
Pandji berjalan cepat ke arah oma opanya yang menunggu di terminal kedatangan Bandara, beberapa kali hampir menabrak orang karena tergesa dan ceroboh.
"Maaf … maaf," ucap Pandji seraya mengambilkan tas kecil milik ibu muda yang tidak sengaja tersenggol lengannya.
"Alon-alon toh Mas, nggak ada setan yang ngejar juga!" gerutu ibu tersebut.
Dengan anggukan singkat dan memasang wajah menyesal, Pandji kembali melangkahkan kaki lebih lebar untuk menjemput keluarganya yang baru datang dari Surabaya.
Oma Pandji terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang yang diinfokan akan menjemput kedatangan mereka, yaitu si cucu pertama, Pandji.
WUSS!!!
Pandji terhuyung, tidak ada angin berhembus dan tidak ada sesuatu yang menabrak dirinya saat berjalan ke arah oma, tapi dia terdorong oleh energi sangat besar yang melintas tepat di sebelahnya.
Mata Pandji mengedar sekitar, mengamati banyaknya orang yang berlalu lalang di tempatnya berdiri.
Mana gelap yang pernah Pandji rasakan meruap tipis di udara, pertanda si empunya menyembunyikan dengan rapat kemampuannya. Tapi benturan energi yang tidak terhindarkan barusan tidak bisa menipu mata batin Pandji.
Pandji mengingat siapa saja yang berpapasan dengannya dari terminal kedatangan beberapa waktu lalu saat dia tersapu energinya.
Merasa ada yang janggal di belakangnya, Pandji berbalik badan dan mengamati sosok yang sudah berjalan agak jauh. Satu sosok perempuan yang menutupi wajahnya dengan cadar menatap Pandji sekilas dan kembali berlalu tanpa melihat ke arah Pandji lagi.
Pandji bimbang, antara mau mengejar perempuan yang dia curigai saat turnamen atau mendatangi oma yang sudah melambaikan tangan padanya.
Perempuan itu … kalau aku tidak salah dia teman paman Candika, apa dia juga baru sampai Yogya?
__ADS_1
Dengan pikiran rumit, Pandji mengabaikan sosok wanita dengan aura gelap yang menjauh cepat. Dia memilih berjalan santai ke arah oma dan opanya.
"Pandji agak terlambat, maaf sudah membuat Oma menunggu," sapa Pandji begitu berhadapan dengan orang tua ayahandanya. Pandji mencium tangan keduanya dan tertawa gembira saat menunduk mengecup pipi oma. "Pandji kangen Oma."
"Mas Pandji sehat? Oma juga kangen sekali."
Pandji menjawab dengan gumaman rendah, "Kurang tidur, Oma."
Mereka mengobrol ringan soal keluarga dan kegiatan Pandji sehari-hari selama perjalanan menuju rumah. "Apa kejadian di sekolah Mas Pandji masih terulang? Masih sering ada teman yang kerasukan?"
"Tidak ada lagi, Oma! Ada kubah pelindung yang mengamankan sekolah. Ohya Oma … tadi waktu di Bandara," Pandji tidak segera melanjutkan ucapannya, dia tidak melihat ciri khusus yang melekat pada perempuan yang dicurigainya sebagai pembawa energi gelap yang menabraknya.
Pandji sulit menggambarkan ciri fisik perempuan yang akan ditanyakan pada omanya.
"Iya … entah datangnya dari mana, tapi Pandji pernah merasakannya saat hari terakhir turnamen, perempuan bercadar yang bersama salah satu pemilik kesatrian sihir Hargo Baratan auranya mirip sekali dengan yang ada di bandara tadi."
“Kalau Oma tidak salah mengenali, perempuan itu berada satu pesawat dengan Oma. Energinya sangat tidak biasa, seperti bukan umumnya energi yang berasal dari dunia ini!" terang Oma Pandji.
"Artinya dia berangkat dari Surabaya juga?" Pandji mengerutkan dahi, matanya menyipit saat menyorot jalanan macet di depannya.
"Oma rasa iya, karena di ruang tunggu sebelum pemberangkatan … Oma sudah merasakan kejanggalan auranya, hanya saja perempuan itu berusaha menutupinya!"
"Pandji penasaran, Oma!"
"Oma melihat gelagat anehnya sebelum berangkat, sesekali dia sengaja melihat ke arah Oma … tapi jika dilihat balik, dia akan menunduk atau membuang muka."
__ADS_1
"Apa ada gosip hangat tentang iblis di Jawa Timur, Oma? Jika perempuan itu berasal dari sana, bukan hal yang tidak mungkin …." Pandji menggantung kalimatnya dan menunggu jawaban oma.
"Oma tidak pernah mendengar ada hal ganjil seperti yang terjadi di Yogya, mungkin tersembunyi agar tidak terbaca dari mana arah datangnya balak yang sedang melanda kota ini," jawab Oma dengan nafas berat.
Ingatan Oma kembali saat waktu muda, saat beliau harus bertarung menghadapi paranormal ilmu hitam yang notabene bukanlah orang lain, tapi orang yang masih punya hubungan saudara.
"Apa ada masalah yang mengganggu pikiran, Oma?" Pandji melirik Oma yang rautnya mendadak berubah sedih.
"Oma sedang terkenang masa lalu," jawab Opa dengan senyum tipis.
"Ya … entah kenapa Oma justru mengingat hal yang seharusnya sudah terlupakan. Pakde Oma juga sedikit memiliki aura yang mirip dengan wanita bercadar yang ada di bandara tadi."
"Mirip itu tidak sama persis, Sayang! Kamu hanya terbawa suasana … mungkin ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu," pungkas Opa Pandji meredakan ketegangan yang mulai mengganggu suasana hati istrinya.
"Pakde Karman sudah meninggal, sudah puluhan tahun tidak ada generasi yang mengikuti jejak ilmu hitamnya!" sambung Opa kalem.
Oma mengangguk keberatan, "Satu dua orang selalu memiliki sifat iri, dengki dan dendam yang jauh tersimpan dalam lubuk hatinya. Jika mungkin perempuan itu ada hubungannya dengan Pakde Oma, artinya ada dendam masa lalu yang memicu munculnya masalah yang terjadi sekarang. Tapi, oma harap ini bukan bagian dari masa kelam itu!"
Opa Pandji mengusap bahu istrinya, "Jika itu memang berasal dari sana, bukan tanggung jawabmu pribadi untuk menyelesaikan masalahnya."
“Ya … tapi apa yang sudah aku lakukan di masa lalu bisa saja menjadi babak awal timbulnya dendam dan malapetaka di beberapa generasi berikutnya," sanggah Oma datar.
"Tidak ada yang tahu masa depan akan seperti apa, kamu hanya melakukan yang terbaik di hari itu," ucap Opa Pandji tenang.
***
__ADS_1