
Dalam sejarah cerita, gerhana bulan bukanlah kejadian yang hanya berhubungan dengan fenomena alam.
Gerhana terjadi lantaran ulah Batara Kala yang menjadi ancaman bagi semesta termasuk umat manusia. Bumi akan menjadi gelap gulita karena raksasa menakutkan itu menelan bulan atau matahari yang ada di angkasa.
Tapi siapa yang masih percaya dengan legenda raksasa tersebut di dunia modern seperti sekarang, bahkan Pandji sendiri bingung harus mengatakan apa tentang cerita mitos tersebut.
Kenyataannya, meski di langit bulan sudah semakin hitam karena permainan Badrika yang sedang memanipulasi gerhana, tidak ada lagi warga yang membunyikan lesung atau membuat keributan untuk mengusir Sang Batara Kala.
Semua lelap dalam kesunyian, seolah membiarkan kegelapan menyelimuti bumi sementara.
Penanggalan kuno yang baru saja dilihat Pandji, meramalkan bahwa gerhana bulan besok adalah salah satu kejadian yang disebut bulan abang. Yaitu malam gerhana yang diiringi dengan terjadinya petaka besar dalam sejarah.
Pandji sendiri menyebut istilah bulan abang sebagai super blood moon karena warna bulan saat gerhana akan menjadi merah seperti darah.
Putra Al berharap penanggalan kuno tentang bulan abang dan ramalan itu tidak benar, meski dia tau leluhurnya yang membuat perkamen kuno itu juga tidak sepenuhnya salah.
Pandji keluar kamar dan bertemu Mika yang membawa masuk lagi kopi pesanannya.
"Aku mencarimu di luar, mereka bilang kamu ke kamar," kata Mika mengulurkan cangkir pada Pandji dengan wajah rumit. "Bulan mulai gelap, sedikit merah seperti bulan darah!"
"Biarkan saja, suka-suka Badrika mau bikin fenomena apa! Mau bikin bulan merah atau bulan berwarna pelangi aku tidak peduli. Kita tunggu saja aksi tak berguna mereka sambil ngopi," jawab Pandji jenaka.
"Astaga! Kita ini sedang dalam bahaya Mas Pandji, sempat-sempatnya bercanda," sungut Mika kesal.
Pandji mendengus, "Kita sudah membuat persiapan untuk segala kemungkinan, Mika."
"Lalu mau kemana ayahanda dan Ibunda Selia pergi? Bukankah semua orang harus berada di dalam kubah lanjaran?"
"Memecah konsentrasi Badrika, Ibunda sudah mendapatkan cara untuk membebaskan Tante Risa dari gelang sihir putra gilanya, mereka akan menyelamatkan keluarga Paman Candi yang tersisa sementara Badrika fokus menyerang di sini," terang Pandji datar.
"Tapi di sini butuh banyak bantuan, Mas! Aku yakin aura merah yang ada di angkasa membentuk bulan merah itu adalah kamuflase, sebenarnya itu adalah tenaga pembuka portal untuk menurunkan iblis ke bumi kan?"
"Ada Oma Dinara, Mika."
__ADS_1
"Bagaimana jika jumlah mereka yang menyeberang dimensi terlalu banyak?"
"Banyak itu pasti … tapi tidak sebanyak jika membuka portal utama menggunakan kombinasi tubuhku dan mantra dari buku mati.
Iblis yang sudah bersemayam dalam tubuh manusia mempunyai kekuatan terbatas, begitu pula dengan Badrika dan wanita beraura merah yang ada bersamanya.
Setelah salah satu dari mereka berhasil membuka portal, aku pastikan orang itu tidak mungkin bisa bertarung maksimal … karena membuka portal membutuhkan mana yang cukup besar."
" …" Mika menatap intens pemuda yang sedang memberikan logikanya. Dia mengira-ngira jumlah Iblis yang turun mungkin sedikit lebih banyak daripada yang ada di Parangtritis. Mika membenarkan bahwa kekuatan Badrika hanya akan mampu membuka portal kecil.
"Begitu juga dengan oma, begitu semua Iblis turun ke sini beliau akan memasang kubah penutup untuk mengurung mereka agar tidak bisa keluar area. Memastikan semua mati. Itu juga butuh energi yang sangat besar karena luasnya wilayah yang harus dipasangi rangket oleh oma."
