SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 91


__ADS_3

Pandji mendengus, dia langsung membekukan udara dengan cepat saat melihat bayangan hitam berkelebat kearahnya, sehingga terkaman maroz berkepala dua itu menabrak dinding tak kasat di depannya.


Aliran mana meruap dari tubuh Pandji, mengaliri dua pedang yang tergenggam erat di tangannya. "Apa kalian bermaksud memberi kami kejutan?" tanya Pandji dingin.


Mika membuat perlindungan untuk tim yang baru turun dari mobil dengan mengayunkan belati kepada sejumlah makhluk yang seharusnya hanya hidup di dunia gaib.


Mahesa berteriak lantang, "Tetap dekat denganku agar aku bisa membuat perisai untuk kalian semua!"


Bersamaan dengan perintah yang diucapkan, Mahesa menyelubungi dirinya dengan perisai gaib alaminya yang memancarkan warna kuning.


Aswanta yang paling dekat dengan Mahesa langsung menerima transfer mana dan mendapatkan perlindungan sama besar dengan Mahesa.


"Mika … sebaiknya kamu bergabung dengan Mahesa!" perintah Pandji tegas. Dia tidak ingin melihat satu-satunya wanita dalam timnya terluka apalagi sampai celaka.


"Don't mind me!" (Jangan pikirkan aku!)


Pandji mendengus sebal mendengarnya, gadis cantik itu pasti berkeras untuk menjaganya seperti balita.

__ADS_1


"Aku akan melindungi kakakmu!" seru Tirta dengan deru pedangnya yang mengayun seperti air.


"Baiklah, mari kita sambut tamu yang baru turun dari langit ini, jangan pernah menyepelekan lawan dan jangan mati!" Pandji membuat satu tebasan besar, menciptakan angin setajam pisau untuk memisahkan kawanan maroz menjadi dua bagian.


Mika berduet bersama Pandji, sementara Aswanta membentuk formasi segitiga dengan dua pemuda lainnya.


Dalam sekejap suara lolongan panjang dan logam beradu memenuhi malam yang sunyi. Pedang pendek Aswanta sudah memenggal tujuh kepala maroz. Tombak kuning Mahesa menusuk empat.


Tirta terus saja menghitung tiap iblis yang sudah diubah menjadi abu olehnya. "Dua belas … tiga belas!"


Cairan hitam berbau busuk muncrat dari leher-leher yang terpotong oleh senjata Pandji dan teman-temannya. Tapi banyaknya maroz yang sudah jadi abu seperti tidak mengurangi jumlah yang ada.


"Mereka terlalu banyak, Mas Pandji!" pekik Mika seraya mencabut kedua belatinya yang menancap tepat di mata hewan yang mendengking pendek karena kehilangan kehidupannya.


"Aku suka mendengar kamu menyebut mas, meskipun ini bukan waktunya roman-romanan!"


Mika menggerutu sinis, "Aku sedang mengajar sopan santun!"

__ADS_1


"Kamu tahu aku tidak akan pernah memanggilmu kak!" Pandji membabatkan Asih Jati untuk menyongsong maroz yang melompat ke arahnya.


"Aku akan menghabisi yang berkepala dua lebih dulu, mereka jauh lebih kuat!" Mika terbungkus cahaya merah dari dua belati yang digenggamnya saat dia mengeluarkan tenaga dalam jumlah besar.


Pandji merapal mantra dan mengatur mana sihirnya. Dia memompa hingga delapan puluh persen dari keseluruhan energi yang ada dalam tubuhnya untuk membereskan secara cepat kawanan maroz yang jumlahnya masih banyak.


Dua pedang kembar Pandji melayang di udara saat dilepaskan, Pandji berdiri dalam posisi terpejam dalam lindungan Mika.


Kedua tangan pemuda itu merentang, saat matanya membuka dan melihat angkasa … kilat merah membelah langit dan turun menjadi badai petir yang menyambar area sekitarnya.


BLAR!!! BLAR!!!


Lolongan menggidikkan bersahut-sahutan diiringi suara serigala menggeram, lalu semua lenyap diterpa angin bersama debu hitam berbau busuk yang bertebaran di udara.


Aura yang semula pekat mulai menipis karena banyak makhluk yang hancur terkena sambaran petir Pandji. Menyisakan dua maroz besar berkepala dua yang masih tegak dengan moncong yang meraung murka.


***

__ADS_1


__ADS_2