
Happy reading ....
🌿
Gerakan tangan Rayhan menyentak tidur Annisa yang baru saja terlelap. Annisa nampak terkejut, lalu tersenyum tipis melihat tangan Rayhan yang sedang manutup bagian dadanya dengan jaket.
"Sorry."
"Sudah ada kabar, Kak?" tanya Annisa dengan suara yang parau.
"Belum. Kamu pulang ya. Kamu pasti capek."
"Nisa nggak capek, Kak. Kak Ehan yang harusnya pulang," ucap Annisa dengan gerakan mata menunjuk pada bagian celana Rayhan yang kotor.
"Itu sih gampang," ujar Rayhan.
"Kak Agas kemana?" Annisa baru menyadari Ghaisan tidak bersama mereka di ruang tunggu IGD. Hanya ada Pak Heru di sana.
"Agas lagi nunggu di luar. Tante Rika tadi menelepon, katanya Tante Rida mengalami kecelakaan."
"Kecelakaan? Apa jangan-jangan yang tadi itu ya, Kak?"
"Sepertinya iya."
Tak lama terlihat dua mobil ambulance beriringan berhenti di depan rumah sakit. Satu persatu korban kecelakaan itu dipindahkan ke blankar.
Rayhan dan Annisa berdiri hendak menghampiri. Ghaisan ikut mendorong blankar yang membawa tantenya yang lebih dulu masuk ruangan IGD.
Rayhan dan Annisa menautkan alis melihat pria yang berada di blankar kedua.
"Om Sandy?" gumam Rayhan dan Annisa hampir bersamaan. Heru yang mendengarnya langsung melihat pada Sandy yang terbaring tak sadarkan diri.
Saat blankar yang membawa Sandy sudah masuk ruang IGD, Haru bertanya, "Apa pria itu, Sandy?"
"Iya," angguk keduanya.
Heru menatap sesaat pintu ruang IGD, kemudian berlalu ke luar sambil menghubingi seseorang.
"Apa mereka terlibat tabrakan? Nggak mungkin kan kalau Tante Rida sama bokapnya Raka di mobil yang sama?" gumam Rayhan seakan bertanya pada Annisa.
__ADS_1
Annisa terdiam mencoba untuk berpikir. Dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin ia membuka rahasia Raydita pada kakaknya.
Derap langkah yang terburu-buru mengalihkan perhatian Rayhan dan Annisa. Raka dan ibunya terlihat setengah berlari menuju ruang IGD.
Sesaat pandangan Rayhan dan Raka beradu. Sorot mata Rayhan yang terlihat geram membuat Raka menundukkan pandangannya dan meneruskan langkah mengikuti ibunya.
"Kak." Annisa memegang tangan Rayhan untuk menghentikan kakaknya itu masuk ke ruang IGD dan membuat keributan di sana. Annisa menggelengkan kepala pelan saat Rayhan menatapnya penuh tanya.
"Tapi, Nisa."
"Pak Heru yang akan mengurusnya," ujar Annisa sambil menoleh pada Heru yang masih bericara di telepon.
Mau tak mau, Rayhan mengalah juga. Ia mengusap kasar wajahnya berkali-kali untuk meredam emosi.
Sementara itu, selagi dokter memeriksa keadaan Sandy dan Rida, Ghaisan yang sedari tadi merasa heran dengan kebersamaan mereka, menarik lengan Raka dan mengajaknya ke luar.
Rayhan yang melihat dua sahabatnya keluar, hendak menghampiri namun dicegah Annisa.
"Ka, kok bisa bokap Lo ada di mobil tante gue?" tanya Ghaisan.
"Gue juga nggak tahu, Gas. Tadi tante Lo pergi begitu aja dari vila," jawab Raka.
"Dia Agas, Ma. Bukan Ray," ucap Raka cepat. Ia tak mau mamanya menyasar Ghaisan.
