
"Mas Pandji baik-baik saja?" tanya Ayahnya dengan ekspresi iba. Pandji pulang menjelang subuh bersama timnya. Wajah lesu dan pucat mereka sudah menjadi jawaban buat Ayah Pandji.
"Pandji tidak sanggup meneruskan ini semua, Ayah! Kedua orang tua Tirta tidak selamat karena anaknya berteman dengan Pandji … bukan hal mustahil itu akan terjadi pada Mahesa dan Aswanta!" keluh Pandji dengan mata sarat luka dan raut sangat menyesal.
"Tidak ada orang yang mudah menerima sebuah kehilangan, apalagi oleh maut, Mas! Kematian seseorang ada diluar kuasa kita sebagai manusia.
Kita melakukan bagian kita sendiri, yaitu mencegah petaka yang lebih besar terjadi, bukan pada satu atau dua orang, tapi pada semua orang," tutur Ayah Pandji tenang.
Pandji menundukkan wajah lelahnya, sebaris kata putus asa keluar dari bibirnya, "Pandji merasa tidak berguna, Ayah!"
"Mas Pandji tidak mungkin bisa menyelamatkan orang jika Tuhan tidak menunjukkan kuasa-Nya, begitu juga sebaliknya.
Kedua tangan yang ada hanya untuk menolong semampu kita, mengusahakan agar kehidupan orang lain terselamatkan. Soal hasilnya bagaimana, serahkan pada Yang Maha Kuasa!"
"Tapi ayah …." sangkal Pandji tidak selesai karena Ayahandanya memotong kalimat yang baru saja akan terucap.
"Jika merasa tidak berguna bagi orang lain, maka bergunalah untuk diri sendiri, berjuang mempertahankan hidup adalah bentuk syukur pada Sang Khalik. Ayah yakin Mas Pandji masih ingat wejangan dari Romo Guru …?"
"Jangan mendekat pada kematian … dan berjuanglah lebih dari kemampuan untuk tetap hidup dan menjadi berguna bagi orang lain," ucap Pandji lirih.
"Istirahatkan tubuh, buang semua beban pikiran kalian semua! Jangan pedulikan hari ini karena tidak ada mesin waktu yang bisa mengembalikan keadaan, apalagi menghidupkan orang yang sudah meninggal," perintah Ayah Pandji sambil menatap pemuda tanggung yang kesemuanya memasang wajah suram. "Tirta bisa tinggal di sini!"
"Saya masih ada keluarga, ada paman dari ayah. Tapi sementara … mungkin saya akan tinggal di sini dan tetap berjuang bersama Pandji," jawab Tirta sopan.
"Baiklah, bersihkan badan kalian dan pergi tidur sekarang!"
__ADS_1
***
Malam berikutnya, bulan makin redup menjelang tengah malam, aura besar yang menggantung di angkasa makin pekat dan hitam.
Belum ada portal yang terbuka lagi sejak kejadian di area Parangtritis, tapi Pandji sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan.
Udara dingin menusuk tulang, semua orang yang tidak memiliki kekuatan ruhani … semua manusia normal tanpa kelebihan, sudah lelap dalam sirep besar-besaran yang dihembuskan oleh seseorang.
Ini bukanlah malam kejayaan setan, bukan malam bencana yang ada dalam ramalan, bukan malam purnama dengan gerhana seperti dalam perjanjian, tapi suasana sangat mencekam dan mendirikan bulu roma. Ada kengerian yang terbang bersama hembusan angin malam.
Kecuali para abdi dalem yang sudah pergi beristirahat, ruang keluarga kediaman Pandji masih ramai dengan suara obrolan. Pandji masih bercengkrama bersama oma dan opa.
Di luar rumah, selarik cahaya merah timbul tenggelam dari arah barat. Sesuatu sedang bergerak mendekat ke arah kediaman Abisatya.
Selanjutnya, kabut hitam yang sangat pekat berkumpul di belakang titik merah itu. Membentuk awan besar seperti dinding hitam yang tersamarkan oleh bayangan bulan.
Perubahan suhu terdeteksi oleh Oma Pandji. Wanita sepuh kesayangan Pandji menunjukkan ekspresi serius dengan dahi yang terus berkerut. "Al … apakah kubah sebelah barat sudah kamu lapisi?"
“Ayahanda ada di belakang, Oma. Apa perlu Pandji panggilkan?”
“Oh, tidak usah. Seharusnya Oma tidak bertanya, tapi memastikan dengan cara mengecek sendiri pekerjaan Ayahmu!"
Pandji tersenyum melihat fisik yang termakan usia tapi tidak dengan aura petarungnya. Oma terlalu misterius bagi Pandji, terlihat tenang di luar tapi menyimpan sesuatu yang besar di dalam. Disembunyikan rapat tanpa bisa dibaca orang.
"Pandji sudah memastikan rumah ini dipagari dengan baik oleh Ayahanda, Oma. Sebaiknya Oma istirahat, Pandji mau melihat bulan di halaman!" pamit Pandji sopan.
__ADS_1
Meski Oma tahu dia sedang berbohong dan membodohi orang pintar, Pandji tidak peduli. Dia hanya ingin orang setua Oma tidak perlu turun tangan menantang bahaya.
"Ulangi sekali lagi, Mas Pandji!" kata Oma dengan tatapan teduh.
"Pandji hanya … bosan ada di dalam rumah, Oma!" elak Pandji. Dia masih tidak ingin menjelaskan apa yang ingin dilakukannya di luar rumah. "Pandji mau cari angin, agak gerah di rumah!"
"Apa sudah purnama?" tanya Oma datar.
"Bukan, Pandji merasa tertarik dengan sesuatu yang datang dari arah barat. Itu saja," jawab Pandji jujur.
Sebagai anak pertama, sudah jadi kewajiban Pandji menjaga keluarganya. Menjaga semua manusia yang berlindung di bawah kubah lanjaran rumahnya.
"Jadi apa yang akan Mas Pandji lakukan?” Oma Pandji bertanya sambil mengedikkan kepala ke arah pintu keluar.
Pandji mengangkat bahunya pelan dan memasang ekspresi polos, “Mungkin bermain berburu kelinci.”
"Gia ikut, Mas!" teriak adik bungsu Pandji penuh semangat.
"Never!" Pandji menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan di depan wajah adiknya. "No … no, Gia!"
"Oma?" tanya Gia mencari bantuan.
"Giliran Gia nanti," jawab oma dengan senyum lembut. "Bareng sama oma!"
***
__ADS_1