
Pandji dalam dilema, ksatria pejuang muda yang sedang bertarung mulai tidak bisa memberikan perlawanan yang imbang. Rasa lelah dan banyaknya musuh yang terus mendesak membuat mereka harus kehilangan beberapa teman lagi.
"Raksa … Mika, tolong tahan Badrika sebentar saja! Teman-teman kita akan meregang nyawa berjamaah jika situasi tidak terkendali," panggil Pandji sambil kembali menyerang Badrika dengan hujan petir yang sangat menguras mana sihirnya.
Badrika terpelanting menabrak pohon besar di seberang jalan. Pandji meninggalkan sebentar untuk mengurus desakan maroz dan iblis berbentuk binatang purba yang menyerang Aswanta dan teman-temannya.
Pemuda tampan itu berlari dibawah guyuran hujan dengan dua pedang terhunus. Satu tebasan lebar membuat musuh yang menghadangnya harus merelakan kehidupannya yang baru saja dimulai di dunia manusia.
Pandji mengamuk di antara kerumunan musuh, pedangnya tidak berhenti menyambar, memotong atau membelah iblis menjadi beberapa bagian.
"Apa yang mereka pikirkan?" gumam Pandji heran pada maroz yang datang mengantarkan jiwa padanya. "Mengapa mereka tidak takut berubah jadi abu?"
Satu kali tarikan nafas, satu tebasan dan minimal satu iblis hilang. Tapi, mereka tidak takut pada Pandji, mereka tidak berhenti datang.
Mengetahui Pandji memiliki kemampuan hebat tidak membuat musuh menjadi gentar. Mereka justru semakin bersemangat dan kehilangan kewarasan dengan berbondong-bondong menyerbu Pandji, mengabaikan ksatria-ksatria lain yang ada di sekitarnya.
Satu sisi Pandji lega karena ada waktu bernafas untuk teman-temannya, di sisi lain dia memikirkan Mika dan Raksa yang sedang menahan Badrika.
"Apa yang mereka lakukan, Damar? Mereka sama sekali tidak takut mati," gerutu Pandji pelan.
"Sepertinya pasukan Badrika ingin menguras stamina Mas Pandji di sini!" jawab Damar Jati memberi sedikit pencerahan.
__ADS_1
"Mereka gigih sekali mengejarku, aku merasa terhormat sekaligus terhina jika begini. Aku tidak berharap punya penggemar kaum iblis, Damar!" seru Pandji seraya melepaskan Asih Jati ke udara.
Energi panas pedang bergagang motif emasnya kurang efisien di bawah gemuruh hujan lebat. Pandji memilih bermain dengan Damar Jati.
Pandji memompa mana sihir, juga melepaskan sejumlah tenaga dalam untuk menciptakan serpihan es dari air hujan.
Perlahan hujan berhenti saat Pandji memutar pedangnya birunya diatas kepala. Udara semakin dingin di sekitar Pandji dan air yang jatuh mulai berbentuk butiran tajam.
Dengan satu sentakan pedang, hujan yang ditahan Pandji dan telah dibekukan menjadi peluru tajam terhempas secepat kilat menembus barisan musuh di depannya.
Melubangi bagian tubuh dan membekukan darah, membuat iblis kelas rendah di hadapan Pandji jatuh tersungkur dan tidak sadar.
Melihat hal tersebut, Aswanta memerintahkan timnya untuk menghabisi musuh yang sudah lemah. Keadaan cepat berbalik, tapi Pandji juga kehilangan banyak tenaga.
Jika ayahanda tak lekas kembali, mungkin tidak akan ada waktu untuk mengusir semua iblis yang masih terus memburuku.
Pandji kembali bergerak secepat angin, dia menghabisi musuh yang datang padanya dengan satu kali tebasan. Kalau tidak memotong kepala, pedangnya menusuk tepat di jantung mereka.
Pusaka penganten yang dipegangnya tidak diragukan lagi ketajamannya dan bukan hal mudah juga untuk menghentikan aksi pemuda yang menghabisi lawan tanpa mengedipkan mata.
Di sisi lain, Mika dan Raksa kewalahan menghadapi Badrika yang tenaganya seperti tidak pernah habis meskipun sudah terluka oleh Pandji.
__ADS_1
Raksa menerima sabetan dari pusaka bulan sabit milik badrika hingga lengannya terluka parah.
Wajahnya memucat karena banyaknya darah yang mengalir keluar, belum ada kesempatan sedikitpun untuk istirahat karena serangan Badrika sangat rapat padanya dan juga Mika.
Dibandingkan Badrika, Raksa masih sangat kurang pengalaman. Kemampuan sihirnya pun masih belum matang meskipun dia memegang tombak pusaka dengan energi naga di dalamnya. Sementara Mika baru saja menghadapi Andara.
Duet dua orang kesayangan Pandji seperti tidak mempan menahan kekuatan Badrika.
“Raksa …!” jerit Mika tertahan. Adiknya mencelat beberapa meter dan jatuh tersungkur di tanah basah, mendarat dengan tidak mulus di antara tanaman bunga milik eyang buyutnya.
Darah segar keluar dari mulut Raksa, tangannya yang masih memegang tombak untuk menangkis serangan Badrika bergetar hebat. Dia mengerang menahan sakit pada bagian lengan dan juga dada. Tubuhnya mulai limbung saat Oma Dina menariknya keluar dari iblis yang mulai berdatangan untuk mengambil nyawanya.
Satu tusukan di moncong menghentikan makhluk gaib yang akan menyerang oma dari belakang dan satu sabetan di depan membuat kepala yang baru saja memamerkan taring berpindah dari tempatnya. Dua maroz roboh dan menghilang oleh keris besar oma.
Oma Dina memaksa Raksa menelan obat ramuan ibundanya sebelum kondisinya semakin parah karena banyak kehilangan darah. Tak lama, wajah pucat Raksa mulai kembali berwarna. "Dimana Gia, Oma?"
Wanita sepuh itu hanya mengedikkan kepala ke arah Mika dan Badrika, Gia sedang menjerit keras menahan dua pusaka bulan sabit yang hampir memenggal lehernya. Kujang Cakrabuana lepas dari tangan kecilnya.
"Mas Pandji … Gia belum mau mati sekarang!" teriak Gia membelah suara hujan.
Tiga maung serentak menerkam Badrika, sedangkan yang satunya menggigit pusaka Gia yang jatuh dan membawa gadis kecil itu menyingkir dari pertarungan.
__ADS_1
***