SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 167


__ADS_3

Masago berteriak lantang saat menyerang, "Pedang setan membalik langit!".


Deru tebasan dari atas ke bawah yang siap membelah Pandji hanya mengenai ruang hampa. Pandji sudah melompat ke samping tepat waktu dan mengambil momentum untuk memenggal kepala iblis kembar yang sudah kehilangan satu tangannya.


Iblis jangkung meradang marah, salah satu jurus terbaiknya dengan mudah dihindari Pandji. Dan ketika Masago memberikan serangan susulan mematikan dengan jurus-jurus lain, Pandji masih tak tersentuh.


Dia tidak percaya, jurus yang sudah menghabisi banyak penjahat di dunia iblis, tidak berarti apa-apa saat digunakan untuk melawan Pandji.


Satu iblis kembar yang tersisa sudah tidak mampu menguasai emosi hingga menyerang tanpa aturan. Kematian saudara kembarnya membuat amarahnya meledak tak terkendali, segala macam jurus andalan dikeluarkan untuk menghentikan dua pedang Pandji yang terus mendesak dan menorehkan luka di sekujur tubuhnya.


"Iblis kembar menantang maut!" Satu tusukan luar biasa cepat mengarah ke leher Pandji. Jurus pamungkas yang tidak pernah gagal itu dilancarkan dengan seluruh sisa tenaga dalam. "Tamat riwayatmu, bocah!"


BLAR!!!


Sebuah ledakan keras terjadi saat tangan Pandji mengayunkan Damar Jati untuk menangkis dengan kecepatan yang tidak diprediksi oleh iblis kembar. Mana sihir yang mengalir dalam pedang Pandji menekan kekuatan pusaka milik iblis kembar dan mematahkannya menjadi dua.


Pandji mengikis jarak dengan sigap, tangan kirinya yang menggenggam Asih membuat gerakan menusuk ke arah jantung. Pandji mencabut pedangnya sesaat setelah seluruh tubuh iblis kembar meledak menjadi kepingan debu halus di sekitarnya.


Masago tercekat, firasatnya semakin buruk. Sebelum jiwanya pergi ke neraka, dia berpikir untuk membuat pilihan. "Sebentar … tunggu sebentar anak muda! Tahan seranganmu!"


Pandji mendengus kesal membaca pikiran dan trik iblis di depannya untuk menyelamatkan diri. “Ada apa lagi? Jam negosiasi sudah ditutup dari tadi!”

__ADS_1


“Maafkan saya yang hina ini, anak muda. Aku tau iblis Damar ada bersamamu, bersembunyi di balik auramu. Aku juga bisa merasakan kalau pedangmu adalah satu atau mungkin keduanya adalah bagian dari tujuh pusaka legenda sihir yang dibuat oleh Mpu Sapta."


"Kau berbelit-belit, iblis pedang setan!" kata Pandji menyebutkan gelar ksatria iblis jangkung yang sedang menciut nyalinya.


"Aku akan mengantarkanmu pada Mpu Sapta, kau boleh membawanya pergi dari dunia iblis asalkan kau membiarkan aku tetap hidup, bagaimana? Apakah ini cukup adil?" Masago memasang wajah iba.


"Aku akan memikirkannya sambil bertarung! Sebaiknya angkat pedangmu sekarang sebelum kepalamu hilang!" sarkas Pandji tanpa beban.


Masago menjatuhkan diri di atas lutut dan memohon belas kasihan, "Aku akan menunjukkan penjara tempat Mpu Sapta disekap, aku memiliki kuncinya. Tidak akan ada keributan yang bisa membahayakan teman wanitamu yang sedang menuju kesana!"


Pandji mengangguk setuju tanpa pikir panjang lagi. Prioritasnya ada pada keselamatan Mika. “Bawa aku ke dunia bawah sekarang!”