Dari arah pintu depan, Rika berjalan cepat menuju ruang IGD. Ghisan segera menghampiri mamanya.
"Dimana tante kamu, Agas? Bagaimana keadaannya?" tanya Rika yang berlalu ke dalam dan disusul Ghaisan dari belakang.
Rika langsung menanyakan kondisi Rida pada dokter yang merawatnya. Rika merasa cukup lega mengetahui kondisi Rida tidak kritis. Hal itu lantaran mobil yang ditumpanginya terperosok ke perkebunan strawberi yang berada di pinggir jalan dan tidak berlalu curam.
"Pasien masih dalam pengaruh obat, Dokter Rika. Sebentar lagi juga sadar," ujar Dokter yang merawat Rida.
"Keluarga Bapak Sandy Widodo," panggil seorang dokter lain.
"Iya, Dokter," sahut Fany.
"Hubungan ibu dengan pasien?" tanya Dokter itu lagi.
"Saya istri Sandy, Dok," sahut Fany lagi.
__ADS_1
Sandy? Jangan-jangan ..., gumam Rika dalam hatinya. Ia mengingat perkataan orang yang meneleponnya bahwa Rida mengalami kecelakaan bersama seorang teman prianya.
"Agas, yang di sebelah ini ... orang yang sama tante kamu di mobil bukan?" tanya Rika pelan.
"Iya, Ma. Agas juga bingung. Padahal tadi Agas sama teman-teman yang lain lagi nyari dia. Tapi kok dia-nya bisa bareng sama tante," tutur Ghaisan.
"Namanya, Sandy? Mau apa kamu nyari dia?" tanya Rika.
"Mobil Om Sandy terekam CCTV menculik Dita, Ma. Dan saat kita menemukan Dita, Om Sandy nggak ada di tempat. Ternyata dia lagi sama Tante. Jujur, Ma. Agas juga bingung. Nggak nyangka aja, Tante kenal sama orang itu."
"Sekarang keadaan Dita gimana, Gas? Dimana dia sekarang?" tanya Rika panik.
"Dita di ranjang yang paling ujung, Ma. Kondisinya kritis ...." Tanpa menunggu penjelasan putranya selesai, Rika segera mencari Raydita.
Rika sangat terkejut mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Raydita. Setelah sekilas melihat keadaan Raydita, ia kembali ke tempat semula, namun bukan tempat Rida berada.
Rika membuka kasar tirai penghalang, dan tentunya mengagetkan Raka, Fany, juga Ghaisan.
"Br*ngsek. Bangun!" pekik Rika tertahan.
Ghaisan yang merasa terkejut, langsung menghampiri dan mencegah mamanya mendekati Sandy.
"Ma. Tenang dulu, Ma," pinta Ghaisan.
"Dia-."
"Kamu siapa? Ada urusan apa sama suami saya?" tanya Fany datar.
"Dia biang masalah ini! Bisa-bisanya dia menculik Dita. Dan dia juga yang membuat adik saya kecelakaan. Dia harus di penjara! Dasar penjahat!" pekik Rika.
"Penjarakan saja dia. Saya tidak akan menghalangi. Tapi jalankan sesuai prosedur hukum. Jangan main hakim sendiri," tegas Fany.
"Kamu tidak tahu laki-laki br*ngsek itu seperti apa. Dia akan menyesali semua ini. Dia pasti akan menyesalinya," geram Rika.
Fany hanya menyeringai tipis.
Dua security menghampiri mereka dan meminta Rika untuk keluar dari ruangan itu. Rika menurut, ia sadar betul sikapnya salah. Tapi, Raydita dan Rida. Bagaimana bisa mereka terluka karena orang yang sama?
Sandy, pria yang telah menghancurkan hidup Rida, kini juga menjadi penyebab Raydita sangat kritis keadaannya. Dari raut wajahnya, Rika terlihat sangat geram.
__ADS_1
_bersambung_