Kenapa Nisa, Bu?" tanya Nisa pada Rianti dengan suara pelan saat menerima gunting berhiaskan pita yang disodorkan Bu Imas. Di depannya Pak Heru sudah bersiap menarik kain putih yang menutupi nama dari yayasan itu.


Rianti hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. Bu Ratna mengucap basmalah dan mengajak anak-anak untuk menghitung mundur.


3 ... 2 ... 1.


"Bismillahirrohmanirrohim," gumam Annisa.


Krek. Pita itu terpotong bersamaan dengan turunnya kain putih penutup nama.


Annisa tertegun membaca nama yayasan itu di dalam hati.


'BUNDA ASIH'


"Jadi, Ibu membangun yayasan ini untuk almarhumah Ibu?" tanya Annisa pada Rianti dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Sayang," angguk Rianti.


Annisa sontak memeluk Rianti dan terisak di pelukannya. Beruntung suara tepuk tangan menyamarkan isakannya.


Tidak hanya Annisa, teman-temannya juga merasa terharu. Apalagi Yuli. Ia tahu benar bagaimana Annisa dan Asih di masa lalu. Dan tidak menyangka Rianti sampai melakukan hal ini untuk mengenang jasa Asih yang sudah membesarkan dan menyayangi Annisa seperti putrinya sendiri.


"Terima kasih, Bu," lirih Annisa.


"Ibu yang seharusnya berterima kasih padamu, Nisa," sahut Rianti. Keduanya pun kembali berpelukan.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2