
Esoknya dalam laga babak selanjutnya Pandji ikut menonton pertandingan dari tempat peserta. Dia mengamati, dari delapan orang yang lolos dua diantaranya berasal dari kesatrian asuhan Paman Candika. Dan dari dua orang itu salah satunya adalah Biantara.
Pertandingan pertama sebagai pembuka masuk dua pemuda 20 tahunan dengan senjata yang yang unik, satu pemuda berbadan gempal dari kesatrian Dewa Agni memegang cambuk.
Sementara lawannya pemuda berwajah cantik seperti perempuan, bersenjatakan kipas yang selalu digunakan untuk menutup wajahnya dari mata ke bawah.
Suara cambuk menderu di udara begitu pertarungan dimulai, pemuda gempal tidak memberikan kesempatan pada lawannya untuk membalas serangannya.
Tapi cambuk ganasnya juga tak sedikit pun mengenai sasaran. Kecepatan gerakan berpindah tempat menyulitkan cambuk menyentuh tubuh lawan, membuat pemuda gempal dilanda panik.
Matanya mulai sulit mengikuti kecepatan pemuda dengan senjata kipas, celah terbuka dan kipas yang menutupi wajah itu tiba-tiba sudah menggores bahu dan memuncratkan darah ke udara. Tak lama, pemuda gempal itu jatuh dan kehilangan kesadaran.
Ketika gilirannya tiba, Pandji merasa jengkel karena tidak bertemu dengan Biantara. Dia justru harus menghadapi rekan seperguruan Bian yang bertubuh tinggi besar dengan senjata keris.
"Bagaimana persentase kemenanganku, Damar?" desis Pandji hampir tak mengeluarkan suara. "Auranya tak kalah pekat dengan Bian."
Damar menjawab santai dalam kepala Pandji, "Bagaimana jika kita jatuhkan dalam satu serangan saja, tidak terlalu melelahkan dan juga hemat waktu."
__ADS_1
"Itu terlalu ekstrim, Damar!" keluh Pandji lirih. Berdiskusi dengan roh pusaka membuatnya sakit kepala. Damar Jati terlalu arogan meskipun itu bukan omong kosong belaka.
Pandji kesal hanya karena mendengar tawa Damar Jati dalam pikirannya. Dia tidak akan secepat itu menjatuhkan lawannya, harus terlihat apik dan natural.
Pandji mengangguk saat sudah berhadapan dengan lawan tandingnya, memberikan kesempatan untuk bersiap. "Pandji … Putra Ganendra."
Lawan tanding Pandji juga mengangguk sopan, "Jayantaka, Hargo Baratan!"
Secepat kilat Pandji menarik dua pedangnya dan maju menyerang, meliuk dan melompat saat menghindari tusukan senjata Jayantaka.
KLANG!!!
Bayangan hitam dalam tubuh Jayantaka menyeringai, memamerkan taring dan kekuatannya saat menguasai tubuh manusia.
Tubuh Jayantaka diselimuti debu hitam, dan dia bergerak seperti bayangan mengitari Pandji yang diam seperti patung.
Namun Pandji bukan tak siaga, dua pedang kembarnya telah menyala dan siap menemukan mangsanya. Pandji yang berada dalam konsentrasi tinggi mudah menemukan tubuh asli Jayantaka yang berselimut bayangan. Teknik sihir ilusi tingkat menengah.
__ADS_1
Dalam satu serangan berikutnya Pandji menebas ke arah leher Jayantaka, pedang bergagang emas itu beradu keras dengan keris yang menangkisnya.
Tangan Jayantaka bergetar hebat dan terpaksa melepaskan pusaka dari tangannya karena tak sanggup menahan laju energi panas ke dalam tubuhnya. Hal itu memudahkan Pandji membuat serangan dengan menghantamkan sikunya pada ulu hati, membuat Jayantaka jatuh terbanting dengan keras.
Lantai berderak retak, Pandji tak peduli pada Jayantaka yang kehilangan kesadaran. Fokusnya ada pada kabut hitam yang mulai keluar dari tujuh lubang kepala Jayantaka, sebelum makhluk itu kabur Pandji memutar Asih Jati dan menciptakan angin panas untuk membakar gumpalan awan hitam yang mulai membesar.
Debu beterbangan dan menghilang seiring hancurnya iblis yang bersemayam dalam tubuh Jayantaka, Pandji diumumkan menang dan masuk dalam babak berikutnya.
Begitu turun dari arena, Pandji disambut Mika dan Ratna.
"Apa kamu baik-baik saja," tanya Mika khawatir.
Pandji memberikan senyum lembut yang sangat disukai Mika dan mengedikkan kepalanya ke arah parkiran, "Ayo kita makan bersama, aku lapar!"
Ratna hanya melihat kedekatan dua orang di depannya dengan perasaan tak rela, "Mas Pandji … apa aku diajak?"
Dengan cengiran tak bersalah Pandji melihat Mika sebentar lalu menggandeng tangan Ratna. "Kita makan bertiga …."
__ADS_1
Anggap saja latihan hehehe ….
***