SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 72


__ADS_3

Aswanta tergelak melihat Pandji melotot padanya, "Oh jangan marah, Sobat! Aku hanya bercanda … aku datang memang untuk memenuhi undangan makan malam Ibundamu, selanjutnya aku ingin berlatih tanding denganmu!"


Pandji kembali bersandar di tempat duduk dan menjatuhkan bahunya, "Aku sedang malas, aku lelah jika kau mau tau!"


"Tentu saja aku tau, abdi dalem yang cantik tadi bercerita kalau kakak perempuanmu terluka di ringroad timur."


"Hm … aku ingin beristirahat, Aswanta!"


Dengan semangat Aswanta mengajukan usul, "Aku akan bergabung denganmu untuk memberantas makhluk aneh yang aku juga tidak paham datang darimana."


"Aku memang punya rencana untuk mencari partner, tapi aku memikirkan beban moral yang harus aku tanggung jika terjadi sesuatu dengan mereka." Pandji menyahut dengan ekspresi rumit.


"Aku bersedia menanggung resikonya, Pandji!"


"As … aku sama sekali bukan sedang mengajakmu main drama, resiko kehilangan nyawa menjadi taruhannya!" gerutu Pandji mendengar jawaban Aswanta yang sama sekali tidak melalui pemikiran matang.


"Jika kita tidak menghentikan mereka sekarang, lalu kita semua akan mati perlahan. Apa aku benar?" tanya Aswanta mengacak rambutnya dengan frustasi.


Pandji merenung, cepat atau lambat keadaan memang akan terbalik. Jumlah Iblis yang jauh lebih banyak dari pada manusia akan mengambil alih dunianya.


Aura gelap sangat besar di udara yang dirasakan Pandji sore tadi menunjukkan portal neraka sudah terbuka.


Pandji sadar tak mungkin bergerak sendiri, menjadi pahlawan kesiangan tanpa meminta bantuan orang dan mati konyol saat melakukan peperangan bukanlah cita-cita luhurnya.

__ADS_1


Aswanta benar saat mengatakan Pandji adalah salah satu orang yang bisa dipercaya menjadi pemimpin bagi ksatria-ksatria muda yang ingin bergabung.


Di bawah bimbingan kesatrian Putra Ganendra milik Pandji, para ksatria muda bisa mendapatkan keahlian lebih dalam ilmu bela diri ataupun sihir putih.


Setidaknya mereka bisa menjadi pelindung bagi keluarga dan orang-orang yang mereka sayang.


"Baiklah ... aku akan menyediakan tempat tinggal, senjata dan latihan bagi teman-teman yang ingin bergabung dengan kita."


"Bayar?" tanya Aswanta hati-hati.


Pandji menatap sahabatnya dengan sudut bibir berkedut, "Gratis!"


“Oh kau memang sahabat terbaik, Pandji. Aku tidak menyangka kalau kau begitu … dermawan!" ujar Aswanta menahan agar tidak tertawa geli.


Pandji mendengus kesal, "Ayo kita ke meja makan sekarang, kita tunggu yang lain di sana saja!"


"Soal Prameswari …."


"Stop!" potong Pandji cepat. "Aku tidak akan membantu, berusahalah sendiri!"


Suara nafas besar berhembus dari mulut Aswanta, "Aku hanya ingin minta nasehat, bukan mau minta tolong, Pandji!"


Pandji menyeringai tak bersalah, "Sebaiknya kau jauhi gadis itu, cari yang lain!"

__ADS_1


"Astaga, Pandji … jangan bilang kalau kau mau nikung gebetanku!"


Dengan mimik konyol Pandji menjawab, "Bukan gayaku makan tulang kawan, Aswanta. Rebutan perempuan hanya membuang-buang waktu, pikirkan saja dirimu … selama setahun mendekati Prameswari dan tidak ada hasil tapi masih saja kau teruskan. Itu namanya tindakan bodoh!"


"Jadi …?” tanya Aswanta ragu.


“Heh, sekolah kita tidak kekurangan perempuan cantik. Kau juga tidak jelek … kau hanya tidak punya harga diri," ejek Pandji sarkas.


"Tapi Pram …." Aswanta berusaha memberikan alasan.


"Tidak baik perempuan terlalu banyak pacar, apalagi bolak balik selalu dapat wajah baru … jadian sama dia paling juga nggak bisa lama, kamu bakal cepet diganti sama yang lain," tutur Pandji sok bijak. Aswanta tertawa kering, menyadari kebenaran ucapan Pandji.


Mereka makan dalam diam hingga selesai dan akhirnya punya waktu mengobrol sebentar dengan Ayahanda Pandji. Membahas makhluk yang sudah masuk ke tubuh manusia dan aura gelap yang menggantung di angkasa.


"Ada apa lagi, Ayah?" tanya Pandji muram menyadari raut Ayahnya tidak terlalu gembira.


Ayah Pandji menarik nafas berat, firasat tidak enak sedang melanda pikirannya. "Berlatihlah dengan baik, setelah itu kunjungilah Ratna!"


" … " Pandji tidak menjawab, kepalanya berat dan terasa pusing. Dia hanya mengangguk ringan pada ayahnya lalu mengajak Aswanta ke halaman belakang rumahnya.


Sepertinya naik Barion ke Solo bukan ide yang buruk! Itu juga setara dengan naik mobil mewah.


Pandji menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal lalu menyeringai kecil sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2