"Jadi kita akan bertarung sendiri?"
"Raka dan Gia akan bergabung dengan kita," jawab Pandji serius.
"Mereka masih anak-anak," ujar Mika miris.
"Mereka punya kekuatan … tidak ada pilihan lain, Mika. Kita semua akan saling melindungi," sergah Pandji seraya berjalan ke luar rumah. Mengamati cincin bulan yang mulai terlihat menyeramkan.
“Sendiko Mas Pandji, saya sudah bersiaga bersama istri."
"Baiklah, ehm … aku punya pertanyaan untukmu, Damar!”
“Silakan, saya akan menjawab semampu dan sesuai pengetahuan,” ungkap Damar Jati sopan.
"Apa kau dan istrimu bisa mati?"
"Semua yang bernyawa bisa dan pasti mati pada saatnya, Mas Pandji!"
"Aku butuh penjelasan lebih spesifik," tutur Pandji keras kepala. "Aku penasaran kau tidak mati selama beberapa abad, padahal aku yakin kau menemui banyak pertarungan sepanjang hidupmu!"
"Itu karena saya diberkahi panjang umur," ucap Damar menahan tawa.
__ADS_1
"Aku baru sadar sekarang … ternyata kau juga type roh pusaka yang menyebalkan, Damar!" umpat Pandji jengkel.
Pandji mendengar suara cekikikan Asih Jati dalam kepalanya, menertawakan pembicaraan konyol antara tuan dan senjata pusaka.
Pandji bertepuk dua kali untuk menarik perhatian timnya yang masih berada di atas atap, melihat fenomena aneh di angkasa. "Waktunya pertunjukan, Teman-teman!"
GROAR!!!
Satu auman dahsyat membuat Pandji berjingkat, barion bertanduk mendengus dan mengaum sekali lagi setelah mengendus udara di atasnya.
"Aku tidak memanggilmu, Teman!" ucap Pandji sambil menggosok moncong yang ada di depannya. Barion hitam menjilati tangan dan mendongak meminta Pandji memberi garukan pada leher.
"Aku tidak sedang ingin bepergian, Black!" desis Pandji mengulang penjelasan.
Barion Pandji menatap nyalang, sedikit mengejek dan mungkin juga kesal kehadirannya tidak diharapkan. Seandainya saja dia bisa bicara, dia ingin berteriak kalau kedatangannya bukan untuk mengajak Pandji jalan-jalan, tapi untuk memberikan bantuan.
Pandji tersenyum lucu, "Baiklah, jadi kau merindukanku ya?"
Seperti anjing menggonggongi sesuatu, barion Pandji mengaum panjang menatap langit sebelah barat.
Satu pilar hitam raksasa terbentuk di sana, tepat dimana aura kegelapan terasa pekat dari sejak sebelum gerhana. Langit malam seperti atap lebar yang disangga dengan hanya satu tiang.
Dinding hitam di sebelah barat makin tebal seiring banyaknya iblis yang masuk dalam dunia manusia. Membuat barisan rapat dengan bentuk seperti serigala besar, beberapa mewujud dalam bentuk lain seperti binatang buruk rupa.
Tidak lama, pasukan hidup Badrika juga menyatu. Para ksatria dari perguruan ayahnya yang masih bertahan hidup siap membantu Badrika, begitu juga dengan barisan manusia mati yang dagingnya mulai melepuh seperti hendak lepas dari kerangka.
Angin dingin menyapu dari arah barat, membawa bau busuk daging dan bau anyir lendir yang menetes dari taring para maroz. Mana sihir hitam meruap di udara, berjalan perlahan ke arah kediaman Pandji.
BLAR!!! BLAR!!! BLAR!!!
Tiga petir besar berwarna hijau menyambar kubah lanjaran, mengguncangnya dengan keras hingga hampir runtuh. Suaranya yang menggelegar menciutkan nyali para ksatria muda.
“Bukan kau saja yang pandai bermain dengan petir, bocah tengil! Aku lahir bersama geledek terbesar di masanya … dan aku benci ada manusia yang bisa menguasai anugrah istimewaku," desis Badrika dengan telunjuk menghadap langit. Energinya meluap-luap saat menyiapkan petir berikutnya.
__ADS_1
BLAR!!!
***