
Warung kopi Cak Gondrong adalah satu dari beberapa yang paling banyak pengunjung di area dekat pasar tempat Pandji dan timnya berhenti untuk istirahat.
Aswanta menemukan tempat itu setelah bertanya pada tiga pemuda selain tukang parkir dan penjual koran.
Pandji memasuki warung paling depan dengan ekspresi tenang. Ketika dia menyuruh Aswanta untuk memesan minuman, mereka justru menjadi pusat perhatian.
Tidak ada satupun dari mereka yang memesan kopi hitam tradisional andalan dan ciri khas warkop Cak Gondrong. Aswanta memesan kopi untuk Pandji dan yang lain dengan menyebut minuman yang biasa dijual mahal ala coffee shop di kota-kota besar.
"As, kau banyak menarik perhatian orang! Baca itu menunya … jangan ngawur kalau pesan," gerutu Mika jengkel. Dia dengan tidak sabar mendatangi penjual yang berada di belakang meja dan etalase, mengambil alih tugas Aswanta memesan kopi. "Duduk aja sama yang lain sana!"
Pandji mencari lokasi duduk yang tidak mencolok, di pojok depan dengan pemandangan kegiatan jual beli dan kepadatan jalan.
Dengan tenang Pandji mengamati seluruh pengunjung warung yang kebanyakan pria sudah berumur dan pekerja kasar. Sesekali terlihat beberapa wanita yang masuk dan membeli minuman dengan sistem bungkus.
Hingga beberapa waktu berlalu, Pandji hanya duduk diam memegang ponsel sambil bermain game. Kadang matanya melirik ke tempat orang yang sedang asyik mengobrol, menguping pembicaraan mereka dengan ekspresi bosan.
Sebenarnya, cukup banyak informasi yang didapatkan Pandji secara diam-diam, misalnya beberapa penjual di pasar yang tidak datang tanpa alasan juga stok yang kosong karena tidak ada pengiriman barang dagangan dari selatan.
Desas desus berita kematian banyak warga desa yang katanya terserang wabah dan tidak diberitakan di media lokal karena masih dalam penyelidikan yang berwenang menarik perhatian Pandji. Dia menajamkan pendengaran untuk menyerap lebih banyak informasi tersebut.
Kemunculan warga desa dengan sikap aneh baru saja dibahas dua orang berpakaian putih dengan peci hitam. Pandji kembali menguping dengan seksama materi itu sambil terus bermain game, mengumpat lirih karena ada suara pelan 'defeat' keluar dari ponselnya. Heronya kalah telak karena dia kurang konsentrasi.
Pandji menyimpan ponsel lalu menyeruput kopi hitam yang tadi dicela Aswanta karena rasanya tidak sesuai keinginan, tapi Pandji berusaha menikmati apa yang tersaji di depannya.
__ADS_1
Pemuda dengan rambut berantakan itu menatap timnya satu persatu yang sibuk dengan koran. Tak terkecuali Mika.
"Apa yang kau dapatkan, Aswanta?" tanya Pandji pada Aswanta yang sedang serius membolak balik kertas murah di tangannya.
"Berita korupsi pejabat, perceraian artis dangdut lokal dan info kuliner serta wisata terbaru," jawab Aswanta dengan mata tak beranjak dari koran.
"Mahesa?" Pandji mencomot jajanan yang tadi dibeli dari nenek tua dan memakannya dengan lahap.
"Olahraga, property, politik … perampokan. Tidak ada yang mencurigakan, berita normal semua!" terang Mahesa kalem, mengangkat sedikit wajah lalu menunduk lagi untuk melanjutkan membaca.
"Pertanian, kriminalitas … maraknya aksi premanisme di desa, cuaca yang lebih dingin dari biasanya!" Tirta membacakan secara singkat artikel yang dimuat koran lokal yang menurutnya aneh. Dia lalu memperlihatkan lembaran berisi berita kecil pada Pandji, "Cuaca ekstrim?"
"Ngapain kamu baca prakiraan cuaca, Tirta?" Aswanta sewot karena sudah ikut menyimak hal yang tidak perlu. "Soal kualitas udara dingin dan analisis cuaca itu pekerjaan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Tidak ada hubungannya dengan aura mistis yang sedang kita selidiki!"
Tanpa memperdulikan protes Aswanta, Tirta membacakan artikel perubahan kondisi cuaca di salah satu kecamatan di kota Jombang tiga hari belakangan. Kondisi yang sebelumnya tidak pernah terjadi itu masih dalam pengamatan lebih lanjut untuk dicari penyebabnya.
Tirta membuka ponsel dan melihat lokasi tersebut pada aplikasi GPS tanpa disuruh. "Lumayan jauh, 45 menit dari sini, ke arah selatan!" kata Tirta tertegun. "Aku curiga ini tempatnya!"
Saat Pandji sedang merenung, tiba-tiba dia mendengar keributan kecil dari dua orang berpeci yang sedang berdebat tentang cara menyembuhkan orang-orang aneh yang mungkin kerasukan setan.
Pandji menoleh ke arah dua orang itu untuk melihat apa yang sedang terjadi, lalu melihat keluar karena banyaknya keributan. Dia baru menyadari, hujan gerimis mulai turun membasahi jalanan.
Pengunjung yang masuk ke dalam warung kopi semakin banyak, mencari alasan berteduh dengan membeli segelas kopi.
__ADS_1
Tidak ingin lebih banyak mendapatkan perhatian, Pandji mengajak timnya bergerak ke selatan.
Mereka berlari cepat ke arah mobil terparkir, menghalangi rintik air yang membasahi kepala dengan tangan di atas kepala.
“Apa kita akan menuju kecamatan yang disebutkan Tirta tadi,” tanya Mika dari balik kemudi.
"Hm … lebih cepat lebih baik, mumpung belum sore!" jawab Pandji.
Aswanta menyahut cepat, "Apa kita menginap di sini nanti? Apa aku perlu memesan hotel sekarang?"
"Tidak! Kita bukan turis, Aswanta … kita sedang dalam misi penyelidikan, dan kita tidak perlu hotel untuk tidur. Jarak tempuh kota dengan desa yang kita tuju terlalu jauh, tidak efektif!" Mika memberikan jawaban setelah melirik pemuda yang terpejam di sebelahnya.
"Apa kau sedang dalam mode mengirit pengeluaran, Sobat?" tanya Aswanta dengan cengiran tak percaya. "Kau membeli jajan pasar, ngajak nongkrong di warkop tak berkelas dan sekarang kita akan tidur di jalan seperti gelandangan?"
Pandji hanya menguap lebar menanggapi pertanyaan Aswanta yang tidak penting untuk dijawab. Dia memilih mengistirahatkan dirinya dalam perjalanan.
Sebelum masuk ke alam mimpi, Pandji masih sempat bertanya pada Mika. “Kamu sudah menyetir dari Yogya, kalau kamu lelah biar Mahesa menggantikanmu!"
“Tidak perlu,” jawab Mika singkat. "Don't mind me!"
“Baiklah, terserah kamu saja!” Pandji melanjutkan tidur, tidak ada gunanya berdebat dengan gadis keras kepala di sebelahnya. "Jangan lupa bangunkan aku setelah sampai di tempat yang diceritakan oma, rumah Pakde Karman!"
***
__ADS_1