Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
pengakuan Annisa


__ADS_3

Happy reading ....


Setengah berlari Annisa menuju gerbang sekolah. Dari belakang Mang Asep mengikuti, kemudian bicara pada security.


Sepuluh menit telah berlalu dari pukul tujuh. Namun karena security mendengar dari Mang Asep bahwa anak perempuan itu putri Tuan Adisurya, maka Annisa diizinkan masuk ke area sekolah.


Tadi, Annisa beruntung pada saat menunggu angkutan kota ia bertemu Mang Asep yang baru pulang mengantar Raydita. Walaupun pada akhirnya ia tetap saja terlambat karena jalanan ibukota yang selalu macet di jam berangkat kerja.


"Nona, anda terlambat?" tanya Mr. Thomas. Menautkan alisnya melihat Annisa yang sedang mengatur nafas sebelum masuk ke kelas.


Annisa hanya bisa tersenyum kecut. Dalam hati ia mulai merasa was-was akan mendapat hukuman dari Mr. Thomas. Berdiri di tangah lapangan atau membersihkan toilet, mungkin saja itu yang akan ia dapatkan.


Mr. Thomas mengetuk pintu. Memanggil Miss Lara dan berbicara dalam bahasa inggris padanya. Tanpa diduga, Miss Lara mempersilahkan Annisa masuk dan duduk di bangkunya.


Annisa merasa lega meski harus mendapat tatapan tidak menyenangkan dari teman-temannya, kecuali Isti dan Yuda tentunya. Kedua sahabat Annisa itu terlihat senang dengan kehadirannya.


Lain halnya dengan Raydita. Ia merasa puas karena telah membuat Annisa terlambat datang ke sekolah.


"Ssstt, hei Nisa. Kamu kenapa terlambat?" tanya Yuda dengan suara yang sangat pelan sambil mencolek punggung Annisa dengan pena yang dipenggangnya.


Ih, si Yuda. Nanti aja kenapa sih? Kan nggak enak kalau ketahuan Miss Lara. Udah terlambat malah ngobrol, batin Annisa.


Annisa merapatkan badannya ke meja, berharap Yuda berhenti bertanya. Ada yang berbeda di sekolah ini. Para guru dan siswa sepertinya sudah terbiasa berbicara dalam bahasa inggris, mungkin karena memang sekolah internasional.


Annisa mulai bingung, banyak kata-kata yang tidak dimengertinya. Ia khawatir jika tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.


Sementara itu di kediaman dokter Rika ...


"Mbak, Mbaak? Kok melamun sih? Nggak biasanya pagi-pagi udah banyak pikiran," ujar Rida sambil menarik kursi tak jauh dari Rika.


Rika membuang kasar nafasnya. Melirik malas pada adik satu-satunya itu.


"Agas sudah berangkat sekolah?"


"Kamu nggak lihat ini jam berapa?" Rika balik bertanya dengan nada yang kesal.


"Yee, kok marah?" Rida pun bersikap tak acuh dan menghabiskan sarapannya.


"Mau kemana lagi kamu, bawa tas besar begitu?" tanya Rika yang menyadari keberadaan travel bag di dekat tangga.

__ADS_1


"Ke Bali." Sahutnya singkat.


"Mau ngapain? Sama siapa?"


"Mau tahu aja," delik Rida.


Rika mendengus kasar. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Rida yang belum dewasa di usia yang tidak muda lagi itu.


***


Bel istirahat pun terdengar. Anak-anak mulai berhamburan ke luar. Namun tidak dengan Annisa dan kedua temannya. Mereka memilih diam di kelas menikmati bekal makanan yang di bawa Istiqomah.


"Umi kamu sengaja ya Is, biar kita juga ikut mencicipi," ujar Yuda.


"Iya. Kata Umi, biar nggak antri di kantin dan lebih akrab sama teman. Jadi dibekalin banyak deh."


"Sering-sering ya, biar uang jajanku utuh, hehe."


"Huu, ngelunjak," ujar Annisa dan Isti sambil mengulumkan senyum melihat mulut Yuda yang penuh dengan makanan.


"Eh, Nisa. Anak yang kemarin nganter kamu pulang itu, yang waktu di tempat kemah kan?"


"Hehe, sorry. Pacar kamu ya, Nis?"


Uhhuk ... uhhuk.


