
Sungguh hina dan tidak bijak jika seorang pemimpin hanya menonton pasukannya dibantai satu persatu oleh musuh. Dihujani oleh petir dan dihancurkan menjadi abu. Bahkan, empat panglimanya tumbang dalam pertarungan dan dia hanya diam saja tanpa melakukan tindakan.
Tidak mengulurkan tangan memberi bantuan atau melakukan misi penyelamatan. Semua dibiarkan terjadi dan tidak dijadikan beban pikiran.
Badrika menyeringai tanpa merasa bersalah, hal seperti itu tidak ada dalam kepalanya. Iblis memang dari sananya sudah kejam dan licik, mengorbankan kawan untuk kepentingan pribadi sudah biasa. Badrika memang tidak bisa dipercaya, dan bijak bukanlah salah satu sifat yang ada pada dirinya.
Tidak ada sedikitpun penyesalan dalam diri Badrika, hatinya mati rasa. Dia tertawa, hanya manusia bodoh yang masih mengira dia punya jiwa santun dan belas kasih.
Jiwa aslinya terinjak di jurang tanpa dasar dan mungkin tidak akan pernah bisa dikembalikan. Tidak mati. Belum. Tapi menunggu membusuk bersama jiwa-jiwa lain yang telah digadaikan manusia demi sebuah kedigdayaan.
Sungguh dia merasa lucu melihat kebodohan manusia yang tubuhnya mau ditempati makhluk sepertinya. Sayangnya, salah satu orang bodoh itu adalah ayahnya.
Badrika mengangkat sudut bibirnya, tertawa tergelak mengingat kematian Biantara yang merupakan salah satu panglimanya. Panglima yang diam-diam menginginkan Sang Pemimpin agar menempati tubuhnya.
Manusia bodoh yang terlalu ambisius juga layak mati, memang tidak seru karena bukan aku yang membunuhnya, tapi itu sungguh menghemat tenaga … menggelikan!
Badrika menyunggingkan senyum mematikan, panglima yang sudah melukai wanita kesukaannya layak mendapatkan balasan berkali lipat. Dia sedikit tidak suka Mika mempunyai bekas luka di punggung, merusak kulit mulus yang selalu diimpikannya.
Pemuda dengan aura pekat itu berjalan beriringan dengan perempuan yang menutupi wajahnya dengan cadar, yang dengan kekuatannya menebarkan mantra tidur pada tiap langkah kaki saat berjalan menuju ke timur.
Di belakang mereka, pasukan besar yang disiapkan berjalan seperti kabut hitam dalam gelap malam. Tidak terlihat oleh mata tapi memancarkan aura mematikan dan menggidikkan.
Portal belum terbuka penuh, tapi Badrika ingin memanipulasi cuaca agar gerhana bulan yang seharusnya baru terjadi besok akan terlihat malam ini.
Badrika membutuhkan buku sihir itu sekarang untuk dibaca besok pada saat tengah malam, dia ingin mengambil tubuh Pandji saat ini agar kekuatannya bisa digunakan besok untuk membuka penuh portal dimensi.
Sang Pemimpin ingin besok malam menjadi hari migrasi terbesar iblis dalam berbagai rupa menyeberang ke dunia manusia, menguasai dan mengurangi populasi yang tidak diperlukan.
__ADS_1
Badrika ingin membuktikan bahwa legenda hari kejayaan setan bukanlah isapan jempol belaka.
Badrika ingin mengukir sejarah dalam dunia manusia.
"Masa kejayaan manusia sudah berakhir," gumamnya lirih. "Benar begitu, Bunda?"
Perempuan bercadar tergelak lirih, "Anda terlalu tergesa, Pangeran!”
“Di dunia iblis, tidak ada yang menghargaiku sebagai pangeran. Jadi tidak ada salahnya aku pergi dan pindah tempat untuk membangun kerajaanku sendiri di sini."
Badrika menatap angkasa yang gelap gulita. Pasukannya menutupi cahaya bulan yang seharusnya menerangi jagad raya.
"Kota ini? Bukankah Anda sudah memilih lokasi lain?"
"Aku akan menghancurkan kota ini, mengambil manusia yang kuat dan membiarkan yang lainnya membusuk." Badrika berkata dingin.
"Aku akan tetap memilih Jawa Timur untuk kerajaanku … sebagai ucapan terima kasih padanya karena sudah membuka jalan untukku masuk ke dimensi ini.
Aku akan memberikan kejayaan seumur hidupnya, membantunya mencapai tingkat tertinggi sebagai manusia berilmu … sebagai penolong bagi manusia bodoh lain yang meminta bantuan padanya! Dia akan jadi paranormal utama."
"Tanpa perjanjian apapun?"
"Ya," jawab Badrika penuh misteri. Menepati janji bukanlah gayanya, bagi Badrika … tidak ada salahnya memanfaatkan ambisi dukun tua yang merapal mantra pembuka gerbang untuk kepentingan kaumnya. "Sudah waktunya iblis berjaya di atas manusia."
Perempuan bercadar yang dipanggil bunda menatap skeptis pada pemuda di sebelahnya, “Hidup berdampingan dengan manusia?”
“Untuk sementara waktu …,” jawab badrika sinis.
__ADS_1
"Jadi kita menunggu apa sekarang?"
Badrika menyeringai, "Momentum."
"Aku tidak mengerti," ujar wanita bercadar lirih.
"Pemuda penuh rasa penasaran itu akan datang pada kita, dia tidak bisa menolak rasa ingin tahunya. Rasa tertarik pada kegelapan yang mendatanginya akan membawanya keluar rumah."
"Menunggunya keluar kubah?"
"Mungkin, aku masih melihat situasi. Aku benar-benar tidak tahan dengan bau tubuhnya, energinya memancingku untuk segera masuk dan menempati raganya," kata Badrika memejamkan mata, mendongak dan mengendus udara seperti binatang menandai tempat mangsa yang akan diburunya.
"Bagaimana dengan tubuh yang Anda tempati sekarang? Bukankah dia cukup kuat?"
"Tidak cukup sempurna untukku. Tubuh ini bisa dipakai salah satu orang kepercayaanku," jawab Badrika enteng.
Jiwa Badrika yang terinjak di bawah alam sadar berontak tidak terima, dia menyerahkan tubuh agar bisa ikut menikmati kejayaan sebagai orang nomor satu di dunia manusia. Sebagai raja diraja. Bukan sebagai panglima seperti kata Sang Pemimpin yang sedang berkuasa dalam tubuhnya.
Bukankah pemimpin klan dari dunia lain yang bergelar pangeran iblis itu sama sekali tidak menghargai pengorbanannya?
Badrika merasa bodoh karena mau diperalat iblis, dipecundangi dan dikhianati pengendali tubuhnya. Tapi, dia tidak punya daya untuk melawan. Satu-satunya harapan hidupnya adalah Pandji.
Pangeran iblis menertawakan jiwa Badrika yang tersiksa di bawahnya, mencemooh dengan ejekan kasar, "Kau adalah budakku selamanya, Badrika!"
Kedua tangan Badrika merentang, mengolah kegelapan di bawah bulan, menyiapkan kejutan untuk pemuda ingusan yang berada di halaman rumahnya. Pemuda yang sedang menatap bulan redupnya. Pemuda yang bernama Pandji Satria Abisatya.
***
__ADS_1