
Happy reading ...
*
Sambutan selamat datang yang terdengar dari pengeras suara untuk sesaat rasanya menghentikan degup jantung Isti. Kebahagiannya sampai di ubun-ubun mengetahui sang pujaan hati tak mengingkari janji.
"Jangan mengkhawatirkan jodoh, Nak. Jika benar Rayhan tulus mencintaimu, dia akan menghalalkan dirimu untuknya. Tapi jika tidak, berarti cintanya hanya seujung kuku dan selebihnya hanya nafsu."
Isti tersenyum lebar kala mengingat ucapan Abi-nya. Ia sangat bersyukur bisa berjodoh dengan pria yang dicintai dan mencintai dirinya pula.
"Mantennya udah datang. Ayo, siap-siap," ujar Ikah.
Ikah yang langsung melihat dari balkon kamar putrinya kembali ke dalam kamar dengan wajah yang teramat bahagia.
Perias itu meminta Istiqomah untuk berdiri agar ia mudah merapikan penampilan calon mempelai. Untuk sesaat, Ikah menatap lekat pada putrinya itu seraya mengusap lembut rahangnya.
"Rasanya baru kemarin Umi melahirkan kamu, Sayang. Tapi ternyata hari ini, Umi dan Abi sudah harus melepaskanmu. Jadilah istri yang baik untuk suamimu, dan ibu yang baik untuk anak-anakmu nanti ya," ujar Ikah lembut.
"Insya Allah, Umi. Isti akan sangat membutuhkan bimbingan Umi."
Ikah mengangguk dengan raut wajah haru.
Tok ... tok ... tok.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...."
Isti hampir saja memekik senang melihat teman-temannya ada di sana. Begitu juga Annisa, Raydita, dan Yuli yang terpana akan kecantikan Istiqomah.
"Wow. Ini beneran Isti?" tanya Raydita pada Annisa dan Yuli. "Gue kira bidadari yang nyangkut di kamar ini," selorohnya.
"Bisa aja, Nak Dita. Ibu turun dulu ya. Kalian temani Isti sebentar, nanti turun. Oke?" ujar Ikah.
"Siap, Bu!" sahut Yuli di sela kekehannya.
"Kak Ehan beruntung banget. Iya, 'kan?" tanya Annisa.
"Beruntung pake banget, banget, banget," sahut Raydita. Sedangkan Yuli mengangguk seraya mengacungkan ibu jarinya.
"Aku dong yang beruntung mendapatkan Kak Ray," kilah Isti.
"Iya, deh. Kalian beruntung. Nggak kaya gue, punya cowok kismin ahlak. Bisanya cuma bikin gue keseel. Nggak ada romantisnya," gerutu Raydita.
"Ciee curhat. Ehhem, ada yang pengen diromantisin nih. Tenang ... kita akan sampaikan keinginanmu itu pada kakanda tersayang," seloroh Yuli dengan gaya dan intonasi seperti sedang membaca puisi.
"Nggak gitu juga kali," delik Raydita.
"Eh, terus gimana dong? Kalau dia nggak tahu apa yang kamu inginkan, ya gimana bisa mewujudkan? Yang ada kalian bertengkar tiap ketemu," ujar Yuli.
"Au aah," dengus Raydita.
Yuli celingukan sebelum mendekat pada Raydita dan berucap, "Dari pada mulut kalian dipakai untuk bertengkar, mending dipakai ciuman."
"Heh! Lo temennya syaiton ya nyuruh gue begituan. Nggak usah lo suruh juga udah kali," sahut Raydita.
"Eh???"
Wajah Raydita seketika merona saat menyadari tatapan teman-temannya.
"Udah ah. Apaan sih, Kalian? Kalian juga pernah 'kan? Apalagi Lo," tunjuk Raydita pada Yuli.
Yuli menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara Annisa dan Isti terkekeh pelan.
Seorang kerabat Yuli mengetuk pintu, dan meminta mereka untuk segera turun. Raydita berkacak pinggang sebagai isyarat agar Isti melingkarkan tangan di lengannya.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Isti. Keduanya berjalan dengan anggun menuju ke luar kamar. Di belakang mereka, Annisa dan Yuli mengikuti.
