
pintu kamar pun terbuka, kini ke luar lah anita, yg sedang menyeret koper nya, ia sudah memikir kan matang matang kalau ia akan meninggal kan Hendra, kalau Hendra masih tetap ingin menikah kan anak nya dengan klayen nya itu , tanpa memikir kan, banyak hati yg tersakiti, atas ke putusan yg dia nabil oleh sang suami, dan anak nya.
Hendra pun mengerjap ngerjap kan mata nya, dan melihat sang istri yg sedang menyeret koper nya, Hendra pun tersadar.
ia langsung mengejar sang istri dan menahan koper nya.
" kamu mau kemana mah.. ?? " ( Hendra) dengan tatapan, yg tajam.
" terserah aku, mau kemana mana juga, bukan urusan kamu.. ?? " ( anita)
" urus saja, obsesi mu untuk mendapat kan ke ingin nan yg kamu miliki, jangan pernah halangi aku.. ?? " ( anita ) ia menepis tangan Hendra, yg sedang menahan koper nya, tapi sayang, genggaman sang suami , sangat kuat.
anita pun melepas kan, koper tersebut dan menuju ke arah luar, tanpa mempeduli kan lagi koper nya, kalau masalah baju, ia tidak terlalu mempersalah kan, karena baju ia tidak ngambil di butik, ke betulan ia sudah mempunyai butik.
anita sudah lelah, untuk berdebat, dan masih ada rasa sakit di hati nya, karena sang suami yg menampar nya.
" sayang.. ?? " ( Hendra) ia berlari, dan berhasil mencekal tangan sang istri.
" lepas mas.. ?? " ( anita) ia berusaha memberontak, tapi sayang Hendra terlalu kuat mencekal tangan nya, andra malah membawa anita ke dalam peluk kan nya.
" maaf, sayang, aku akan membatalkan kan perjodohan ini, tapi aku mohon kamu jangan pernah tinggal kan aku, aku engga bisa hidup tanpa kamu sayang.. ?? " ( Hendra)
" kamu bisa hidup tanpa aku, setelah kamu dapat pengganti aku mas.. ?? " ( anita)
" maksud kamu apa sayang, aku engga akan pernah mencari pengganti kamu.. ?? " ( Hendra) dengan tegas.
" lepas mas, aku mau menenang kan diri aku, hati aku masih sakit, atas tamparan yg kmu beri kan mas.. ?? " ( anita)
" aku kecewa sama kamu mas, bukan hanya kamu mengecewakan kan aku dengan, kamu ingin menjodoh kan anak kamu, tapi kamu berani membentak aku, kamu berani menampar aku mas, karena obsesi mu, apa kamu masih kurang dengan ke harta kamu yg sekarang, apa masih kurang mas, di luar sana, masih banyak, orang yg terus berjuang untuk memperbaiki ekonomi nya, kamu ekonomi udah sangat bagus, bahkan harta kamu engga akan habis, hingga tujuh turun nan pun, kamu masih meu cari lebih, dan mengorban kan, orang lain mas, mana hati nurani mu mas.. ?? " ( anita) ia menunjuk dada sang suami, ia mengeluarkan kan unek unek nya.
" mana, mas Hendra yg aku kenal dulu, yg bisa menghargai perasaan orang lain, engga ada mas, aku kecewa sama kamu mas, sekarang renung kan, apa ke salah han kamu mas, kita masing masing dulu,kalau kamu sudah memutus kan ,kamu bisa menemui aku di butik, karena untuk sementara waktu aku akan tinggal di sana.. ?? " ( anita)
__ADS_1
" kita, mau berpisah.. ?? " ( Hendra) ia menatap wajah sang istri, dengan tatapan yg sayu
" aku ingin kita menenang kan pikiran kita masing masing.. ?? " ( anita)
" tapi engga harus berpisah gini sayang, mas engga bisa jauh dari kamu.. ?? " ( Hendra)
" pasti bisa mas, ini untuk sementara waktu, atu untuk selama nya, ke putusan semua nya ada di kamu.. ?? " ( anita)
" tapi sayang, jangan sampai berpisah.. ?? " ( Hendra) dengan tatapan memohon.
