
Dua hari berlalu dengan cepat, Pandji masih enggan membuka mata ketika Ibundanya datang menyapa.
"Mas Pandji kok belum bersiap?" Suara lembut Ibundanya pagi ini terasa begitu mengganggu.
Cahaya matahari seketika masuk dan menerangi ruangan karena tirai yang tadinya tertutup rapat kini sudah disingkirkan ke samping, Ibunda Pandji mematikan pendingin ruangan dan membuka jendela.
"Setengah jam lagi, Ibunda!"
Selimut tipis yang sengaja Pandji pakai menutup kepalanya ditarik dan dilipat Ibundanya hingga Pandji akhirnya membuka mata dengan sedikit cengiran di wajah, "Apa sudah waktunya sarapan? Kenapa Ibunda baru membangunkan Pandji sekarang? Inikan sudah siang."
Ibunda Pandji hanya mengedikkan kepala ke arah kamar mandi, bentuk perintah agar putranya segera bersiap dan bergabung untuk makan pagi.
Pandji tak bisa membantah, dia langsung menuju tempat membersihkan diri setelah Ibunda mengatakan, "Tidak lebih dari 20 menit!"
Membasuh tubuh dan merapikan diri buat Pandji tidak butuh waktu lama, dia memakai parfum segar di tubuh dan rambut yang sengaja diatur secara berantakan.
Di meja makan semua anggota keluarga telah lengkap, Raksa bahkan sudah memakai seragam kesatrian karena jadwal bertanding pagi.
__ADS_1
"Kita akan berangkat bersama untuk melihat pertandingan Raksa," kata Ayahnya semangat.
"Raksa kurang siap, Ayah. Nanti kalau Raksa kalah Ayahanda jangan marah ya!" Raksa berbicara dengan nada tertekan, dia juga tidak makan sebanyak biasanya.
"Kenapa Ayah harus marah? Kalau Raksa merasa terbebani karena membawa nama Putra Ganendra … Raksa boleh tidak ikut bertanding."
Raksa melihat Ayahnya dengan tatapan rumit, tidak ada kemarahan atau kecewa di wajah Ayah, guru dan juga pembimbingnya. Pria yang masih terlihat muda itu hanya tersenyum bijaksana, yang bisa diartikan Beliau tidak meletakkan beban pada pundak anaknya yang belum berusia 15 tahun.
"Raksa akan berusaha sebaik mungkin," ujar Raksa pelan. Rasa percaya dirinya tumbuh hanya karena kalimat sepele yang dilontarkan ayahnya.
Pandji mendengarkan dengan seksama, melihat Raksa sekilas dan berbicara pelan, "Ada beberapa buku sihir di perpustakaan yang bisa kamu pelajari setelah acara turnamen selesai. Mungkin itu bisa membantu meningkatkan penguasaan elemen sihir api mu!"
"Setiap orang punya kelebihannya sendiri, tidak perlu iri dengan bakat orang lain!"
Ayah Pandji mengajak segera berangkat setelah semua selesai dengan sarapannya. Pandji membawa dua pedang secara terang-terangan di punggungnya. Tidak menutupnya dengan kain atau menyimpannya di alam gaib.
"Mas Pandji memang mau begitu penampilannya?" tanya Ayahnya skeptis. Dua alis tebalnya sampai hampir bertaut melihat tingkah putra sulungnya.
__ADS_1
Pandji menyeringai lucu, "Apa ada yang salah dengan posisi Damar dan Asih? Pandji lebih suka membawa mereka di punggung daripada di pinggang, Ayah."
"Mas Pandji mau pamer?"
"Mental petarung harus disiapkan dari awal, benar demikian, Ayah?!" Pandji menjawab santai.
Ayahnya tergelak melihat gaya putranya yang sok keren tapi kata-katanya tepat dan tidak ada yang salah.
Pemandangan mencolok ala Pandji jadi pusat perhatian saat mereka sampai di kesatrian, banyak mata menatap nanar hanya karena aura yang merembes keluar dari pusaka penganten milik pemuda yang baru pertama kali mengikuti turnamen.
Aura hitam dan emas membayangi tubuh Pandji, pandangannya tajam mengawasi sekitar mencari dimana saja kegelapan itu berada. Dia yakin iblis kelas rendah yang merasuki dan diam di tubuh Elok itu mempunyai pemimpin.
Ayahnya mengatakan bahwa mereka ada dalam jumlah yang banyak. Membentuk kesatuan terorganisir seperti sebuah piramida besar dengan satu orang yang duduk di atas sebagai pengendali.
Pandji tidak mendapatkan jawaban keterlibatan Biantara dari Ayahnya, tapi sihir hitam terlarang milik Paman Candika pasti berasal dari sana.
Dan Pandji berniat menyelidikinya!.
__ADS_1
***