SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 66


__ADS_3

Melihat Pandji resah, batin Mika bergejolak ikut gelisah. Dia selalu peka, apa yang dirasakan Pandji selalu menular padanya.


"Jadi … kita pulang?" tanya Mika memperhatikan Pandji yang masih memasang wajah stagnan di belakang kemudi.


"Aku jelas tidak bisa kemanapun, Mika. Aku sedang diburu," jawab Pandji datar. "Apa kamu ada ide?"


Mika mendengus, matanya melihat lurus ke arah jalan. "Rasanya tidak adil jika hanya kamu yang tidak bisa keluar kota sementara mereka bisa seenaknya. Mereka hanya tidak bisa keluar masuk rumah kita kan?"


Pandji menepikan mobil sebentar, lalu melaju lagi ke arah ringroad utara Yogya. "Aku tidak tau idemu nanti berhasil atau tidak, Mika!"


"Ide? Ide apa? Aku tidak mengatakan apa-apa, Pandji!" Mika menoleh dan sengaja melihat Pandji lama, menuntut penjelasan.


"Aku akan membuat heksagram di ringroad utara, barat, selatan dan timur. Semua jalan utama kota, untuk mendeteksi dan menjaga maroz yang sudah masuk ke tubuh manusia agar tidak bisa keluar masuk kota. Benar begitu kan idemu?"


Mika mengangguk pelan, "Apa kau akan memayungi seluruh kota dengan kubah pelindung juga?"


"Itu tidak mungkin, Mika. Selain menguras mana sihir, juga kurang efektif. Mereka punya portal yang kita tidak tau tempatnya, kita hanya bisa mencegah yang sudah menyatu dalam tubuh manusia agar tidak bisa kemana-mana."


"Lalu apa yang akan terjadi jika mereka tetap memaksa keluar?”


“Maroz akan tertarik ke dalam heksagram dan lebur jadi abu," jelas Pandji singkat.

__ADS_1


Mika mengerutkan dahi, "Ohya terakhir waktu kamu ketemu Biantara … bukankah dia baru sembuh dan tidak berbahaya? Tapi, aku tidak bisa menghindar saat dia menyergapku dengan kedua pedangnya!"


"Dia seorang panglima, Mika. Aku rasa adiknya juga pasti sembuh seketika, persis seperti Biantara. Mereka sudah tidak memiliki elemen kehidupan di sana. Itu hanya jasad kosong tanpa jiwa, jangan sungkan menghabisi jika bertarung dengan mereka!"


Kepala Mika mengangguk kecil, "Adik Biantara orang yang selalu mencari sensasi, aku yakin tak lama lagi dia akan mencariku untuk membalas dendam."


"Orang bodoh seperti dia tidak akan menggunakan strategi apapun, dia akan selalu datang untuk mengganggumu tanpa perhitungan. Kamu bisa memberinya pelajaran saat dia muncul." Pandji mencari tempat untuk menepi dan parkir dengan aman.


Mika mengikuti Pandji turun dan berdiri di pinggir jalan dalam diam, Pandji memejamkan mata dan melihat sekitar, mencari tempat aman untuk membuat heksagram sihirnya.


Mendapatkan tempat yang dirasa pas, Pandji menoleh ke arah Mika. "Pinjam belatimu!"


Mika mengulurkan satu belatinya pada Pandji dan mengawasi sekitar, hari sudah mulai sore dan kendaraan mulai padat karena jam pulang kerja.


“Pandji?” panggil Mika lirih.


“Ya?”


"Heksagram yang kau gambar sama persis dengan yang ada di atas gagang belati, di dalam lingkaran!"


"Aku sudah melihatnya, apa kau sudah tau kegunaannya?"

__ADS_1


Mika menggeleng berat, "Aku pernah bermimpi melihat seseorang menggunakan tato itu di tubuhnya. Tepatnya di atas dada kiri … apa ada arti khusus dengan mimpi itu?"


"Dulu … untuk melindungi orang-orang desa dari bahaya diganggu makhluk halus dalam legenda, satu orang pintar membuat tato pada setiap bayi yang baru lahir agar selamat sampai dewasa.


Karena pemilik tato itu cenderung lebih aman, maka seluruh penduduk desa menggunakannya. Tato itu akhirnya juga dirajahkan pada pusaka agar memiliki kekuatan sihir untuk menghilangkan makhluk gaib jenis tertentu.


Munculnya belati milikmu bersamaan dengan maroz sepertinya ada hubungannya. Coba saja tempelkan gagang belati itu pada Neta, aku hampir yakin makhluk yang ada di dalam tubuhnya tidak akan kuat dan pasti akan keluar."


Mika menyimak penjelasan Pandji dengan tatapan skeptis, "Dari mana kamu tau cerita itu?"


"Buku di perpustakaan," jawab Pandji enteng.


"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin kalau sudah tau?"


"Pertama lupa, kedua kamu tidur di ruang penyembuhan terlalu lama."


Mika merengut dan berbicara kasar, “Kamu selalu menganggap sepele hal penting, Pandji!”


"Aku tidak pernah menganggap dirimu sepele," ujar Pandji acuh. Dia menuju mobil dan memberi aba-aba agar Mika cepat masuk karena masih harus pergi ke tiga tempat lain yang akan dibubuhi heksagram sebelum malam tiba.


Wajah Mika memerah, bingung harus bangga atau tertawa mendengar ketulusan pemuda yang akhir-akhir ini sering masuk ke dalam pikirannya.

__ADS_1


***


__ADS_2