"Sstt, Nis. Emang standar romantis Dita gimana?" tanya Yuli berbisik.
"Mana aku tahu. Tanya aja sama orangnya," sahut Annisa seraya mengulumkan senyumnya.
"Mungkin nganu kali ya. Mmppth," imbuh Yuli menahan tawa.
"Huss, bukan dong," ujar Annisa sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
"Hey, kalian! Ngomongin gue ya?" tanya Raydita yang menoleh ke belakang.
"Iya," angguk Yuli spontan.
"Awas lo ya," ucap Raydita seraya mengacungkan kepalan tangannya pada Yuli.
"Enggak lagi-lagi deh. Hehe ... takut kualat, ntar nggak diizinin jadi ipar," seloroh Yuli.
"Nah itu tahu," delik Raydita.
" Sorry, Dit. Nanti kalau aku nikah sama Kak Raka, kamu juga begitu 'kan sama aku?" tanya Yuli. Saat ini mereka sedang menuruni tangga.
"Enggak. Yang ada gue bakal jorokin lo," sahut Raydita asal.
"Ish. Jangan dong, Dit. Nanti bisa lain ceritanya," ujar Yuli.
"Cerita apa?" tanya Raydiyata tanpa menoleh.
"Ceritanya jadi, Dendam arwah calon ipar. Hihihi ...."
"Sstt, dah mau sampe. Jangan berisik," ucap Annisa pelan.
"Eh, iya. Nggak kerasa. Ehhem."
Ketiga teman calon mempelai itu kembali bersikap anggun karena hampir semua mata sedang menatap mereka. Ups, lebih tepatnya menatap sang calon mempelai wanita.
Acara ijab kabul kali ini sedikit berbeda. Sedari tadi, baik Raka maupun Yuda celingukan menatap sekitarnya. Tak hanya mereka, bahkan Rayhan juga merasa heran dengan sekitarnya.
"Yud, ini nggak salah 'kan? Kok laki semua," bisik Raka.
"He-em, aneh nggak sih menurut lu, Ka?" Yuda balik bertanya. "Dari depan aja tadi kita udah dipisah. Kita lewat pintu ini, Ayang Mbeb sama yang lain ke pintu samping," imbuh Yuda dengan suara sangat pelan.
"Jangan-jangan si Ray jadi pengantin tunggal," seloroh Raka.
Raka terkejut ketika ada yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan tersenyum malu pada pria berumur yang tak lain abahnya Isti.
"Mempelai wanita ada di ruangan sebelah. Mereka 'kan belum sah jadi suami-istri, jadi belum boleh berdekatan," ujar Abah.
"Ooh ... begitu." Raka dan Yuda saling menatap sekilas dengan cengiran di wajah masing-masing.
Rayhan yang mendengar hal itu pun mengulumkan senyumnya. Semua memang atas kesepakatan orang tua, dan ia tak keberatan akan hal itu. Tapi kalau boleh jujutr, Rayhan sangat ingin melihat mempelainya saat ini.
Rayhan menghela nafas dan membuangnya sangat pelan. Ia harus bersabar sedikit lagi dan mengikuti semua acara sampai selesai.
Ijab kabul pun sudah siap diikrarkan. Di ruangan lain, Isti merasa tegang mendengarkan suara ayahandanya mengucap kalimat ijab yang kemudian bersambut cepat oleh Rayhan. Isti sampai menahan nafas kala Rayhan menyebut namanya dalam ikrar pernikahan mereka tersebut.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah."
Tak hanya kedua saksi, tapi semua kerabat dan tamu yang hadir di dua ruangan berbeda itu serempak mengucapkan kata 'sah'.
"Alhamdulillah," ucap mereka secara bersamaan.
Doa dan nasihat pernikahan pun di perdengarkan. Isti yang diliputi rasa haru pun menitikkan air mata ketika Ikah memeluknya untuk memberi selamat yang kemudian bergantian dengan beberapa kerabat lain di sekitar dirinya.
