
waktu sudah menunjuk kan pukul, 04 kini Vina sedang bersiap siap, sambil menunggu giandra menjemput nya, walaupun ia gugup, tapi ia berusaha menekan itu semua, ia meyakin kan diri nya, akan baik baik saja, setelah rapi, ia ke luar dari kamar, dan menunggu di ruang tengah, di sana sudah ada sang mamah, yg sedang duduk di sofa, ia pun duduk di samping nya.
silvi pun menoleh ke arah sang anak, sambil tersenyum.
" mamah, yakin kalau kamu gugup nak. "( silvi)
" iya mah, aku gugup banget. "( Vina) ucap nya lirih.
" mamah yakin akan baik baik saja kak percaya sama mamah, sekeras apa pun tante fitri, mamah yakin dia akan luluh sayang, mamah tau karakter beliau, karena mamah bersahabat, bukan hanya satu minggu, atau sebulan, tapi mamah bersahabat dengan beliau, hampir mau 30 tahun, makan nya mamah yakin kalau beliau, pasti akan merestui hubungan kamu sama giandra. "( silvi)
" iya mah, doa kan yg terbaik untuk aku dan mas giandra ya.. ?? "( Vina) ia memeluk sang mamah, dengan erat.
" pasti sayang, tanpa kamu minta pun, mamah akan, selalu mendoa kan kamu. "( silvi) ia mengelus punggung sang anak, memberi kan ke kuatan, supaya ia kuat, menghadapi ke nyataan.
" makasih mah, selalu ada di saat aku terpuruk, selalu ada di saat aku membutuh kan perlindungan. "( Vina)
" itu, udah ke wajiban mamah sayang, apa pun mamah akan lakukan, sejelek jelek nya kamu, mamah akan selalu melindungi kamu, mamah akan menjadi garda terdepan, semua ibu, pasti sama sayang, akan melakukan itu semua. "( silvi)
" sekali lagi makasih mah, aku sayang sama mamah. "( Vina)
" mamah, juga sayang kamu nak. "( silvi)
mereka pun saling memeluk, di saat mereka sedang berpeluk kan, angga datang.
" assalamu'alaikum, wah.. wah.. ? kalian berpeluk kan, ko engga ajak papah sih, ada apa ini.. ?? "( angga) ia pun kini berada di sisi sang istri.
" waalaikumsalam.. ?? "( Vina, dan silvi).
" kita hanya saling menguatkan kan mas. "( silvi) ia mengecup punggung tangan sang suami.
" oh, gitu ya.. ?? "( angga) ia pun mengecup kening sang istri.
angga menyipit kan mata nya, tak kala melihat, penampilan sang anak, yg sudah rapih, biasa nya sang anak, hanya memakai daster rumahan, tapi kali ini sang anak, begitu rapih,dan tidak lupa ada tas di meja.
" kamu mau kemana nak. "( angga) ia menyipit kan mata nya.
" aku mau ke rumah mas giandra pah. "( Vina)
__ADS_1
" mau ngapain sayang.. ?? "( angga) sambil tangan nya membuka jas, dan tidak lupa ia membuka dasi nya.
" aku di suruh, mamah nya giandra, untuk pergi ke sana pah, kata nya da yg mau di bicara kan. "( Vina)
angga pun terdiam, karena bingung, ia harus berkata apa.
" papah kenapa malah bengong. "( silvi) ia mengelus bahu sang suami.
" palah lagi bingung aja mah, kenapa anak kita di suruh ke sana. "( angga)
" mamah juga engga tau pah, tapi mamah yakin akan baik baik saja, pasti giandra akan melindungi anak kita, dan juga cucu kita. "( silvi) ia berkata seperti itu, karealna ia tahu kalau sang suami, mengkhawatir kan keadaan sang anak, Iman tidak mau terjadi lagi, di kala dulu fitri menyakiti perasaan sang anak, hingga membuat Vina sakit, makan nya nya antisipasi dari sekarang.
