
Bincang-bincang santai masih terus berlanjut sambil menunggu makan siang bersama. Kedatangan tamu tanpa pemberitahuan dalam jumlah banyak membuat repot seluruh abdi dalem keluarga Pandji.
Eyang tidak berhenti mengomel saat memberikan perintah untuk segera menjamu tamu-tamu. Adat keluarga yang harus menjamin kenyamanan mereka yang datang, dikumandangkan beberapa kali pada seluruh penghuni rumah.
Di luar, Ayahanda Pandji masih menemani para tamu yang masih antusias mengobrol.
"Ngomong-ngomong, putra pertama keluarga Abisatya kenapa tidak kelihatan, Denmas Al?" tanya pria sepuh memperhatikan sekitar.
"Mungkin belum bangun, dia sedikit kurang istirahat akhir-akhir ini!" jawab Ayahanda Pandji dengan sikap biasa.
"Apakah sudah ada calon untuk putra pertama?"
"Uhuk … calon?"
"Lah iya, Mas Pandji kan sudah mulai dewasa. Wajar kalau misalnya sudah punya calon istri. Saya punya cucu perempuan yang cantik dan pandai memasak, sangat cocok jadi ibu." Pria sepuh tanpa ragu menawarkan ikatan silaturahmi agar lebih dekat dengan keluarga Abisatya.
"Buat saya, seorang ahli bela diri dan juga bangsawan sudah biasa mempunyai garwa (istri) banyak. Saya juga tidak keberatan putri saya menjadi salah satunya," sahut pria paruh baya yang mendaftar jadi tim penyidik kegelapan tidak mau kalah.
Pria sepuh tersenyum bijak, "Tidak masalah tidak menjadi yang pertama, yang penting bagi saya cucu saya mampu mengabdi pada keluarga Abisatya dan membanggakan keluarga!"
"Saya mempunyai beberapa putri, Den Mas Al mungkin berkenan menyeleksi salah satu untuk menjadi pendamping Mas Pandji," timpal satu pemilik kesatrian yang berwajah garang. "Jika tertarik lebih dari satu … saya malah senang dan merasa tersanjung!"
"Uhuk … ehm!" Ayah Pandji hanya tersenyum tipis karena kehilangan kata-kata. Tidak menyangka kalau putranya yang disebut orang paling menyebalkan memiliki pamor lebih besar daripada dirinya.
__ADS_1
Namun, Pandji masih terlalu kecil untuk memikirkan beristri banyak. Selain itu, Pandji tidak lagi hidup di zaman seorang laki-laki bangsawan bisa memiliki empat puluh selir. Atau mungkin Ayahanda Pandji hanya merasa … iri?
Setelah menjuarai turnamen tahunan, nama Pandji melambung di kalangan perguruan bela diri. Ditambah dengan berita pertarungannya melawan putra iblis, membuat sebagian ketua kesatrian yang memiliki anak perempuan sibuk memburu Pandji untuk dijadikan menantu.
Bakat ilmu pedang dan kemampuan sihir Pandji mendadak jadi perbincangan hangat dan konsumsi publik. Pandji tidak ubahnya artis yang sedang naik daun di dunia bela diri.
Bagi mereka yang tua … yang sudah memahami konsep kekuatan, Pandji adalah aset masa depan cemerlang untuk keluarga, putri dan kesatrian dilihat dari bibit bebet dan bobot.
***
Ibunda Selia masuk ke dalam kamar Pandji yang berantakan. Membangunkan putra pertamanya yang masih lelap dan terbungkus selimut tipis untuk menutup dada telanjangnya.
Pandji membuka mata sedikit karena tirai kamar terbuka lebar dan cahaya mentari yang mulai panas menembus kaca jendela yang mulai dibuka oleh Ibundanya.
Pandji menguap lebar, "Siapa yang bertamu sepagi ini, Ibunda? Kalau teman Pandji suruh pulang saja!"
"Ini jam sebelas, Mas! Apanya yang masih pagi? Mas Pandji melewatkan sarapan, dan sebentar lagi sudah jam makan siang!" ujar Ibunda Pandji sembari merapikan bantal.
"Siapa tamunya Ibunda?"
"Cewek cantik," jawab Ibunda Pandji menahan tawa.
Pandji bersungut-sungut, "Mana ada cewek cantik berani bertamu kemari?"
__ADS_1
"Mulai hari ini sepertinya akan banyak, jika butuh bantuan untuk menyeleksi … Mas Pandji bisa menghubungi yangyut!" Tawa Ibundanya serasa menjadi ledekan telak untuk Pandji.
Pandji menatap stagnan punggung wanita yang dicintainya sejak lahir, “Jangan bercanda, Ibunda! Ada apa sebenarnya?”
Ibunda Pandji menoleh ke arah putranya yang beranjak dewasa dan sudah setinggi ayahnya di usia tujuh belas tahun. “Banyak yang ingin berkenalan denganmu karena kejadian heboh di rumah kita dua hari lalu!”
"Bilang saja Pandji sedang ke Surabaya tempat oma dan baru akan pulang bulan depan, Ibunda!" Pandji mengintip halaman rumah yang penuh kendaraan dari balik jendela.
Kepala pemuda yang masih mengantuk itu penuh dengan pemikiran cara meloloskan diri dari rumah agar tidak perlu susah payah beramah tamah pada banyak orang tua yang penasaran padanya.
"Ayahanda sudah bilang kalau Mas Pandji ada di rumah!"
"Bagaimana jika ibunda mengatakan pada mereka kalau Pandji sedang semedi … bertapa di kamar mandi dan tidak bisa diganggu?"
Ibunda Pandji tergelak mendengar alasan konyol putranya, "Jaga kesopananmu, Mas! Kamu membawa nama Abisatya … dan jangan lupakan gelar yang diberikan yangyut padamu!"
Pandji mengeluhkan tata krama dan etika yang selalu harus dibawanya kemana-mana hanya karena nama dan trahnya. "Sungguh merepotkan!"
Ibunda Pandji menyiapkan baju yang biasa dipakai keluarga dalam acara resmi, sopan dan berkelas untuk dikenakan Pandji. "Pakai ini, jangan lupa parfum dan lebih penting buang wajah dengan ekspresi tidak menyenangkan itu!"
Pandji memasang wajah bosan dan menaikkan sebelah alisnya saat masuk ke kamar mandi. "Siap!"
Jika cukup beruntung, Pandji akan beralasan sedang tidak enak badan nanti saat bertemu dengan tamu ayahnya.
__ADS_1
***