Masago berdiri dan berlari ke arah belakang kastil tempat Mika menghilang diikuti Pandji. Dia membuka kunci manual dan beberapa kunci yang berupa formasi sihir hitam dengan sangat cepat. Detik berikutnya, Pandji sudah melihat Mika yang sedang bingung memilih jalan.


"Mika!" panggil Pandji pelan. Spontan suara geraman iblis di sekitarnya menjadi riuh. Rupanya itu adalah suara tahanan yang berada di sisi kiri dan kanan lorong.


Mika menatap tidak percaya, Pandji berjalan bersama satu iblis yang terus merapal mantra untuk membuka formasi sihir yang dipasang pada tiap lorong. Mika hanya mengikuti arahan Pandji untuk berjalan di belakangnya.


Begitu sampai ujung lorong, iblis jangkung memberikan tempat pada Pandji dan Mika untuk berdiri pada lingkaran yang tergambar di lantai dengan simbol rumit di dalamnya. Pandji baru saja mau bertanya saat simbol dan lingkaran itu tiba-tiba menyala, mengurung mereka bertiga dan membawanya ke atas secepat kilat menyambar.


"Sihir teleportasi," desis Mika takjub.

__ADS_1


"Kita sebut saja lift gaib," timpal Pandji tak acuh.


Sepertinya Pandji baru saja tiga kali mengedipkan matanya ketika mereka sudah berhenti di lantai tergelap dengan aura paling pekat yang melingkupi seluruh kastil.


Mereka sampai di dunia paling bawah tempat Mpu Sapta berada.


Masago berjalan lebih dulu ke satu arah dengan bau anyir dan busuk yang sangat tajam. Dia berhenti mendadak lalu menggeser tubuhnya agar Pandji dan Mika bisa berdiri berjajar untuk melihat pintu tempat Mpu Sapta dikurung. "Aku hanya bisa mengantar sampai sini, aku tidak bilang kalau ini akan mudah karena singa penjaga itu sangat ganas!"


Pandji mendelik menatap makhluk garang dengan ukuran jumbo. Singa siluman berkepala dua langsung mengaum keras melihat kedatangan mereka.


"Jadi kau sengaja mengumpankan kami pada singa neraka itu karena tidak mampu membunuhku?" tanya Pandji gusar.


"Jangan bercanda anak muda! Kita sudah sepakat! Aku memang tidak bisa menghadapinya ataupun menundukkannya dengan sihir, itu hewan spiritual peliharaan raja iblis. Hanya yang mulia yang bisa menjinakkannya dengan sihir, singa itu akan memakan siapa saja yang berani membuka pintu tempat Mpu Sapta berada!" terang iblis jangkung menyesal.


Dengan satu gerakan kilat, Pandji mencengkeram bahu iblis jangkung dan melemparnya ke arah singa penjaga yang liurnya sedang menetes karena lapar. "Jika kau sudah tidak berguna untukku, bukankah sebaiknya kau jadi santapan malam untuk peliharaan rajamu? Aku yakin beliau tidak akan keberatan aku membantu memberi makan hewan kesayangannya!"


Tanpa persiapan apapun, Masago tidak bisa menghindar, suara umpatannya pun tidak keluar saking terkejutnya. Tekanan tenaga dalam dari Pandji membuat tubuhnya terdorong kuat menuju dua kepala singa yang sedang menanti.


Matanya menatap Pandji tak berdaya, pemuda yang terlihat polos, bisa dipercaya dan bisa dimanipulasi itu justru mengumpankannya sebagai kudapan segar untuk singa sang raja.


Tubuh Masago mulai tercabik dan hancur dalam gigitan taring-taring tajam salah satu makhluk spiritual paling ganas, di depan mata Pandji dan Mika. Suaranya lemah saat berkata, "Kau sudah berjanji mengampuniku, anak muda!"

__ADS_1


"Aku lupa!" jawab Pandji dengan nada tak bersalah.


***


__ADS_2