SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 151


__ADS_3

Selain kehilangan kesadaran selama dua hari, Pandji merasakan kesakitan luar biasa pada tubuhnya saat membuka mata. Damar Jati benar-benar menggunakan kekuatan melebihi batas yang bisa disangga tubuhnya.


Pandji masih harus menghabiskan waktu selama satu jam untuk menyesuaikan diri dengan kondisi buruknya, dia menggerutu beberapa kali karena tidak mampu mengubah posisi seperti yang diinginkannya.


Ibunda Selia duduk di samping tempat tidurnya dengan mata terpejam. Tertidur karena kelelahan. Pandji bisa menebak kalau wanita yang melahirkannya itu menjaga dan tidak meninggalkannya selama kesadarannya menghilang.


Pandji menyentuh tangan ibundanya perlahan, bergerak dengan kesulitan untuk mencium telapak yang selalu merawatnya tanpa beban, telapak tangan yang selalu memberikan kasih sayang dan cinta padanya dari sejak dalam kandungan.


Merasa ada yang menyentuh lembut tangannya, Ibunda Pandji membuka mata perlahan. Terkejut dengan raut bahagia menatap putranya yang baru saja kembali. "Mas Pandji sudah bangun dari tadi?"


"Badan Pandji sakit semua, kaku buat bergerak … dan Pandji sangat haus, Ibunda!"


Ibunda Pandji membantu putranya untuk duduk bersandar, memberikan minuman hangat yang bercampur dengan ramuan herbal racikannya sambil menjawab beberapa pertanyaan Pandji.


"Situasi sudah aman, tidak ada gejolak apapun yang terdengar selama Mas Pandji tidak sadar!"


"Bagaimana dengan Mika? Apa dia selamat? Apa dia tidak apa-apa?" tanya Pandji was-was.


"Dia harus dirawat di rumah sakit, Mas Pandji tidak perlu khawatir. Mika akan segera sembuh, orang tuanya ada di sini untuk membantu merawatnya!" Ibunda Pandji menambahkan banyak keterangan mengenai perawatan medis yang harus dijalani Mika selama beberapa waktu ke depan.

__ADS_1


“Mika pasti dibawa pulang ke Surabaya sama tante Lucia setelah ini, aku sudah membahayakan nyawanya beberapa kali … dia bisa terbunuh kapan saja jika dekat denganku.” Pandji bergumam dalam kesedihan.


“Mas Pandji melindunginya dengan baik, dia tidak akan pergi kemana-mana. Mas Pandji tau sendiri Mika orang yang sangat keras kepala!"


Pandji mengangguk membenarkan, bisa dipastikan Mika tidak akan pergi darinya tanpa alasan yang masuk akal. Kecerobohannya menahan kekuatan Nergal untuk menyelamatkan Pandji menjadi bukti bahwa Mika tidak hanya sekedar bicara, gadis itu memang melindunginya dengan segenap nyawa. Kelakuan menjengkelkan yang membuat hati Pandji merasa hangat.


"Pandji ingin mengunjunginya sekarang, Ibunda!"


Ibunda Pandji tergelak sebelum menjawab, "Untuk bergerak saja Mas Pandji masih sulit, gimana mau pergi ke rumah sakit? Lagian ada tamu yang ingin sekali bertemu denganmu hari ini."


"Please!" rengek Pandji mengiba. Pandji mendengus tidak suka melihat ibundanya menggeleng, tidak ada yang lebih penting daripada memastikan sendiri kondisi Mika daripada harus beramah tamah dengan tamu tak diundang.


"Bagaimana kabar ayahanda? Mengapa tidak menjenguk putranya yang sekarat? Apa … ehm, ayah takut dengan ibunda?" Pandji mengulum senyum membayangkan ayahnya yang pasti mendapatkan omelan panjang karena Pandji pulang dalam kondisi buruk.


Melihat ekspresi putranya, Ibunda Pandji tertawa lebar. "Ayahmu sedang sibuk membantu Pakde Noto menerima banyak kunjungan, juga sibuk terima tamu yang ingin menjengukmu dari sejak situasi aman."


"Mau apa mereka datang? Apa mereka membawa oleh-oleh?" Pandji memasang wajah bosan, terlalu malas untuk bertemu banyak orang dan menerima simpati dari mereka. Terlalu mengikuti norma masyarakat tempatnya tumbuh, terlalu banyak aturan … terlalu bangsawan.


"Beberapa membawa anak gadis," jawab ibundanya singkat.

__ADS_1


"Uhuk …!" Wajah Pandji memerah, dia merasa seperti gadis yang sedang dicarikan pemuda mapan sebagai jodoh oleh orang tuanya. "Bukankah itu terlalu berlebihan, Ibunda?"


Dengan mengedikkan bahu, Ibunda Pandji menggoda putranya. "Sepertinya yangyut sedang merencanakan membangun istana keputren untuk Mas Pandji di belakang rumah induk! Merealisasikan cita-cita ayahmu yang kandas dulu!"


Pandji terbatuk-batuk dengan hati mendongkol. "Pandji bahkan belum punya pacar, Ibunda!"


Percakapan penuh canda antara ibu dan anak harus terhenti karena ada bunyi ketukan di pintu dan suara salam dari Atika yang meminta izin masuk.


Bukan hanya Atika yang masuk ruangan setelah ibunda Pandji mempersilakan, tapi ada satu sosok ayu yang memang diantarkan Atika khusus untuk menjenguk Pandji.


Satu-satunya gadis yang mendapatkan pintu spesial dari eyang buyut Pandji agar bisa masuk ruang dimana Pandji dirawat. Ratna.


Gadis belia itu tersenyum canggung tapi teramat manis pada pemuda tampan yang menatapnya sambil garuk-garuk kepala.


"Ibunda mau bertemu orang tua Ratna dulu," ucap Ibunda Pandji lembut, dengan isyarat tangan beliau mengajak Atika keluar ruangan. "Gia akan menemani kalian!"


Pandji spontan menahan rasa senangnya, rautnya kembali berekspresi bosan dan berubah muram mendengar acara berduanya dengan Ratna harus diawasi Gia.


Mom … i am not a kid anymore! Please!

__ADS_1


***


__ADS_2