
Pandji berpegang erat pada tanduk barion yang membawanya berlari melintas kegelapan, menyelinap di antara pepohonan mati dan suara aneh setiap penghuni hutan yang berwarna hitam.
"Blacky … tirai yang menyala merah itu adalah array sihir." Pandji menunjuk batas wilayah yang ditandai oleh iblis untuk mengurungnya agar tidak bisa meninggalkan kota.
Barion hitam tunggangan Pandji memberikan tanda mengerti, hewan gaib tak biasa itu mengeluarkan energi keperakan yang menyelubungi tubuhnya dan juga pemuda yang duduk di punggungnya.
Sambil mengaum keras, Barion itu menjejakkan kaki belakangnya, menekan tanah dengan energi penuh dan menabrak dinding yang serupa tirai berwarna merah.
Pandji bergidik tersengat energi yang keluar dari array sihir, tapi tubuhnya yang berselimut cahaya perak tetap bergeming dari posisi duduknya.
Barion itu mampu melintasi array dengan kekuatan gaibnya, membawanya berlari makin jauh dari batas wilayah yang telah berlubang.
Pandji menghembus nafas lega, bangga pada macan hitam yang terus menggeram rendah mengusir penampakan makhluk lain yang mungkin akan memperlambat perjalanan tuannya.
Sudut bibir Pandji bergetar sebelum membentuk senyum miring dan membuat rencana.
Mengajak Raksa balapan sepertinya menyenangkan, aku ingin tahu kecepatan terbang naga hitam itu jika jokinya bukan Ayahanda!
Pemuda yang selalu penasaran itu mengusap pipi barion, memberikan tanda untuk melambat setelah merasakan aura Ratna. Aura yang terasa tipis karena elemen kehidupannya hampir hilang.
Pandji diam dalam gelap, mengawasi keadaan rumah Ratna yang lengang dan dingin, sunyi tanpa suara kehidupan. Hawa sirep sangat kuat menyelimuti lingkungan sekitar.
__ADS_1
Melihat ke atas, Pandji menemukan jendela kamar yang terbuka. Lampu padam di dalam ruangan, menyisakan cahaya bulan redup yang menjadi pencahayaan.
Siluet perempuan yang sedang berdiri di balik kaca jendela tampak memperhatikan Pandji yang sedang bersembunyi.
Barion Pandji bergerak gelisah, mendongakkan moncongnya dan mengendus udara. Pandji mengelus kepala macan hitam yang ingin mengeluarkan suara karena aura gelap yang terasa pekat.
"Ratna …," erang Pandji perlahan, hampir tak terdengar siapapun kecuali dirinya.
Seringai halus tampak di wajah Ratna yang menatap kosong ke arah Pandji, suaranya menghipnotis saat memanggil, "Kemarilah, Pandji!"
Pemuda itu mengumpat dalam hati karena persembunyiannya diketahui, dengan satu kali perintah barion hitam meloncat tinggi mengantarkan Pandji masuk ke dunia nyata lagi. Dunia tempat Ratna berdiri, kamar gadis yang seharusnya Pandji hindari.
Dengan senyum mencemooh Pandji menyapa, "Dimana Ratna?"
Ratna tersenyum manis, menyembunyikan seluruh energi gelapnya, menyamarkan dengan rapi sebelum menjawab dengan intonasi yang sangat halus, "Aku suka kau berkunjung di tengah malam begini, Pandji."
Pandji bersikap waspada, getaran energi yang sangat besar dirasakan nyata meskipun wanita di depannya berusaha menyimpannya. "Aku tak suka basa-basi."
"Hm … baiklah Cah bagus, aku memang benar-benar menyukaimu. Jika bisa memilih, aku lebih baik mengurungmu di kamar ini."
Pandji diam sejenak, ekspresinya tidak berubah saat berbicara, "Tinggalkan tubuh gadis itu sekarang!"
__ADS_1
Ratna tertawa, merasa terhina dengan kalimat perintah dari Pandji yang dirasa masih ingusan. "Aku bukan abdimu, kau tak bisa memerintah seenak pusarmu!"
Bau harum Ratna sangat menguji kesadaran Pandji, dia tidak ingin mabuk dalam pesona gadis yang mulai menggodanya dengan berjalan memutar, menyentuh kulit lengan dengan ujung jarinya yang halus.
"Apa yang kau inginkan?"
"Tak banyak!" jawab Ratna yang sudah kembali berdiri di depan Pandji.
"Sebutkan!" ucap Pandji tak sabar. Dia merapal mantra karena banyak aura gelap berdatangan, mengawasi mereka berdua dari kegelapan.
Barrier sihir Pandji menyala hijau kebiruan, mengurungnya dan juga Ratna yang tertegun dengan mata tanpa cahaya.
"Kau …!" pekik Ratna tercekat. Dia merasa terjebak di dunia Pandji.
"Sebutkan saja kalimat terakhir … karena aku akan mengirim jiwamu kembali ke neraka!"
" … " Ratna berusaha memberontak, tapi sayang tubuhnya sama sekali tak mampu digerakkan.
Udara sekitar memadat dan menjepit tubuh Ratna, tak ada yang bisa dilakukan gadis cantik itu selain bernafas, berkedip dan mengumpat kasar.
***
__ADS_1