SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 55


__ADS_3

Raksa yang tak berani jauh dari Pandji meliuk dan menghantamkan tombaknya serabutan, rasa takutnya membuat jurus yang digunakan tak sama persis seperti saat latihan di kesatrian.


Melawan manusia saat di turnamen masih jauh lebih baik daripada harus menghadapi makhluk bertaring yang terus melolong dan menerkam.


Tombak hitamnya beberapa kali meleset saat menusuk lawan hingga akhirnya justru membahayakan dirinya sendiri.


"Perhatikan kananmu, Raksa!" teriak Pandji yang bertarung tak jauh dari adiknya.


Pandji berlari seraya menyabetkan pedangnya yang bercahaya biru, Damar Jati memotong dua kaki depan berkuku tajam milik serigala yang sedang melompat menerkam Raksa dari samping.


ARGH!!! AUUU!!!


Makhluk tanpa kaki depan itu meraung memamerkan gigi taringnya, berdiri tegak dengan kedua kaki yang tersisa dan menabrakkan diri pada Pandji.


Satu sabetan dari atas membelah makhluk yang sedang marah itu menjadi dua bagian dari kepala hingga dada. Lolongan pendeknya menghilang tertiup angin malam yang berhembus pelan.


Pandji kembali meminta Mika dan Raksa untuk bertarung tidak jauh agar bisa saling mengawasi.


Dua pedang Pandji secara bergantian menebas leher dan memotong bagian tubuh serigala besar yang paling dekat dengannya.


"Aku merasakan aura tipis yang berbeda dari kawanan ini, Damar!"


"Sebuah wadah, Mas Pandji!"


"Dia masih memiliki elemen kehidupan di tubuhnya, masih manusia. Apa aku benar, Damar?"


Damar Jati bergumam, "Ya, tapi manusia itu sudah merelakan tubuhnya untuk menjadi tempat tinggal iblis."

__ADS_1


Di belakang, di balik kawanan yang jumlahnya masih puluhan berdiri seorang pria dengan seringai aneh dan ekspresi dingin di wajahnya.


Matanya lekat menatap pada Mika yang sedang menari bersama dua belatinya.


Raungan demi raungan di sekitar Mika menghilang tertelan pekatnya malam saat belatinya memutus batang tenggorokan atau menusuk jantung hewan-hewan dengan moncong panjang.


Pria itu kembali menyunggingkan senyumnya, kedua tangannya terentang menghadap ke atas, diikuti kepalanya. Sebaris mantra pemanggil dirapal dan satu makhluk besar tiba-tiba hadir di depannya.


Makhluk yang masih berupa bayangan seperti kabut itu tak lama masuk ke dalam tubuh pria itu lewat lubang nafasnya, mengubah aura pria yang masih berdiri terpejam menjadi sangat pekat dan gelap.


Saat matanya terbuka, bagian putih terlihat jauh lebih banyak, tampak meredup dan minim kehidupan.


Adik Biantara sudah menjelma menjadi manusia baru dengan kekuatan milik makhluk yang bersemayam dalam tubuhnya.


Langkah kakinya berat berjalan ke arah Mika yang sedang sibuk dengan serigala lainnya.


Bukan pedang atau tombak yang biasa dipakai ksatria muda, pria itu membawa kapak hitam dengan dua bilah melengkung di tangannya.


Mika menaikkan sebelah alis dan menatap skeptis pria yang makin dekat dengannya, "Oh kau?"


"Surprise, Mika! Karena kau tidak ke rumahku, jadi aku bermaksud untuk menyapa di tempat tinggalmu. Kau suka kejutan dariku?"


"Psycho!" gumam Mika seraya mengayunkan belatinya ke arah pria yang sudah berada di depannya.


KLANG!!! KLANG!!!


Belati Mika beruntun beradu dengan kapak, cahaya merah terang memercik dari dua logam yang bergesekan dengan keras itu.

__ADS_1


Mika berkelit, kapak yang akan membelah kepalanya hanya mengenai udara kosong. Tidak berhenti, kapak pemuda dua puluh tahun itu memburunya dengan suara seperti lebah mengamuk.


Dua orang yang punya janji bertemu itu berhadapan dengan sengit, saling menyerang dan menghindar. Suara tangkisan Mika beberapa kali disertai teriakan kesal karena masih belum bisa melukai adik Biantara.


"Mundur, Mika!" perintah Pandji yang mulai merapatkan jaraknya ke arah Mika.


Mika membantah tegas, "Tidak! Aku akan disini menghadapinya, untuk Neta sahabatku."


"Paksa Kak Mika masuk, Raksa!" Pandji mengambil alih lawan, tak memberi Mika kesempatan untuk melawan pemuda yang kerasukan iblis di hadapannya.


Raksa dengan sigap membantu Mika menyingkirkan serigala yang sekarang mengepungnya, “Masuk kubah, Kak!”


“Itu tidak mungkin, Raksa! Aku mampu mengatasi ini!”


“Jangan keras kepala, ini perintah Mas Pandji. Kak Mika bisa terluka kalau tetap bertahan di sini!" Raksa mendesak Mika untuk meninggalkan lawannya.


Melihat Mika yang sudah mandi keringat dan nafasnya mulai tak teratur karena kehabisan tenaga dalam, Raksa kembali mengingatkan. "Mundur sekarang, Kak Mika!"


"Tidak … aku masih bisa menghabisi mereka beberapa lagi!"


Raksa memukul bagian belakang leher Mika untuk menghilangkan kesadarannya agar lebih mudah dibawa masuk rumah.


“Apa-apaan kamu, Raksa?!" jerit Mika marah.


Raksa hanya melihat tangannya sekilas dan menyeringai merasakan sakit. Dia merasa seperti menghantam tiang listrik.


Tidak ada perempuan yang mampu tetap berdiri apalagi memarahinya setelah kena pukulan keras Raksa di leher. Mereka pasti akan langsung ambruk pingsan. Raksa tinggal menangkap saat akan jatuh.

__ADS_1


Itu leher apa leher? Harusnya Kak Mika juga pingsan kan?


***


__ADS_2