
Pandji masuk ke dalam kamar, memanggil barion hitam dan pergi keluar rumah melintasi dimensi menuju rumah Paman Candi.
Firasatnya mengatakan Badrika mungkin bersembunyi tidak jauh dari rumahnya, mengawasi pergerakan pasukannya yang sebagian besar sudah menyusup ke seluruh murid kesatrian Hargo Baratan, juga mengawasi Ibundanya agar tidak dibawa Ayahandanya keluar rumah.
Suasana rumah Paman Candika sepi, bekas pertarungan yang memporak-porandakan pagar dan halaman masih kentara jelas.
Pandji turun dari barion dan menyuruh tunggangannya itu pulang, dia berjalan menyelidiki sekitar rumah dan berkonsentrasi untuk mendeteksi aura.
Aliran mana sihir Paman Candi di udara masih tersisa tipis, begitu juga milik Ayahandanya, hanya saja Pandji tidak merasakan adanya energi gelap Badrika ada di sana.
Energi yang bercampur dengan dua mana yang dikenali Pandji hampir sama dengan milik pria pendek yang dihabisi Mika di depan pagar rumahnya.
Pandji baru saja hendak mengetuk ketika satu bayangan besar menerkam dari belakang dan membuatnya terpelanting menabrak pintu.
"Bau busuk ini … aura ini, sialan!" Pandji membalikkan tubuh dengan cepat demi mendapati tubuh pemuda yang kulitnya melepuh dan matanya yang seharusnya hitam hanya berwarna abu-abu samar sedang menatapnya dengan seringai aneh.
Mulut pemuda berbau busuk itu meneteskan lendir kehitaman, parahnya rambut yang seharusnya rapi, tampak setengah botak karena kulit kepala yang juga melepuh seperti hendak lepas.
Pemuda itu menghunus pedang kepada Pandji dengan jari tangan yang hampir terlihat tulangnya.
Pandji segera menarik pedang dengan gagang bermotif emas dan mengisinya dengan mana.
TRANG!!! TRANG!!!
Kedua pedang beradu cepat, Pandji sesekali menghindari maroz yang bersemayam dalam tubuh murid Hargo Baratan yang menyerangnya dengan brutal.
Tebasan pedang pemuda yang sudah mati itu sama sekali tidak buruk meskipun tubuhnya mulai rusak dan membusuk.
Pandji kembali melompat ke samping saat sabetan pedang hampir memotong lehernya. Pedang yang meleset tebasannya itu menggores pintu rumah dan membuatnya terbelah jadi dua.
"Maaf Paman … bukan aku yang merusak pintu rumah ini," teriak Pandji menggema sampai ke dalam rumah.
__ADS_1
Dengan lompatan tinggi, Pandji membalas dengan satu ayunan cepat yang memburai isi perut pemuda di depannya.
Cairan hitam dan bau busuk keluar bersamaan, pemuda itu jatuh tersungkur di depan pintu dan terbakar oleh panasnya Asih Jati dengan cepat, menyisakan abu hitam lalu hilang dalam ketiadaan.
Pemuda itu meninggalkan pedang yang kualitasnya lumayan, Pandji mengambilnya untuk dikembalikan.
Ayahanda Pandji keluar dari pintu diikuti oleh Paman candika yang wajahnya pias, seperti tidak ada darah yang mengalir di kepalanya. Beberapa luka yang telah diperban juga tampak pada tubuh Paman Candi.
Pandji mengamati dengan penuh tanda tanya sebelum pria yang berumur tidak jauh dari Ayahandanya itu menyuruhnya masuk.
“Apa yang terjadi, Paman? Sebelumnya … maaf soal pintu depan."
Paman Candika mengibaskan tangan, tidak peduli dengan kerusakan yang terjadi pada rumahnya, "Itu bukan masalah, ada hal penting lain yang jadi pikiran Paman."
"Paman banyak terluka, bagaimana bisa?" Pandji mengamati luka ringan yang tidak tertutup perban, seperti bekas cakaran atau goresan ringan senjata tajam.