__ADS_1
"Selamat datang di keluarga kami, Sayang," ujar Rianti seraya memeluk menantunya.
"Sekarang kamu punya dua ibu, dua ayah, dan juga dua saudari. Sekarang kita jadi keluarga besar. Iya 'kan, Umi?" tanya Rianti pada Ikah yang memberinya anggukan pasti.
"Terima kasih, Ma," ucap Isti.
"Hai, kakak ipar!" sapa Annisa riang.
"Berasa tua aku, Nis. Panggil nama aja deh," pinta Isti seraya tersipu malu.
"Memangnya boleh?" tanya Annisa pada para ibu.
"Terserah kesepakatan kalian aja deh. Bingung kalau seumuran gini," seloroh Ikah.
Mereka terkekeh pelan dan bergantian memberi selamat.
"Ciee, pengen ...," goda Raydita pada Annisa.
"Apaan sih? Sok tahu," delik Annisa dengan wajah bersemu.
"InsyaAllah nyusul ya, Neng Nisa," ujar Ikah.
"Aamiin, Umi," angguk Nisa.
"Wah, Bu Rianti mau menikahkan anaknya lagi?" tanya seorang kerabat Dahlan.
"InsyaAllah. Punya anak yang umurnya deketan begini, harus siap saling susul. Dan siap-siap juga rumah jadi sepi," sahut Rianti.
"Iya ya. Mudah-mudahan pada cepat punya momongan. Biar rame kalau lagi ngumpul," ujar kerabat Dahlan itu.
"Aamiin. Inginnya sih satu rumah ya sama anak-anak. Tapi ya namanya juga udah rumah tangga, lebih baik tinggal terpisah. Biar quality time-nya lebih terasa," sahut Rianti.
"Benar itu, Bu. Ibaratnya sebuah kerajaan, tidak mungkin 'kan ada lebih dari satu ratu? Sedangkan kita para wanita ini selalu ingin jadi ratu di rumah kita, sekalipun itu hanya rumah kontrakan. Kita yang berkuasa," seloroh wanita itu.
"Iya, benar. Hehe," sahut Rianti dan beberapa wanita sambil terkekeh ringan.
Dari ruangan pria terdengar pertanyaan kesiapan mempelai wanita bertemu pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Sembari menggoda, pembawa acar dari ruang wanita pun bertanya pada Isti yang tak kuasa menahan malu pada para tamu.
"Siap ya, Rayhan?" tanya pembawa acara itu melalui pengeras suara.
"Siap!" seru Raka dan Yuda bersamaan. Sedangkan Rayhan hanya mengangguk pelan.
"Bismillahirrohmaanirrohim. Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana ...."
"Eeh, itu nanti malam, Kang," tegur seorang pria seraya mengulumkan senyuman.
"Eeh, iya. Maaf semuanya, maaf ya ...."
"Ah Akang tahu aja ada yang mau langsung ngamar," kelakar Raka yang disambut kekehan para pria.
Wajah Rayhan pun seketika merona. Ia sangat tahu pembawa acara itu sengaja menggodanya. Dan sialnya, Raka menimpali godaan itu.
"Jangan belah duren sekarang, masih banyak orang," seloroh pria berumur di samping Raka dengan logat betawi yang kental.
"Nanti jadi pada pengen ya, Kek?" tanya Raka menimpali.
"Iyaak. Enak yang muda-muda. Engkong udah tua begini, kalau makan duren bisa punya penyakit gula (diabetes)," sahutnya.
"Eh? Kakek lagi bahas duren yang mana?" tanya Raka bingung.
"Itu yang di pengkolan, satu lima puluh ribu. Masih bisa ditawar," sahut pria berumur itu santai.
Raka celingukan sembari nyengir ketika menyadari para pria di dekatnya menahan tawa mendengar obrolan mereka.
"Ah, emang dodol si Raka. Aki-aki diladenin," batin Rayhan. Namun begitu, tidak dipungkiri karena hal tersebut perasaan Rayhan yang sempat merasa tegang, jadi lebih santai.
__ADS_1
_bersambung_