" sementara mas, engga seterus nya.. ?? " ( anita).
" aku mohon mas, beri aku waktu sendiri. ?? " ( anita) dengan tatapan memohon.
" tapi sayang.. ?? " ( Hendra) ia enggan, untuk melepas kan sang istri.
" aku sudah bulat, dengan ke putusan aku mas. ?? " ( anita)
Hendra menghela napas nya, ia harus mengambil ke putusan , walaupun itu berat, tapi ia tidak ingin melihat orang yg ia cintai, bersedih.
" engga mau besok, aku masih harus menata hati aku,yg kemarin kamu sakiti, susah untuk di hilang kan.. ?? " ( anita)
" terus berapa lama sayang.. ?? " ( Hendra)
" satu minggu ya mas.. ?? " ( anita)
" engga 3 hari aja, udah jangan di ganggu gugat, itu ke putusan, yg aku buat." ( Hendra) dengan tegas.
anita pun menghela napas nya, ia pun mau tidak mau menerima ke putusan sang suami.
" iya udah, aku mau berangkat.. ?? " ( anita)
__ADS_1
Hendra pun memeluk erat, tubuh sang istri, ia mengecup kening sang istri, berkali kali, ada rasa tak rela di tinggal oleh sang istri, tapi ia tidak mau memaksa ke hendak nya, ia harus membuat nyaman sang istri.
anita pun pergi, meninggal kan bagas, sambil menyeret koper nya, di saat ia ke luar, ia berpapasan dengan sang anak, andra.
" loh mah, mau kemana. ?? " ( andra) dengan tatapan terkejut nya.
" bukan urusan kamu.. ?? " ( anita) dengan tatapan sinis nya.
" mah, ini ada apa sebenar nya.. ?? " ( andra)
" tanya kan saja, sama papah kamu.. ?? " ( anita)
" kamu ke sini kan mau ketemu papah kamu, tuh papah kamu ada di dalam, kalian mau membahas, tentang menyakiti hati seorang istri kan, tuh sana masuk, jangan ngurusin urusan saya.. ?? " ( anita) ia menatap tajam ke arah anita.
sedang kan andra, menatap bengong ke arah sang mamah, mendengar ucapan sang mamah, yg formal, baru kali ini mamah nya, sepormal ini, andra berpikir, pasti ada yg tidak beres, pasti tentang ucapan nya kemarin.
andra benar benar menyesal atas ucapan nya, bukan hanya menyakiti sang istri, tapi ia menyakiti sang ibu, yg melahir kan nya, harus sekarang ia melihat ibu yg melahir kan nya, yg terlihat sedih, dan kacaw.
" terus sekarang mamah mau kemana.. ?? " ( andra)
" bukan urusan kamu, saya mau kemana juga.. ?? " ( anita) ia pun beranjak, dan menuju ke mobil, tanpa menoleh sedikit pun ke arah nya.
hati andra begitu, tertusuk, atas ucapan dan perlakuan sang ibu, ke pada nya.
andra pun masuk ke dalam rumah, dan melihat sang papah yg sedang duduk di sofa, sang papah pun terlihat kacaw, ia melihat sang papah, yg sedang menutup mata nya.
" pah.. ?? " ( andra) ia pun duduk di samping sang papah.
Hendra pun membuka mata nya, dan menoleh ke arah suara, ternyata sang anak.
" pah, kenapa jadi seperti ini.. ?? " ( andra)
__ADS_1
" papah yg salah nak, sekarang papah harus di tinggal oleh mamah kamu, papah engga bisa jauh dengan nya.. ?? " ( Hendra) ucap nya terisak.
andra baru melihat, ayah nya menangis seperti ini, sebegitu terpuruk nya dia, di saat di tinggal orang yg ia cintai, ini bukan papah nya, papah nya terlihat tegas, dan berwibawa, kini terlihat sangat kacaw, seperti tidak memiliki hidup lagi, andra berpikir, apa dia juga akan sama, seperti sang ayah, kalau ia memutuskan untuk meneriam perjodohan ini.