
kini waktu nya, Vina pulang.
giandra memberes kan, barang barang sang istri, sang anak, juga barang diri nya, ia jadi kan satu, tapi tidak dengan baju sang anak, yg ia simpan terpisah.
cklek.
silvi pun masuk, dan di ikuti oleh angga, sambil mendorong kursi roda, untuk sang anak.
" sudah siap sayang. " ( silvi) ia menuju sang anak.
" sudah mah. " ( Vina).
" iya sudah kita berangkat, kamu sudah memberes barang barang nya gi. " ( silvi) ia menatap ke arah sang menantu.
" sudah mah. " ( giandra)
" iya sudah kalau gitu kita pulang. " ( silvi)
" tapi bentar, aku mau mengurus dulu, admin mah. " ( giandra).
" itu, sudah di urus sama asisten papah, sekarang kita pulang. " ( angga).
" tapi pah, itu kan tanggung jawab aku. " ( giandra) ada rasa tak enak.
" engga apa apa gi, itu tanda sayang papah sama cucu papah, sudah lah kita pulang. " ( angga) ia pun membawa koper, dan juga rensel.
giandra haya menghela napas nta, saat mendengar ke putusan ayah mertua nya, ia tidak bisa menolak.
" mas.. ?? " ( Vina) sedikit lirih.
giandra pun menoleh ke arah sang istri.
" sudah lah gi, jangan terlalu banyak pikiran, kita pulang. " ( silvi) ia pun menuju ke sang cucu, lalu menggendong nya.
sedang kan giandra ia menuntun sang istri, untuk ke kursi roda nya, dan setelah siap mereka pun meninggal kan ruang ngan nya.
" mas maaf ya, kalau papah mengambil keputusan, tanpa meminta pendapat dari kamu. " ( Vina) ia merasa tak enak, mana kala sang suami dari tadi terdiam, ia tahu kalau giandra merasa tak di hargai, oleh papah nya.
__ADS_1
" engga apa apa sayang, mas cuman engga enak aja, apa lagi ini kan, seharus nya menjadi tanggung jawab aku, tapi papah kamu malah mengambil tanggung jawab aku, jujur aku sedikit kecewa, tapi ambil positif nya saja, mungkin papah sayang sama cucu nya, makan nya beliau seperti itu. " ( giandra)
ia berusaha terlihat baik baik saja, walaupun ada rasa kecewa , tapi ia tidak ingin menunjuk kan nya, karena ia engga mau merusak suasana, yg sedang bahagia.
Vina pun mengelus punggung tangan sang suami, yg ke betulan berada di bahu nya, ia sedikit menenang kan nya, dengan seperti itu.
sedang kan angga dan silvi, sudah berada di mobil, dan mobil sudah melaju, mereka membawa mobil masing masing, karena untuk kenyamanan.
" pah.. ?? " ( silvi) ia menoleh ke arah sang suami, dan di pangkuan nya, ada sang cucu.
" apa mah. " ( angga) ia menoleh ke arah sang istri.
" pah , seharus nya papah engga usah membayar biaya persalinan anak kita pah, mamh lihat giandra kecewa. " ( silvi)
angga mengkerut kan kening nya, saat mendengar ucapan sang istri.
" maksud mamah. " ( angga).
" iya mamah sekarang bisa mengerti kan ekspresi giandra, ada rasa kecewa. " ( silvi).
" terus giandra kecewa kenapa mah. " ( angga) ia masih belum mengerti dengan ucapan sang istri.
" engga mah, papah engga ngerti, jangan beebelit belit gitu lah mah, papah engga ngerti. " ( angga).
silvi menghela napas nya, ia menutup mata nya sebentar dan menoleh ke arah sang suami.
" gini loh pah, papah seperti engga menghargai giandra. " ( silvi)
" papah enggaa menghargai giandra, dari mana nya mah. " ( angga) dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
" papah nyadar engga dengan sikap papah yg membiayai persalinan anak kita itu, tanpa memberitahu giandra, papah mengambil keputusan sepihak, sama aja papah engga menghargai giandra, sebagai suami ank kita, seharus nya, sebelum papah mengambil keputusan untuk membiayai persalinan anak kita, papah berdiskusi dulu dengan giandra pah, karena bagaimana pun Vina, udah menjadi tanggung jawab nya giandra. " ( silvi) sedikit tegas.
angga terdiam, masih mau mendengar ke lanjutan ucapan sang istri, tapi sang istri malah terdiam.
" gini mah, papah engga bermaksud apa apa sumpah, karena papah melakukan semua itu bentuk kasih sayang papah sama anak dan juga cucu papah mah, apa salah. " ( angga) ia sedikit tidak Terima.
" engga ada salah nya pah, cuman tindak kan papah yg salah. " ( silvi)
__ADS_1
" salah nya dari mana. " ( angga) ia masih, sedikit tidak Terima.
silvi menghela napas nya, karena sang suami masih tidak mengerti dengan ucapan nya.
" salah papah tidak berdiskusi dulu dengan giandra pah, ngerti engga sih pah, apa yg di ucap kan oleh mamah. " ( silvi) ia sedikit meninggi kan suara nya, membuat sang cucu terusik dengan suara nya, ia pun menepuk nepuk paha sang cucu, agar tertidur lagi, dan benar saja, sang cucu tertidur kembali, setelah melihat sang cucu tertidur silvi pun menoleh ke arah sang suami.
" pah, kalau kamu berada di posisi giandra gimana, pasti kamu akan merasa kecewa karena posisi kamu sebagai suami tidak di hargai, papah ngerti kan ucapan mamah,dan cerna, apa yg mamah ucap kan. " ( silvi) ia memaling kan wajah nya ke arah jendela, ia tidak mau berdebat dengan sang suami, karena ia takut lepas kontrol seperti tadi mengakibat kan sang cucu tebangun.
angga terdiam dan mencerna ucapan sang istri.
setelah menempuh jarak, 30 menit akhir nya mereka pun sampai, angga ke luar, dan membuka kan pintu, untuk sang istri yg membawa sang cucu.
Mereka pun masuk ke dalam rumah di ikuti oleh giandra dan juga Vina, di rumah sudah ada fitri dan juga kiara yg menyambut mereka.
fitri langsung mengambil alih sang cucu, ia menggensong nya, dan mengecup nya.
mereka pun duduk di sofa, sambil berbincang bincang.
sedang kan giandra dan angga, mereka duduk di taman belakang, dengan di temani secangkir kopi.
" gi.. ?? " ( angga) ia memulai percakapan.
" iya pah. " ( giandra) ia menoleh ke arah sang mertua.
" maaf kan papah ya, karena palah mengambil keputusan, tanpa berdiskusi dulu dengan kamu. " ( angga)
giandra mengerut kan kening nya, karena ia tidak mengerti dengn ucapan sang papah, yg meminta maaf.
" kenapa papah minta maaf. " ( giandra).
" iya karena papah membayar biaya persalinan istri kamu, papah engga ada maksud apa apa sungguh, papah lakukan itu semua karena papah sayang sama cucu papah dan juga anak papah, papah engga ada maksud untuk tidak menghargai kamu sebagai suami dari Vina, papah sampai engha berpikiran ke sana. " ( angga) dengan tatapan bersalah.
" engga apa apa, aku tahu ko, kalau papah engga ada maksud apa apa. " ( giandra) ia tersenyum ke arah sang mertua.
" makasih ya gi, sekali lagi maaf ya. " ( angga).
" iya pah.. ?? " ( giandra)
__ADS_1
mereka pun masuk ke dalam, karena waktu sudah menunjuk kan makan siang.