
Pemuda yang diajak Aswanta meninggalkan kayu yang dipakai melawan maroz di pinggir trotoar. Dia mengangguk menyetujui setelah Aswanta menjelaskan secara singkat kenapa dia harus ikut.
Masuk ke dalam mobil, kedua pemuda itu bernafas dengan lebih lega.
"Ada yang terluka?" tanya Mika yang langsung memutar kepala dan mengamati Aswanta, juga melihat pemuda yang belum dikenalnya. "Mas, namanya siapa? Ada luka terbuka yang harus segera mendapatkan perawatan?"
"Mahesa … aku baik-baik saja," jawab pemuda yang duduk di samping Aswanta.
Aswanta tersenyum lebar, "Aku juga tidak kekurangan apapun, Mika!"
Mika mendelik padanya, panggilan Aswanta padanya mendadak berubah dan terdengar aneh di telinganya. "Kau benar-benar sudah tertular virusnya Pandji!"
Mendengar namanya disebut sebagai penyebar virus tak sopan, Pandji menaikkan kedua alisnya dan menatap perempuan cantik di sebelahnya tajam.
"Jujur saja aku penasaran dengan kejadian barusan, bagaimana kamu bisa bertemu mereka, Mahesa?" tanya Pandji sopan pada pemuda yang ditaksir berumur tak jauh darinya.
"Kami murid baru kesatrian Hargo Baratan, kemarin sore sepulang latihan tiga temanku itu mengeluh sakit kepala dan mual hebat."
"Lalu?" Mika tak sabar mendengarkan cerita dari Mahesa, matanya tajam menuntut penjelasan cepat.
"Aku tak sengaja melihat ada bayangan hitam masuk kedalam tubuh mereka, jadi tadi pagi aku langsung mendatangi mereka dan bermaksud menolong … selanjutnya kalian sudah lihat sendiri tadi," kata Mahesa mengakhiri cerita.
__ADS_1
Mika melihat ke dasar jiwa Mahesa dengan kekuatan sihir pada matanya, magic eyes miliknya mendeteksi adanya kekuatan bawaan lahir yang sama sekali tidak terasah.
"Kau memiliki perisai tubuh yang bagus, sangat alami. Anugrah sejak lahir," ucap Mika dingin.
"Artinya apa?" tanya Mahesa, Kebimbangan terdengar dari intonasi suara yang dia lontarkan.
Pandji menjawab dalam satu kalimat singkat, "Kau berbakat menjadi pelindung, Mahesa!"
"Oh … itu tidak terdengar menyenangkan untukku, aku hanya ingin hidup normal dan menjadi manusia biasa." Mahesa menghembuskan nafas berat dan menatap ke luar dengan pandangan rumit. "Aku tidak bercita-cita menjadi superhero."
“Lalu untuk apa kau belajar bela diri dan ilmu sihir di Hargo Baratan?" tanya Mika kalem. Suara lembutnya menghipnotis.
"Aku baru saja memulai, itu karena adik Ayah yang memaksa. Paman bilang kalau aku … berbakat," jawab Mahesa enggan. "Tapi … melihat ada hal aneh di sana, aku merasa takut, maksudnya aku tidak ingin dirasuki."
Aswanta langsung bicara panjang, menjelaskan misi dan apa saja yang akan didapatkan sebagai ksatria muda Ganendra jika mau bergabung.
"Resikonya tentu saja sangat besar … nyawamu taruhannya!" Mika menimpali datar. "Jadi kalau kau tidak tertarik, lupakan saja penawaran dari Aswanta!"
"Sebagai keluarga yang dulu juga dari trah ksatria, kami memang memiliki bakat-bakat tersimpan. Hanya saja, tidak ada satupun yang berminat dengan kegiatan berbau ilmu kanuragan. Semua memilih mengubur bakat dan menjalani hidup normal kekinian," kata Mahesa lugas.
"Termasuk dirimu?" tanya Pandji heran.
__ADS_1
"Aku berubah pikiran … aku akan bergabung dengan kalian. Karena aku masih awam dengan pertarungan, aku bersedia dilatih lebih keras!" Keputusan Mahesa memuaskan Pandji. Pemuda tampan itu tersenyum tipis.
Pandji sudah punya rencana untuk memompa bakat Mahesa agar mencapai puncak pada waktunya.
Apa yang ada dalam diri Mahesa termasuk langka dan Pandji tidak akan membuang kesempatan emas … Pandji akan menjadikan Mahesa teman seperjuangannya.
“Kita akan ke kesatrian Putra Ganendra … kau bisa memilih teman untuk latih tanding di sana. Pakde Noto akan membimbing secara khusus dan malam nanti kita akan belajar bersama di rumahku!” Pandji memberi penjelasan singkat dan tertawa penuh rahasia pada Mika dan Aswanta.
Banyak teman tidak buruk juga, tapi bisnis tetap bisnis!
Pandji baru saja mau menjalankan mobilnya saat satu pemuda menabrakkan diri dari depan.
"Pahlawan! Dewa penolong … bisakah aku ikut denganmu? Terimalah aku sebagai murid, Guru!" Pemuda konyol yang disuruh Aswanta pulang berubah pikiran, dia berbalik arah dan mengejar penolongnya.
Pandji mengusap pipinya pelan, "Jadi … ini juga calon ksatria muda Ganendra?"
"Eh … bukan begitu, Sobat! Ini salah paham." Aswanta bersiap turun untuk mengusir penggemarnya.
"Aku tak masalah, rekrut saja … aku yakin dia akan berguna!"
Aswanta melongo mendengar keputusan Pandji.
__ADS_1
***