SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 76


__ADS_3

Udara yang semula dingin mendadak panas. Iblis dalam tubuh Ratna terus melepaskan energi panas dan berusaha membakar Pandji.


Pandji membekukan udara sekitarnya agar tidak terintimidasi dengan kekuatan lawan, elemen es yang keluar dari tubuhnya mampu meredam dan menekan wanita iblis itu hingga mundur menyentuh pagar pelindung.


Raungan marah keluar dari mulut Ratna karena sengatan mana yang mengalir dalam kubah menyentuh punggungnya.


Pandji maju dan menjegal tubuh gadis itu hingga limbung, menangkap lalu membantingnya ke tanah. Dengan tak tega dia bergumam, "Maafkan aku, calon tunangan!"


Menahan leher Ratna dan mengunci pergerakan tubuhnya, Pandji membaca mantra dan mengalirkan mana dalam jumlah yang sangat besar.


Ratna menjerit histeris, tubuhnya kelojotan tak mampu menahan benturan energi. Tenaga dalam Pandji terus mengalir hingga kejang Ratna makin melemah dan tubuhnya terkulai.


Kabut hitam keluar dari tujuh lubang di kepala Ratna membentuk sosok wanita sangat cantik dengan kemarahan memuncak.


Pandji menggambar heksagram secepatnya di dahi Ratna dengan jarinya, mengisinya dengan energi dan membiarkan gadis cantik itu tetap tergeletak di tanah mencari kesadaran sendiri.


Sebelum barrier sihirnya runtuh, Pandji membuat yang baru yang lebih kecil, khusus untuk melindungi Ratna yang masih belum sadar.


Dua pedang merentang di sisi tubuh Pandji saat pagar pelindung mulai meredup dan pecah. Tapi Pandji langsung mengganti dengan yang baru menggunakan energi Asih Jati, pagar pelindung buatannya seperti jaring laba-laba yang menyala semerah bara.

__ADS_1


Pandji sengaja mengurung iblis cantik itu, memisahkannya dari kawanan yang dengan gila tetap menabrakkan diri pada barrier dengan hawa membakar, berusaha merobohkan dan membebaskan pemimpin mereka.


Pandji memburu iblis cantik di depannya yang melapisi diri dengan sisik seperti ular pada seluruh tubuhnya. Perisai dalam bentuk aslinya. Iblis ular.


"Hm … akhirnya bentuk aslimu kelihatan juga, ternyata kau sama sekali tidak mulus!"


Iblis ular menggeliatkan badan, bagian bawah tubuhnya yang semula adalah kaki jenjang dengan bentuk betis paling indah berubah menjadi ekor ular.


Tubuh setengah ular setengah manusia itu menengadah, menatap bulan redup dan mendesis pelan. "Sayang sekali … Cah bagus!"


"Melusine? Aku pikir kau hanya makhluk mitos, ternyata aku malah menjumpainya di depanku. Apanya yang sayang sekali? Aku tidak mungkin tertarik dengan perempuan cantik berekor sepertimu!"


Ekor melusine terlihat berbahaya dan mengandung racun, belum lagi semburan api dari mulut dengan lidah bercabang tidak berhenti menerjang pemuda tampan yang sibuk menghindar sambil menyeringai sinis.


Dalam satu kesempatan Pandji menusuk ekor yang sedang menggelasar di tanah dengan pedang birunya. Pedang itu mengunci pergerakan melusine, ekornya seperti dipaku ke bumi tempatnya berdiri.


Energi dingin Damar Jati membekukan bagian ekor yang tertusuk, merambat ke bagian lain dan mengubah warna ekor melusine yang hijau terang menjadi biru gelap.


Sebelum mencabut pedang biru, Pandji memotong ekor yang membeku itu dengan pedang merahnya.

__ADS_1


KRAK!!!


Suara seperti tulang patah terdengar nyaring saat ekor melusine terlepas dari badan, iblis ular itu limbung dan jatuh karena tak lagi punya tubuh bagian bawah.


Pandji tidak berhenti, pedangnya mengayun memotong kedua tangan melusine secara bergantian hingga tersisa tubuh atas dan kepala saja.


Cairan hitam mengalir deras ke tanah, menghilang terserap bumi dengan cepat.


Pandji meletakkan pedang biru di bawah dagu wanita cantik yang menatapnya nanar, "Ada salam terakhir mungkin?"


Sebelum melusine dengan raut mempesona meludahi Pandji dengan cairan hitam yang ada di dalam mulutnya, Pandji menebas leher jenjang itu tanpa berkedip.


Suara seperti ayam tercekik menghilang bersama dengan hancurnya kepala dan tubuh melusine menjadi ribuan keping es. Menghilang tanpa menimbulkan bekas, hanya bau busuk yang tak lama diterbangkan angin.


Pandji menarik barrier pelindung miliknya, membiarkan dirinya berhadapan langsung dengan maroz yang sedang marah karena tak mampu menyelamatkan panglima ketiga.


Harusnya aku tadi memang mengajak Aswanta, setidaknya dia bisa mengurus makhluk rendahan ini sementara aku berduaan dengan Ratna!


***

__ADS_1


__ADS_2