" papah percaya kan.. ?? "( silvi) ia meyakin kan kembali sang suami.
angga menghela napas nya, ia benar benar ragu, dan takut terjadi apa apa dengan sang anak, apa lagi keadaan sang anak, lagi hamil, orang hamil kan engga boleh stres stres.
" gimana pah, papah mengijin kan.. ?? "( silvi) ia kembali bertanya, karena ia melihat wajah sang suami, yg masih ada ke raguan.
" bener kamu akan baik baik saja sayang. "( angga) kini ia menatap sang anak.
" aku yakin, baik baik saja pah.. ?? "( Vina) ia meyakin kan sang papah.
" iya pah, InsyaAllah, aku baik baik saja. "( Vina)
" apa perlu, papah sama mamah temenin. "( angga) ia menawar kan diri, karena hati nya, masih tidak mengijin kan, anak nya untuk pergi.
" engga usah pah, soal nya mamah nya mas giandra, hanya mengundang aku, papah jangan khawatir ya, aku harus menghadapi nya pah. "( Vina).
" baik, kalau itu mau kamu nak, papah cuman bisa berdoa, supaya urusan kamu, dengan keluarga giandra, baik baik saja. "( angga)
" amin pah, makasih atas doa dan dukungan nya. "( Vina)
" sama sama sayang. " ( angga)
" emang, mau jam berapa giandra menjemput kamu. "( angga)
" kata nya, sepulang dari kantor pah, tapi jam segini belum datang juga ya pah. "( Vina) ia melihat jam ding ding, ternyata sudah menunjuk kan pukul 16.30.
__ADS_1
" mungkin macet sayang, barusan papah juga, ke pegat macet. "( angga)
" iya nak , kan sekarang jam jam nya pulang kerja, apa lagi jarak kantor dan rumah kita, cukup jauh, sabar aja ya sayang. "( silvi) ia mengelus bahu Vina.
" iya mah.. ?? "( Vina)
selang 5 menit, ada suara deru mobil, mereka pun saling menatap.
" mungkin itu nak giandra. "( silvi) sambil menunjuk ke arah luar.
Vina pun mengangguk, dan benar saja kalau itu giandra.
" assalamu'alaikum.. ?? " ( giandra) ia pun berada di ambang pintu.
" waalaikumsalam.. ?? "( jawab mereka bertiga.)
" masuk aja nak. "( silvi)
karena jarak dari luar, dan ruang tengah itu tidak jauh, dan masih terlihat, makan nya ia hanya meninggi kan suara nya, untuk menyuruh giandra masuk.
giandra pun masuk, ia langsung mengecup punggung tangan silvi dan angga.
" silah kan duduk nak giandra, mau di buat kan minum. "( silvi) ia menawar kan minum man.
giandra pun duduk, di sofa tunggal, dan bersebelahan dengan Vina.
" engga usah tan, aku cuman bentar ko, oh iya tan, om, pasti Vina sudah mencerita kan, kalau saya mau membawa Vina ke rumah. "( giandra) ia langsung tutup poin, tujuan nya apa, ia bertamu di rumah Vina.
" ia nak,Vina udah membicara kan nya. "( silvi)
" baik kalau begitu, saya mohon ijin, untuk membawa Vina ke rumah saya. "( giandra) ia menatap ke arah silvi dan angga.
" saya ijin kan, tapi kamu harus melindungi anak saya dan juga cucu saya, jaga dia baik baik. "( angga)
" tanpa om, meminta aku majaga nya dengan baik, apa lagi, di dalam perut Vina, ada darah daging saya.. ?? "( giandra)
" om pegang, janji kamu. "( angga) dengan tegas.
__ADS_1
" baik kalau gitu, aku sama Vina pamit, soal nya sudah mau sore, takut nya ke malaman nyampe rumah nya. "( giandra)
angga dan silvi pun mengangguk, giandra dan Vina, berpamitan ke pada angga dan silvi, untuk ke rumah giandra.