
setelah penolak kan Hendra, tentang perjodohan antara Lina dan andra, kerja sama mereka batal, heru sangat kecewa, atas ke putusan Hendra.
" pah gimana ini, aku mau nya sama andra.. ?? " ( Lina)
" tapi papah engga bisa memaksa, andra begitu sulit untuk kita dapat kan, kirain papah dengan rencana itu, andra bisa kita dapat kan, tapi andra lebih memilih istri nya, padahal dari segi ke cantik kan, masih cantik kamu sayang , dari segi kelas, masih berkelas kamu, kalau istri nya itu kan, hanya anak asisten papah nya, apa yg di lihat oleh si andra. " ( heru)
" mana aku tau pah.. ?? " ( Lina)
" supaya nya aku mau andra, milik aku pah, aku engga mau tau, papah ingin aku bahagia, makan nya kalau papah ingin aku bahagia papah harus menikah kan aku dengan andra. " ( Lina)
" tapi susah sayang, padahal papah udah mengeluarkan kan jurus andalan papah, biasa nya orang orang engga akan nolak, dengan tawaran papah yg beri kan, apa lagi dengan ke kayaan, tapi kenapa andra malah menolak, kalau engga gini aja, kita cari aja laki laki lain aja sayang, di luar sana, masih banyak laki laki yg lebih dari andra, papah masih punya koneksi papah yg lain, mereka lebih hebat dari andra. " ( heru) ia menatap ke arah sang anak.
" aku mau nya, sama andra pah, aku engga mau sama yg lain, kalau papah engga bisa mendapat kan andra sebagai menantu papah lebih baik aku engga nikah sekalian, kalau engga aku mati aja. " ( Lina) dengan tatapan serius.
" engga bisa gitu dong sayang, di dunia ini laki laki, banyak bukan andra, ayo lah nak, jangan mempersulit ke adaan, papah bisa mencari kan laki laki yg lebih dari andra. " ( heru) ia masih berusaha membujuk Lina.
" aku mau nya andra pah, engga ada laki laki lain, yg aku ingin kan selain andra, pokok nya aku engga mau tau, papah harus bisa mendapat kan andra, untuk aku. " ( Lina) sambil beranjak dari sofa, meninggal kan sang papah.
sedang kan heru, ia memijit kening nya, karena ka bingung harus melaku kan apa, tidak mungkin ia harus memaksa andra.
tapi kalau tidak memaksa andra, ia takut sang anak terus terus san merajuk, dan melakukan apa yg ia bicara kan, di saat ia sedang melamun, terdengar suara pecahan kaca, di kamar sang anak.
heru menghela napas nya, ia tau apa yg di lakukan sang anak, karena sang anak akan bersikap brutal, kalau ke ingin nan nya, tidak di kabul kan, heru pun teringat almarhum sang istri, karena sekarang ia benar benar membutuh kan sosok sang istri, mungkin kalau masih ada sang istri, anak nya bisa ada yg jaga, dan memberi kan perhatian, pada sang anak.
bukan itu saja, sang anak pun bakal ada yg menasehati.
" tuan, itu nona lina.. ?? " ( bibi) sambil ngos ngos san, karena ia berlari, menuju heru, yg sedang duduk di sofa.
" biar kan saja, nanti juga kalau sudah cape, dia akan berhenti sendiri.. ?? " ( heru) ia lelah, dengan sikap anak nya, dan ia juga sudah tau dengan karakter sang anak, makan nya ia memilih untuk mendiam kan nya.
__ADS_1
" tapi tuan.. ?? " ( bibi)
" udah lah bi, saya mau ke ruang kerja dulu, kalau ia sudah berhenti, bibi masuk ke kamar nya, dan bersih kan pecahan kaca nya, bibi hati hati ya, saat membersih kan nya. "( heru)
bibi hanya mengangguk kan kepala nya saja, sebagai jawab ban.
sedang kan heru beranjak dari sofa, menuju ke ruang kerja, dari pada ia harus berdiam diri di situ, kepala nya bakal tambah pusing, ia harus memikir kan cara, untuk mendapat kan andra, karna kalau belum tercapai ke ingin nan nya, sang anak, bakal terus merajuk.
sedang kan bibi, hanya menghela napas nya, dan ia pun kembali ke dapur, untuk mengerja kan pekerjaan nya, yg belum selesai.
berbeda di kediaman heru, kini anita baru saja sampai ke rumah nya, seminggu sudah ia meninggal kan rumah nya.
anita pun masuk ke dalam rumah, di sambut oleh bibi.
" nyonya.. ?? " ( bi inah) dengan menampil kan wajah ceria nya.
" akhir nya nyonya kembali, keadaan tuan nyonya sangat memprihatin kan, tuan sering mengabay kan makan nyonya, bahkan tuan seharian engga makan. " ( bi inah) dengan tatapan sendu nya.
anita menghela napas nya, ia pun sungguh bersalah karena meninggal kan sang suami, tapi ia juga tidak memberi kan sedikit pelajaran ke pada sang suami, supaya jera, atas keputusan yg akan nanti ia ambil, apa akan merugi kan orang lain, atau engga.
" apa sekarang suami saya sudah makan. " ( anita) ia menatap bi inah.
bibi menggeleng kan kepala nya, sebagai jawab ban.
anita pun menghela napas nya, dan melihat jam ding dong, ternyata sudah menunjuk kan pukul sebelas siang.
" ambil kan makan nan nya, dan juga minum nya bi. " ( anita)
bibi pun mengangguk dan menuju ke dapur, untuk membawa makan nan, tak berselang lama bibi pun membawa nampan yg berisi nasi beserta lauk pauk nya, dan juga segelas air putih.
__ADS_1
" ini nya.. ?? " ( bi inah)
" bawa ke ruang kerja, aku ngikutin bibi dari belakang. " ( anita)
lagi lagi bi inah, hanya mengangguk kan kepala nya saja, bi inah pun berjalan ke tuang kerja, dan di ikuti oleh anita.
tok.. tok.. tok..
" masuk..?? " ( Hendra)
bi inah pun masuk ke dalam, sambil membawa nampan, sedang kan anita hanya berdiri di depan pintu, ia melihat sang suami yg benar benar kacau, bahkan terlihat badan nya kurus, anita melihat ke adaan sang suami, yg sungguh perihatin.
" tuan, ini makan dulu.. ?? " ( bi inah)
" bawa aja bi, aku engga mau makan, nanti kalau aku lapar, aku minta ki bibi.. ?? " ( Hendra) tanpa menoleh ke arah bi inah, ia masih pokus menatap leptop nya.
" tapi tuan, tuan belum makan apa apa, dari tadi pagi, bibi khawatir sama keadaan tuan, gimana kalau tuan sakit. " ( bi inah)
hendea pun merebah kan punggung nya, ke kursi, ia menatap lurus.
" biar kan saja bi, aku sakit, karena sekarang istri aku aja sudah engga peduli sama aku, aku sudah ke hilangan dia bi.. ?? " ( Hendra) ucapan nya lesu.
" lebih baik aku mati, dari pada aku harus ke hilangan istri aku, dia itu separuh jiwa aku bi.. ?? " ( Hendra) kini sudah terdengar isak tangis Hendra.
bibi pun menoleh ke arah anita, anita pun mengkode bi inah.
bi inah pu tau dengan kode anita.
" kalau kamu mati, aku jadi janda dong, emang kamu engga mau, hidup lebih lama lagi, bermain sama sama cucu kita, menghabis kan masa tua kita. " ( anita)
__ADS_1