
Tiba-tiba suara suitan panjang terdengar memekakkan telinga dan satu bola api besar menghantam area tempat Pandji dan Giandra berada.
Seketika semua hewan gaib yang ada disana mendongakkan kepala dan melolong panjang, menghilang bersamaan dengan meledaknya bola api yang datang dari selatan.
Pasukan serigala ganas telah ditarik, menyisakan bau busuk dan aura gelap yang makin lama makin menipis.
Pandji berlari membawa Mika yang tak sadar dalam gendongannya, tak lupa memerintahkan Gia dan Raksa untuk segera masuk ke dalam rumah.
Di rumah, Ibunda pandji meminta agar Mika ditempatkan di kamar khusus, Beliau menutup rapat pintu itu dan tak ingin diganggu anak-anaknya. Pertolongan darurat sebelum Mika masuk ruang perawatan rumah sakit.
Penuh rasa bersalah Pandji mengeluhkan kecerobohan Mika, emosinya yang tak terkendali pada adik Biantara justru membawa petaka.
Kalau sampai terjadi apa-apa pada Mika ….
Pandji hanya bisa menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Dahinya terus berkerut, memaksa otaknya bekerja lebih keras.
Mika memiliki sejarah panjang dengan kehidupan Asih jati. Roh pusaka yang pernah merasuki ibunya itu meninggalkan banyak jejak dalam tubuhnya.
__ADS_1
Energi Asih Jati tak pernah pergi, bersemayam dalam tubuhnya. Hanya saja Mika belum tahu cara mengeluarkan potensi yang ada pada dirinya selain kekuatan yang ada pada mata.
Hubungan Pandji dan Mika memang tidak terlihat dekat di depan orang-orang. Namun, bagi Pandji … Mika adalah sosok yang penting dan berjasa padanya dalam banyak kesempatan.
Perasaan Pandji campur aduk, marah, sedih dan mungkin juga dendam.
"Mas Pandji baik-baik saja?" tanya Gia penuh perhatian. Dia duduk di sebelah kakaknya yang memasang wajah stagnan.
Pandji mengangguk, mengelus kepala adiknya lalu berbicara pelan. "Kamu tau betapa bahayanya ada di luar kubah, Gia. Jika kamu juga sampai terluka …."
Pandji terkejut, tapi segera tersenyum mengerti. Saling melindungi dalam keluarga adalah pesan yang selalu disampaikan Ibundanya dalam tiap kesempatan. Ibunda melepas Gia juga pasti bukan tanpa alasan.
Tak lama, Ayahanda pandji datang dengan penampilan berantakan dan wajah terlipat. “Mana Ibunda, Mas?”
“Sedang merawat Mika di ruang penyembuhan, Ayah!” jawab Pandji tertekan. "Maaf, Ayah! Pandji tidak bisa menjadi perisai untuk keluarga ini di saat Ayah tak ada di rumah. Mika terluka parah …."
"Dia akan pulih, Mika tidak akan semudah itu pergi dari dunia ini. Asih Jati akan mengurusnya," ujar Ayah Pandji monoton.
__ADS_1
Pandji sedikit bernafas lega mendengar penuturan ayahnya, dia juga percaya Mika akan bertahan. Tapi, melihat ekspresi ayahnya, Pandji tidak bisa diam saja tanpa penasaran.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah Paman Candika, Ayah? Kenapa Ayah begitu lama di sana? Rumah kita …," ujar Pandji getir. Dia tak menyelesaikan kalimatnya setelah melihat Ayahnya mengangguk memahami.
"Sama seperti yang terjadi di rumah ini, hanya saja akibat yang ditimbulkan di sana lebih parah. Kita akan berkabung ke rumah Paman Candi besok. Ayunda tak selamat dan Tantemu Risa sekarat."
Ayah Pandji meninggalkan ruangan dengan ekspresi hampir tak tertebak. Ada raut marah dan sedih bercampur di tatap matanya.
Pandji juga tak mampu berkata-kata, dia merasa ribuan jarum menusuk hatinya. Pandji berjalan lambat mengikuti Ayahnya menuju ruang penyembuhan.
Ruang dengan interior kuno peninggalan leluhurnya yang tak pernah dirawat, hingga Ibundanya yang sedang menemani Pandji membaca menemukan buku tulisan tangan nenek buyut di perpustakaan.
Buku yang berisi resep obat dan teknik penyembuhan kuno ala keluarga Abisatya.
Dari sanalah ruang penyembuhan kuno itu kembali dimanfaatkan.
***
__ADS_1