"Beneran pacar kamu, Nisa? Yang mana? Kok aku nggak tahu," tanya Isti sambil menoleh pada Yuda dan Annisa bergantian.


Annisa menutup mulutnya yang sedang mengunyah dan menggerakkan tangan satunya sambil menggelengkan kepala.


"Dasar, sok tahu kamu Yuda. Tapi, apa benar kemarin kamu diantar siswa sekolah ini? Siapa, Nis? Ganteng nggak? Kenalin dong ... gantengan mana sama Kak Rayhan yang kemarin di kantin itu?" Isti tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Annisa hanya bisa tersenyum kecut pada sahabatnya yang terlihat sangat antusias tersebut.


"By the way, aku ingat nama Rayhan pernah ditanyakan bapak-bapak waktu di tempat kemah. Katanya dia kakak kamu. Tapi kok waktu di kantin dia bilang kamu pacar dia."


"Whats! Kamu pacarnya Kak Rayhan?" pekik Isti.


"He-em. Dia sendiri yang bilang begitu. Terus yang benar pacar kamu yang mana? Anak itu juga ada di sana. Yang aku dengar mereka bersahabat. Dari pada kamu bingung, lebih baik jadi pacarku aja Nis. Gimana?" Yuda memasang wajah menggoda sambil cengengesan.


"Apaan sih kamu? Nggak penting. Nisa, benar kamu pacarnya Kak Rayhan?" tanya Isti dengan wajah cemberut dan seperti akan menangis.

__ADS_1


Annisa merasa bingung. Ia tidak ingin teman-temannya salah paham terhadap dirinya.


"Sebenarnya ... Rayhan itu kakakku. Tepatnya, kakak angkat." Sambil tertunduk, Annisa menceritakan perihal latar belakang dirinya. Tentu sebagai anak angkat Adisurya, bukan anak kandung seperti yang ia ketahui kemarin.


Kedua teman-temannya mendengarkan dengan seksama. Isti yang merasa menyesal meminta maaf pada Annisa.


"Berarti kamu tinggal satu rumah dong sama Raydita? Dia kan adiknya Rayhan," ujar Yuda.


"Hah? Raydita yang duduk di sana? Dia adiknya Kak Rayhan?" Lagi-lagi Isti merasa terkejut.


"Iya. Kamu apaan sih, Bu Haji? Kamu naksir ya sama Rayhan? Lebay." Deliknya, membuat wajah Isti merona.


"Tapi kok dia pura-pura nggak kenal kamu, Nis?" imbuh Yuda.


"Dita pasti malu. Aku juga tidak ingin membuat dia malu. Jadi tolong ya, kalian pura-pura tidak tahu juga. Ini diantara kita aja. Kumohon ...."


Yuda dan Isti pun mengerti. Mereka mengangguk dan tersenyum tipis pada Annisa. Dalam hati Annisa merasa lega, setidaknya ia sudah terbuka pada dua teman baiknya.


Baru saja Annisa akan beranjak hendak ke kamar mandi, bel masuk sudah berbunyi. Alhasil, Annisa yang merasa canggung untuk meminta izin ke luar kelas pun menahan keinginan biang air kecilnya sampai pulang.


Beruntung hanya satu mata pelajaran di akhir kelas hari ini. Saat teman-temannya bersiap untuk pulang, Annisa berpamitan ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.


"Vio, itu kan anak kelas satu yang waktu itu," ujar Anya.


"Emang siapa sih?" tanya Viola malas dan meneruskan langkahnya.


"Ceweknya Rayhan."


Sontak langkah Viola terhenti. Ia menoleh ke arah kamar mandi lalu menoleh lagi pada Anya sambil berkata, "Lo yakin itu dia?"


"Yakin banget. Gue inget mukanya. Diam-diam menghanyutkan gitu. Iya kan, Nik?" Niken mengangguk cepat mengiyakan ucapan Anya.


Viola menatap sinis ke arah kamar mandi. Seringaian terlihat di wajah siswi berkulit putih tersebut.


"Kebetulan yang menyenangkan. Ya nggak gaes?" tanya Viola yang melangkah mendekati toilet siswi.


Kedua temannya yang mengikuti nampak senang dan bersemangat. Mereka bahkan ber-tos-ria sambil menyeringai bahagia.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2