"Mas Pandji baru saja bertemu dengan salah satu murid Hargo Baratan yang tidak kuat menerima sihir hitam dengan energi iblis di dalamnya. Bagi mereka yang tidak bisa bertahan … jiwa mereka hilang tidak tertolong dan tubuh mereka membusuk. Tapi, tetap bisa digunakan oleh iblis yang awalnya merasuki mereka," terang Paman Candika singkat.
"Setengah dari murid Hargo Baratan telah berubah menjadi makhluk mati yang tetap hidup, setengahnya lagi yang berhasil bertahan mengalami kemajuan dengan menjadi lebih hebat dari sebelumnya. Paman baru saja menghadapi keduanya, hanya beberapa orang tapi mereka cukup kuat."
"Bukankah seharusnya ... mereka tidak menyerang Paman Candi?"
"Mereka mematuhi perintah Badrika, Paman tadi hanya berusaha keluar rumah untuk mengunjungi Ayahmu, tapi mereka menahan dan cenderung melukai. Terjadilah pertarungan, untung Ayahmu segera datang, jika tidak ... mungkin nyawa Paman sudah tidak lagi ada di badan."
Penyesalan Paman Candika tidak ada habisnya, kepalanya hampir meledak merasakan tanggung jawab yang harus dipikulnya, baik kepada orang tua yang anaknya berubah menjadi iblis atau yang nyawanya sudah hilang. Bahkan pada warga Yogya yang mulai resah dengan kejadian di beberapa sekolah dan tempat umum.
“Badrika datang ke sini?” tanya Pandji menyuarakan pikirannya.
“Dia pergi begitu merasakan aura Ayahmu datang.”
Pandji tidak meleset, tebakannya tepat. "Saya ingin bertemu dengan Tante Risa!"
__ADS_1
"Jangan! Sihir dalam gelangnya akan membunuhnya secara spontan jika ada aura lain selain kegelapan mendekatinya. Ayahmu sudah coba mendekat, dan itu membuat Risa sekarat!"
“Jadi apa langkah kita selanjutnya, Paman?”
“Paman sudah berdiskusi dengan Ayahmu, Mas Pandji bisa mengobrol untuk langkah selanjutnya. Paman belum bisa menentukan sikap, bagaimanapun Badrika adalah anak … dan dia termasuk yang tubuhnya masih hidup meskipun jiwanya entah dimana."
Paman Candika menarik nafas berat, lalu melanjutkan berbicara, "Tapi Paman tetap berharap ada keajaiban yang bisa trah Ganendra ciptakan untuk menyembuhkan Badrika dan juga Yogya yang sekarang dalam bahaya.”
"Kita sudah membahasnya, jangan keluar rumah agar keselamatanmu dan keluarga tetap terjaga!" sahut Ayahanda Pandji. "Kami pamit, matahari sudah hampir terbit."
Ayahanda Pandji mengajak putranya untuk ikut pulang dengan mobil.
Pandji kembali duduk di belakang kemudi dan menahan mulutnya agar tidak menguap lebar karena tata krama keluarga.
“Bisakah Pandji beristirahat setelah ini, Ayah?”
“Tidak …! Sampai rumah langsung mandi lalu jemput oma dan opa di bandara Adi Sucipto. Mereka mendarat jam tujuh nanti.”
Pandji melirik jam tangannya dan mengeluh dalam hati.
Kenapa tidak Ayahanda saja yang menjemput? Bukankah Ayahanda putranya Oma dan Opa?
"Ayah masih ada urusan lain, Mas! Bukannya kamu yang protes Oma datang melintas dimensi dan tidak mampir menyapamu?"
"Eh … bukankah tidak sopan membaca pikiran orang, Ayah?"
"Kamu anakku, apa ada masalah?"
"Sama sekali tidak," jawab Pandji cepat. Dia menyingkirkan otaknya, berusaha tidak memikirkan apapun agar tidak dibaca Ayahnya, walaupun sebenarnya Pandji setengah mati ingin memaki kemampuan yang tidak dimilikinya itu.
***
__ADS_1